Jakarta -
Media sosial (medsos) sempat diramaikan oleh kabar pengemudi ojek online (ojol) jadi korban pungutan liar (pungli) di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat (Jakpus). Polisi memastikan kabar tersebut tidak benar alias hoaks.
"(Kabar ojol kena pungli) hoaks," kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri, Kamis (6/8/2026).
Erlyn juga mengirimkan video klarifikasi dari para driver ojol di Stasiun Juanda. Klarifikasi dari pihak driver ojol disampaikan Ground Staff Juanda, Reza.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia meluruskan kabar pungli terhadap driver ojol yang beredar di medsos. Dalam video yang beredar, terlihat ada seorang berpakaian bebas yang disebut sebagai ojek pangkalan (opang) yang menghampiri driver ojol yang sedang berbaris dalam kondisi mengendarai motor.
Reza menegaskan opang tersebut tidak meminta uang, melainkan membagikan nomor antrean kepada para driver ojol. Antrean itu dibuat untuk membuat kondisi di lokasi lebih teratur.
"Itu tuh ada kesalahpahaman. Jadi kita tuh sudah berkolaborasi sama opang. Di video tersebut tuh menyebutkan bahwa opang meminta uang terhadap driver-driver kita. Padahal itu nggak," kata Reza dalam video yang diterima detikcom.
Dia mengatakan opang di Stasiun Juanda bekerja sama dengan driver ojol. Dia mengatakan nomor antrean diberikan agar tak ada rebutan penumpang.
"Jadi, di sini tuh, di Juanda itu, dia tuh harus pakai nomor antrean agar berjalan sesuai lancar dan nggak berebutan," ujar dia.
"Jadi, tidak ada unsur untuk meminta uang terhadap driver. Itu sama sekali nggak, saya yang bertanggung jawab di sini. Dimohon untuk yang membuat video tersebut, saya tunggu iktikad baiknya," tambah Reza.
(jbr/mei)

















































