Jakarta -
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) menghadiri pembukaan Lampung Begawi x Siger Fest 2026 yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (Kanwil BI) Provinsi Lampung, di Lampung City Mall. Mirza menyampaikan apresiasi atas kolaborasi strategis bersama BI yang berhasil mengintegrasikan ruang temu ide, inovasi, investasi, serta kolaborasi lintas sektoral.
"Idenya Siger Fest ini bagaimana mempertemukan ide, inovasi, investasi, dan kolaborasi. Ini sangat penting sekali bagi kami," tegas Mirza, dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/9/2026).
"Kami sadar kita punya target bagaimana kita harus tumbuh 8% ke depan untuk mencapai Indonesia Emas 2045," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mirza memaparkan profil komparatif Lampung sebagai lumbung pangan strategis Indonesia. Produksi gabah atau padi Lampung menembus 3,5 juta ton dengan separuhnya didistribusikan guna menyuplai kebutuhan pangan lintas provinsi.
Selain surplus jagung yang menopang industri unggas dan telur wilayah DKI Jakarta dan Pulau Jawa, Lampung menyuplai 70% tapioka nasional sekaligus menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia, eksportir 60% kopi nasional, produsen lada terbesar, serta penghasil gula peringkat kedua.
Namun demikian, Mirza mengungkapkan selama puluhan tahun limpahan kekayaan agraris belum dirasakan optimal bagi kesejahteraan petani akibat volatilitas harga komoditas mentah.
Titik balik fundamental terjadi melalui intervensi perlindungan komoditas di era Presiden RI Prabowo Subianto yang berhasil mengungkit pendapatan petani dan mendongkrak laju ekonomi daerah.
"Selama 15 tahun, Provinsi Lampung ini pertumbuhan ekonominya selalu di bawah rata-rata nasional. 2026 kemarin kita nomor dua tertinggi se-Sumatera, jadi setelah Kepri, Lampung, karena harga komoditas," ujar Mirza.
Geliat ekonomi perdesaan juga tercermin dari likuiditas perbankan lewat Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh hampir 7% secara tahunan (Year-on-Year). Ke depan, Mirza menekankan keberlanjutan ekspansi ekonomi tidak dapat terus disandarkan semata pada intervensi kebijakan tata niaga.
Hilirisasi industri yang saat ini baru mencakup 30% dari total komoditas lokal dipatok menjadi prioritas utama daerah sejalan dengan mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
"Hari ini kami tumbuh karena didukung oleh kebijakannya Presiden (Prabowo), dipaksa naik harganya. Tapi ke depan untuk mencapai 8% tidak bisa hanya dengan regulasi," kata Mirza.
"Harus ada kolaborasi, harus ada kreativitas, harus ada inovasi, dan tentunya yang paling penting sesuai dengan RPJMN kita harus melakukan hilirisasi. Kami melihat baru 30% komoditas kami yang dihilirisasi di Lampung," sambungnya.
Strategi hilirisasi dirancang adaptif ke dalam dua pendekatan, hilirisasi skala sentra perdesaan (industri pakan ayam lokal, penanganan pascapanen kopi dan kakao) serta hilirisasi skala lanjut (advance downstreaming) pada kawasan industri manufaktur.
Dorongan nilai tambah ini berjalan beriringan dengan lonjakan adopsi teknologi pertanian pasca kenaikan hasil panen, di mana belanja alat mesin pertanian (alsintan) di Lampung naik hampir 200% dan armada logistik truk naik 50%.
Potensi akselerasi turut disokong oleh diversifikasi sektor energi baru terbarukan (sustainable energy) serta lompatan sektor pariwisata yang membukukan lonjakan arus wisatawan domestik hingga 60% (dari 17 juta pelancong pada 2024 menjadi 27 juta kunjungan pada 2025). Ditambah rasio demografi unggul dimana 71% dari populasi Lampung tergolong angkatan kerja produktif.
Mengakhiri sambutannya, Mirza mengajak otoritas moneter pusat dan perbankan mengawal deregulasi guna menuntaskan potensi sumbatan alur perizinan investasi (bottlenecking).
"Saya yakin salah satu fondasi kemajuan Indonesia itu syaratnya cuma satu, ketika daerah-daerahnya menjadi kuat. Fondasi utama pertumbuhan ekonomi kedepan ketika pertumbuhan di daerah itu akan kuat," tegas Mirza.
"Ketika Lampung tumbuh, Lampung maju, ekonomi masyarakat makmur, cita-cita presiden kita akan tercapai, Indonesia akan jauh lebih makmur ke depan," sambungnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Thomas AM Djiwandono mengapresiasi capaian solid pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang menembus angka 5,29% pada triwulan II-2026. Capaian tersebut menempatkan Provinsi Lampung sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Sumatera.
Thomas menjelaskan laju pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian tersebut merupakan buah kerja keras pimpinan daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
Meski demikian, ia mengingatkan tantangan utama ke depan adalah bagaimana pertumbuhan tersebut menghadirkan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui hilirisasi dan masuknya investasi.
"Tantangannya bukan hanya bagaimana ekonomi tumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan nilai tambah yang semakin luas bagi masyarakat. Karena itu, seperti Pak Gub sampaikan, hilirisasi dan investasi menjadi luar biasa pentingnya," ujar Thomas.
Thomas menjelaskan sejalan dengan amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), BI kini tidak hanya berfokus pada stabilitas moneter dan inflasi, melainkan turut aktif mendorong pertumbuhan sektor ekonomi riil.
Di tingkat pusat, sinergi dibangun secara terpadu bersama Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang berperan sebagai katalis investasi. BI juga siap menggerakkan jaringan kanwil dan perwakilan luar negeri guna menarik minat investor ke berbagai potensi unggulan Lampung.
Terkait pemberdayaan ekonomi kerakyatan, Thomas memaparkan tiga pendekatan strategis BI dalam mengawal Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yakni penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas manajerial dan mutu produk, serta perluasan akses pembiayaan. Komoditas unggulan Lampung seperti olahan pisang, kopi, dan wastra terus didorong agar mampu menembus rantai pasok global serta pasar ekspor.
Langkah penguatan tersebut diperkuat dengan percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Berdasarkan data BI, hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 1,6 juta pengguna QRIS di Lampung atau tumbuh 17,38% (YoY), dengan keterlibatan 916.000 merchant yang tumbuh signifikan sebesar 29,29% (YoY).
Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung Bimo Epyanto menerangkan penyelenggaraan Lampung Begawi tahun ini membawa konsep baru yang lebih komprehensif dibandingkan perhelatan sebelumnya. Jika sebelumnya berfokus pada pameran produk UMKM, tahun ini turut diorientasikan pada pemetaan sumber pertumbuhan ekonomi baru dan pembukaan ruang investasi.
"Sebelumnya kegiatan seperti ini murni merupakan showcasing dari produk UMKM. Namun demikian, pada tahun ini kami coba untuk memberikan warna bahwa kami ingin menyampaikan informasi apa yang sudah kami lakukan," ujar Bimo.
"Jadi tidak hanya berkaitan dengan pengembangan UMKM, tapi bagaimana kami juga bisa bekerjasama dengan provinsi dan kabupaten/kota di Provinsi Lampung untuk bersama-sama meningkatkan pertumbuhan ekonomi, utamanya tentu saja memberikan nilai tambah bagi produk unggulan Provinsi Lampung," sambungnya.
Terkait percepatan transformasi digital, Bimo menekankan digitalisasi bukan semata-mata pencegahan kebocoran penerimaan, melainkan motor penggerak efisiensi kegiatan ekonomi regional secara menyeluruh.
"Digitalisasi, kami percaya bahwa ini merupakan upaya efisiensi. Bagaimana efisiensi juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," jelas Bimo.
"Efisiensi tidak hanya berkaitan dengan untuk bagaimana mengurangi kebocoran pada pengelolaan anggaran, tapi juga efisiensi ekonomi secara umum. Di sinilah kenapa kami secara gencar mempercepat dan memperluas ekosistem ekonomi keuangan digital di daerah," pungkasnya.
(akn/ega)


















































