BMKG: 25 Provinsi Tidak Hujan Lebih dari 60 Hari, Bantul Terlama

1 hour ago 1

Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut dampak fenomena El Nino 2026 kian luas dan memperparah kekeringan di Indonesia. Tercatat, sebanyak 25 provinsi di Tanah Air kini telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) secara berurutan selama lebih dari 60 hari.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut hingga saat ini wilayah yang mengalami hari tanpa hujan paling ekstrem hingga mengalami kekeringan berada di wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

"Banyak lokasi pengamatan yang sudah melaporkan hari tanpa hujan berurutan lebih dari 60 hari, yaitu tersebar di 25 provinsi, dengan hari tanpa hujan terpanjang saat ini di wilayah Bantul, yaitu sepanjang 131 hari atau lebih dari 4 bulan," kata Ardhasena dalam jumpa pers di kantor BMKG Pusat, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ardhasena memaparkan intensitas El Nino tahun ini tergolong kuat. Data anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik hingga akhir Agustus mencapai angka 2,83, dengan rata-rata triwulanan (Juli-Agustus-September) di angka 2,63.

Secara historis, lanjut dia, El Nino selalu memperpanjang dan memperparah musim kemarau di Indonesia, khususnya wilayah-wilayah yang berada di selatan garis Khatulistiwa. Fenomena ini diprediksi masih akan bertahan hingga awal tahun depan.

Data 25 provinsi tidak hujan lebih dari 60 hariData 25 provinsi tidak hujan lebih dari 60 hari (Rumondang Naibaho/detikcom)

"Untuk yang sekarang ini bertahan paling tidak hingga akhir kuartal pertama tahun 2027, ya. Tetapi dampaknya pada kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya kita ke musim hujan," jelasnya.

Ardhasena melanjutkan dampak anomali iklim tahun ini bahkan menciptakan anomali pada zona iklim Indonesia. Wilayah yang secara alamiah terbiasa diguyur hujan sepanjang tahun pun kini ikut terdampak kemarau.

"Secara klimatologis, Indonesia memiliki 110 zona musim atau 33% dari luas daratan yang karakteristik iklimnya adalah musim hujan sepanjang tahun," terang dia.

"Namun untuk 2026 ini, 98 zona musimnya itu mengalami musim kemarau karena dampak anomali hujan lebih rendah akibat El Nino, sementara 12 zona musim yang lain tetap sama seperti klimatologinya," pungkas Ardhasena.

(ond/yld)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |