Asep Supriatna sudah 21 tahun bekerja di Lapas Kelas IIA Garut. Ia masuk sebagai petugas pada 2005 dengan bekal pendidikan keperawatan. Saat itu, pekerjaan pertamanya adalah menjadi perawat bagi warga binaan atau narapidana (napi).
Dua dekade berlalu, Asep kini menjabat Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Garut. Ia menceritakan berbagai perubahan di dalam lapas, mulai dari pelayanan kesehatan, pola pembinaan hingga pola pikir petugas lapas dalam menyikapi napi.
Asep mengatakan pada masa awalnya bertugas, pemasyarakatan masih lebih banyak berfokus pada pengamanan. Pembinaan sudah ada, tetapi menurutnya lebih menonjol pada pembinaan kepribadian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang saya tahu Pemasyarakatan saat itu hanya berfokusnya pada pengamanan warga binaan saja. Meskipun sisi pembinaannya ada, tapi lebih menonjol itu di bidang pembinaan kepribadiannya. Kalau untuk kemandiriannya seperti sekarang tidak terlalu menonjol," kata Asep saat ditemui detikcom di Lapas Garut, Jawa Barat (Jabar) pada Rabu (19/8/2026).
Perubahan mulai dirasakan Asep sekitar 2010, ketika itu, ia masih bertugas di bidang kesehatan. Menurut Asep, adanya nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Sosial terkait pelayanan kesehatan di lapas membuat layanan kesehatan bagi napi semakin baik.
"Sebelum 2010 kekurangan SDM, kekurangan sarana prasarana sehingga pelayanan kesehatan di lembaga itu menurut saya sangat kurang. Pada saat itu kecepatan bertindak pun kita agak terlambat karena dokternya hanya bantuan dari puskesmas," tuturnya.
Setelah kerja sama tersebut berjalan, kata Asep, mulai tersedia perawat kesehatan definitif. Warga binaan yang membutuhkan perawatan lanjutan juga lebih mudah mendapatkan layanan rumah sakit, termasuk dari sisi administrasi pembiayaan.
"Kalau ada pasien yang perlu perawatan lanjut di rumah sakit, dalam hal administrasi alhamdulillah pelayanan semua bisa gratis," ujar Asep.
Lapas Garut kemudian memiliki dokter sendiri sekitar 2022.
15 Tahun Jadi Perawat
Asep menghabiskan sekitar 15 tahun kariernya di Lapas Garut sebagai perawat napi.
Pada 2018, Asep mengatakan dirinya diusulkan oleh Kalapas kala itu untuk mengikuti open bidding sebagai bagian dari promosi jabatan Kepala Subseksi Kegiatan Kerja.
Asep sempat kembali lagi ke bidang kesehatan setelah diusulkan menjadi Kepala Subseksi Keperawatan. Sekitar setahun kemudian, peningkatan kelas Lapas Garut menjadi Kelas IIA kembali membawanya mendapatkan promosi di jabatannya saat ini.
Perubahan struktur kementerian kemudian ikut mengubah bidang yang ditanganinya. Asep menyebut kebijakan Asta Cita Presiden serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan menempatkan kegiatan kerja, ketahanan pangan dan UMKM sebagai bagian dari program yang prioritas dijalankan.
Perubahan itu terasa bagi Asep karena ia pernah mengalami masa ketika kegiatan kerja warga binaan masih terbatas. "Sebelumnya kegiatan kerja di lapas itu hanya terfokus ke pelatihan. Adapun yang sifatnya kegiatan lainnya itu tidak terlalu signifikan seperti sekarang," terang Asep.
Dari Hanya Peternakan Ayam hingga 24 Macam Pekerjaan
Keterlibatan pihak ketiga dalam kegiatan kemandirian di Lapas Garut mulai terlihat pada 2019. Menurut Asep, ketika itu terdapat kerja sama lapas dengan pihak swasta untuk memberdayakan napi di peternakan ayam pedaging dengan kapasitas sekitar 14.000 ekor.
Namun jumlah warga binaan yang dapat terlibat masih sedikit.
"Dulu kandang ayam hanya menyerap tenaga kerja napi nol koma sekian persen karena tenaga kerja kita hanya tiga orang, paling banyak pun lima orang. Sedangkan jumlah napi sekitar 500 orang," ungkap Asep.
Kegiatan kemandirian lainnya juga belum memiliki pasar yang berkelanjutan. Untuk produk kerajinan tangan, misalnya, produksi banyak bergantung pada pesanan.
Sampai sebelum Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dilantik, menurut Asep, belum terdapat penambahan signifikan kegiatan pemberdayaan kemandirian di Lapas Garut. Namun jondisinya kini disebut berubah.
Asep mengatakan lebih dari 30 persen warga binaan kini terserap dalam kegiatan kerja. Sementara warga binaan lainnya mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari kebersihan, pembinaan kepribadian, kepramukaan hingga pesantren.
Lapas Garut saat ini memiliki 24 kegiatan kemandirian. Asep menyebut hampir seluruh kegiatan tersebut sudah menghasilkan untuk napi dari sisi ekonomi.
"Kalau ada peralihan Kemenkumham ke Imipas yang saya sangat rasakan itu peningkatan pembinaan kegiatan kerja. Karena apa yang diprogramkan saat ini sangat berpengaruh sekali," ujarnya.
Minat dan Bakat Napi Dipetakan
Asep bersama Kalapas Kelas IIA Garut Rusdedy kemudian menggunakan strategi berbeda untuk mendorong lebih banyak napi mengikuti kegiatan kerja karena diyakini berguna sebagai 'bekal' setelah menyelesaikan masa pidana. Pemetaan minat dan bakat dilakukan sejak awal warga binaan masuk.
"Strategi saya bersama Pak Kalapas untuk membuat napi tertarik di bimbingan kerja dengan cara hari pertama dia masuk, kita sudah screening minat dan bakat," ujarnya.
Bagi warga binaan yang belum mempunyai keterampilan tertentu, mereka dapat diarahkan ke pekerjaan yang relatif mudah dipelajari dan mampu menampung banyak orang, salah satunya produksi coir sheet berbahan serat sabut kelapa.
Kegiatan tersebut bahkan sudah diperkenalkan ketika warga binaan menjalani masa pengenalan lingkungan atau mapenaling.
"Mereka bahkan pada saat mapenaling pun diwajibkan untuk belajar itu, sehingga harapannya ketika dia turun ke blok sudah siap bekerja dan sudah bisa," katanya.
Asep mengatakan pendekatan itu juga dimaksudkan untuk mengenalkan bahwa kegiatan kerja bukan sekadar cara mengisi waktu selama menjalani pidana. Ada aspek ekonomi yang bisa diperoleh warga binaan.
Seluruh kegiatan kemandirian, kata Asep, memberikan premi. Ia bahkan menemukan warga binaan yang menggunakan penghasilan dari kegiatan tersebut untuk membantu mengganti ongkos perjalanan keluarganya ketika datang berkunjung.
Tak Sekadar Petugas Jaga
Bukan hanya fasilitas dan kegiatan kerja yang menurut Asep berubah dalam 21 tahun terakhir. Cara petugas menempatkan diri terhadap warga binaan juga mengalami perubahan.
"Kalau dulu awal-awal saya menjadi pegawai lapas itu memposisikan petugas lapas ya sebagai petugas," jelas Asep.
"Kalau sekarang yang saya rasakan kita sebagai orang tua warga binaan, kadang menempatkan diri sebagai saudara mereka dan bahkan sebagai teman mereka," imbuh dia.
Dia pun bercerita ada satu nama napi yang sampai sekarang lekat diingatnya, yakni Jefri asal Aceh. Saat Asep masih menjadi petugas kesehatan, Jefri hampir setiap hari datang ke klinik.
Keluhannya bermacam-macam. Kadang demam, kadang gatal, lalu berganti dengan keluhan lain.
Asep kemudian mengajaknya berbicara lebih jauh. Dari percakapan itu, ia mengetahui Jefri sebenarnya datang ke klinik bukan karena selalu sakit.
"Ternyata setelah saya ajak ngobrol tentang keluhan, jawabannya dia ke klinik hanya cari refreshing saja," kata Asep.
