Prediksi BMKG: El Nino Aktif Mulai Pertengahan 2026 hingga Awal 2027

5 hours ago 3

Jakarta -

BMKG memprediksi fenomena El Nino segera aktif pada pertengahan tahun 2026 hingga awal tahun 2027. BMKG meminta agar stakeholder terkait segera melakukan antisipasi dan mitigasi dampak El Nino yang dapat berpengaruh menekan curah hujan tersebut.

"Prediksi El Nino yang terjadi mulai pertengahan tahun 2026 dengan peluang intensitas El Nino pada kategori moderat sebesar 98%, dan kategori kuat sebesar 62%," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers, Rabu (10/6/2026).

BMKG meminta agar pemerintah segera melakukan antisipasi dan mitigasi dampak El Nino yang dapat berpengaruh menekan curah hujan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penyusunan informasi pemutakhiran ini dimaksudkan sebagai referensi untuk mendukung perencanaan dan mitigasi risiko di berbagai sektor, antara lain pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kehutanan, kebencanaan dan perikanan," katanya.

Ia mengatakan informasi dari BMKG ini dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalisasikan berbagai peluang yang muncul selama musim kemarau, seperti peningkatan produktifitas komoditas hortikultura dan peningkatan potensi produksi garam akibat kondisi iklim yang mendukung, serta peningkatan hasil tangkapan ikan di bebrapa wilayah peraian yang dipengaruhi fenomena upweling.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan berdasarkan monitoring di wilayah Samudera Pasifik hingga akhir bulan Mei 2026, menunjukkan nilai anomali suhu muka laut di pasifik positif +1,0, sedangkan di samudera hindia pemantauan suhu laut menunjukkan indeks IOD sebesar -0,56.

BMKG mencatat anomali suhu muka laut di samudera pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batasan netral selama 5 dasarian. Oleh karenanya BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif.

"BMKG memprediksi bahwa fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027, dengan peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98% saat ini peluangnya dan mencapai kategori kuat sebesar 62% peluangnya saat ini," kata Ardhasena.

Sementara itu di Samudera Hindia terdapat kemungkinan terjadinya fenomena IOD positif pada periode bulan Juli hingga November 2026. Ardhasena mengatakan fenomena El Nino tidak hanya menyebabkan penyimpangan iklim di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia dengan pola dan periode dampak yang berbeda.

"Untuk wilayah Indonesia dengan gambar kecokelatan itu kita terpengaruh untuk menekan curah hujan, jadi kondisinya lebih kering pada bulan Juni hingga Januari pada umumnya. Namun perlu dicatat nanti bahwa sekitar bulan Oktober akhir kita sudah memasuki musim hujan sehingga ini merupakan gambaran secara umum bagaimana karakteristik El Nino mempengaruhi iklim di dunia," ujarnya.

Prediksi Musim Kemarau 2026

Lebih lanjut, BMKG juga melakukan pemutakhiran informasi prediksi musim kemarau tahun 2026 yang dibayangi kondisi El Nino tersebut. BMKG mengatakan dalam beberapa waktu ke depan sejumlah wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau.

"BMKG melakukan pemutakhiran prediksi musim kemarau dalam beberapa waktu ke depan akan semakin banyak wilayah Indonesia yang memasuki musim kemarau," katanya.

Adapun wilayah yang diprediksi memasuki musim kemarau pada bulan Juni atau dalam waktu terdekat ini adalah sebanyak 198 zona musim atau mencakup 31,6% luas daratan wilayah Indonesia. Rinciannya adalah sebagian besar Sumatera, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, DKI bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, sebagian kecil Jawa timur, Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan bagian tengah, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan Papua bagian timur.

Sementara itu pada bulan Juli BMKG memperkirakan ada 66 zona musim atau mencakup 7,26% luas daratan Indonesia diprediksi masuk musim kemarau. Diantaranya wilayah jambi bagian barat, kalimantan timur, kalimantan selatan bagian timur, sebagian besar sulawesi, sebagian maluku.

"Jika kita bandingkan terhadap rata-rata klimatologi jangka panjangnya, maka awal musim kemarau 2026 ini sama staetmentnya dengan press rilis pada bulan maret 2026 lalu yaitu memiliki kecenderungan maju pada 308 zona musim yang mencakup 39,77% luas daratan Indonesia," ujarnya.

"Sementara yang sama dengan normalnya yaitu 165 zona musim yaitu mencakup 17,03% luas daratan Indonesia, dan wilayah yang mundur sebanyak 113 zona musim atau mencakup 9,52% luas daratan Indonesia," tambahnya.

Simak juga Video 'PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Bahaya El Nino':

(yld/imk)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |