Anggota Divisi Hubungan Internasional Polri Brigadir Renita Rismayanti meraih Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Inovatif. Dia membuat inovasi di bidang pendataan saat bertugas di United Nations Police (UNPOL) dalam Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA).
Malam puncak penganugerahan Hoegeng Awards 2026 ini digelar di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026). Acara ini disiarkan langsung oleh detikcom.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Chairman of CT Corp Chairul Tanjung (CT) menghadiri Hoegeng Awards 2026. Sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara juga hadir dalam acara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghargaan Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Inovatif ini dibacakan oleh anggota Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026, Anggota Kompolnas Gufron Mabruri. Trofi untuk Brigadir Renita Rismayanti diberikan oleh Ketua MPR Ahmad Muzani.
Pengumuman penerima penghargaan ini menandai tahap akhir dari rangkaian panjang seleksi Hoegeng Awards 2026 yang berlangsung sejak awal tahun. Proses seleksi melibatkan lima Dewan Pakar dari berbagai unsur masyarakat yaitu Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, S.Psi., MM, Mantan Plt Pimpinan KPK Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., anggota Kompolnas Gufron Mabruri, dan Ketua Komisi III DPR, Dr. Habiburokhman, S.H., M.H.
Inovasi Brigadir Renita Rismayanti
Saat bertugas di Republik Afrika Tengah, Brigadir Renita melakukan migrasi data kriminal UN Police hingga mendapatkan penghargaan dari PBB. Dia bertugas dalam misi MINUSCA pada tahun 2023-2024. Saat itu, Renita ditugaskan sebagai Petugas Basis Database Kriminal (Crime Database Officer).
"Awal penugasan saya, setelah saya tiba di negara tersebut, saya diperkenalkan dengan negara yang masih banyak sekali terjadi konflik di sana. Jadi berbeda sekali dengan negara kita Indonesia," kata Renita dalam wawancara kandidat Hoegeng Awards 2026.
"Penempatan pertama saya di sana ditempatkan di seksi analis kriminal unit database kriminal. Sebagai officer di unit database kriminal, pekerjaan saya di sana sehari-hari yaitu melakukan register atas seluruh tindak pidana kriminal yang ada di negara tersebut," tambahnya.
Pada saat ditempatkan di Afrika Tengah, Brigadir Renita melihat pendataan kasus kriminal masih manual. Dia kemudian mendapatkan penugasan agar data direkam secara digital dan bisa langsung tersambung ke Markas UNPOL.
"Chief Section saya mempunyai ide untuk mengotomatisasikan register tersebut ke platform yang sudah dimiliki UN. Namun platform tersebut belum sempurna, kemudian dibentuklah UNPOL Case Management, setelah platform tersebut terbentuk, pekerjaan kita sangat terbantu, kemudian kita bisa generate statistik-statistik yang diperlukan oleh atasan di misi dengan cepat dan juga real time," ucapnya.
Selain data UNPOL, Brigadir Renita juga memigrasi data kriminal kepolisian Afrika Tengah. Pada saat itu masih banyak pelaku kriminal yang belum terdata sehingga masih berkeliaran bebas.
"Saya juga handle sebuah proyek besar dari MINUSCA yaitu instalasi database untuk polisi lokal di sana. Sebelumnya polisi lokal di sana belum memiliki database kriminal sama sekali. Sehingga masih banyak pelaku kriminal yang belum ditangkap dan masih berkeliaran di masyarakat sekitar," ujar Renita.
"Lalu kita kita membuat hot spot map yang isinya adalah titik-titik yang paling kriminogen di sana yang nantinya untuk membantu personel PBB yang lain dalam melakukan patroli," sambungnya.
Atas inovasi yang dilakukan itu, Renita mendapatkan penghargaan Women Police of The Year 2023. Renita adalah Polwan RI pertama yang menerima penghargaan tersebut.
Simak selengkapnya di sini.
(fas/knv)















