Asep kemudian mengarahkannya ke kegiatan lain. Jefri diminta datang ke masjid dan belajar agama. Saat itu, kata Asep, Jefri belum bisa membaca Al-Qur'an.
Hingga saban sore Asep mendatangi dan mengarahkan Jefri untuk belajar agama. Akhirnya frekuensi Jefri mendatangi klinik berkurang menjadi sekitar dua minggu sekali. Lama-kelamaan Jefri hanya datang ketika benar-benar sakit.
"Karena dia mendapatkan ketenangan di masjid ternyata. Sebetulnya keluhannya di psikisnya dia," ujar Asep.
Ketika akhirnya bebas, Asep mengatakan Jefri telah beberapa kali khatam Al-Qur'an.
Cerita Residivis yang Memilih Kembali ke Lapas
Dari berbagai perubahan yang disaksikannya, Asep melihat satu persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dari balik tembok lapas yaitu penerimaan masyarakat ketika warga binaan kembali ke lingkungan asal. Menurut Asep, stigma terhadap eks napi masih kuat.
"Kalau boleh saya bilang cara berpikir masyarakat itu masih menganggap warga binaan itu orang jahat, dan menstigma mereka masih jelek," lirihnya sambil tersenyum getir.
Asep mengaku pernah mendengar cerita mantan napi yang baru bebas dan kembali ke kampung halaman. Ketika terjadi pencurian di lingkungan sekitarnya, napi tersebut langsung dicurigai padahal bukan dia pelakunya.
Asep bahkan pernah bertanya kepada seorang residivis mengapa kembali melakukan tindak pidana setelah bebas. Menurut Asep, ada mantan napi yang pada akhirnya menjadi residivis untuk kembali ke lingkungan lapas yang dianggap lebih menerima dirinya.
"Jawaban mereka, ya mereka lebih nyaman dengan yang menerima, bukan sifatnya menceramahi. Harapan saya itu ada wadah kerja untuk mereka setelah pulang dari sini," kata Asep.
Asep menilai keberadaan pekerjaan dan lingkungan yang menerima mantan napi penting agar manfaat dari keterampilan yang telah diperoleh selama di lapas benar-benar terasa. Pun, lanjut Asep, napi tak buntu arah.
"Saya yakin mereka punya hati yang bersih dan pasti punya sisi yang buruk juga. Mungkin jika ada wadah di luar yang bisa menyalurkan bakat mereka, seolah masuk ke komunitasnya, mungkin mereka akan merasa nyaman kembali," katanya.
Berharap Banyak Pihak 'Masuk' Lapas
Setelah 21 tahun bekerja, Asep masih melihat sejumlah pekerjaan yang perlu dilakukan, salah satunya pendidikan. Asep menjelaskan masih banyak warga binaan Lapas Garut yang memiliki tingkat pendidikan rendah.
Ia berharap pemerintah daerah, instansi pendidikan, hingga organisasi sosial ikut terlibat dalam pembinaan. Asep menekankan napi juga tetap mempunyai hak terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan dan keterampilan meski sedang menjalani pidana.
"Karena kita juga memerlukan dukungan dari pihak eksternal, juga pihak internal. Karena warga binaan semuanya punya hak yang sama dengan yang tidak dipenjara: hak pendidikan, kesehatan dan keterampilannya," Asep menekankan.
Bagi Asep, persoalan yang membawa seseorang masuk penjara juga tidak bisa dilihat hanya dari jenis tindak pidananya. Ia melihat ada persoalan yang lebih kompleks di belakangnya, mulai dari pendidikan agama, lingkungan sosial hingga ekonomi.
"Saya selalu mengatakan bukan narkoba atau pencurian yang membuat mereka masuk ke sini, tapi karena pondasi agamanya kurang. Selain agama, yang mengantarkan mereka ke sini adalah faktor sosialnya tidak bagus dan ekonominya kurang," pungkas Asep.
(aud/maa)

















































