Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG di Papua: Masaknya Kecepetan

13 hours ago 2

Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap penyebab banyaknya kasus keracunan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua. Menurutnya, keracunan ini disebabkan oleh dapur MBG atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang memasak makanan terlalu cepat atau sejak malam hari.

"Jam 7 malam di hari sebelumnya sudah mulai masak. Sehingga diberikan di jam 11 dan ada beberapa juga yang keracunan. Saya lihat ini kita ngomongin yang Papua ya, jadi masaknya kecepetan, kemudian saat dibawa itu sudah dalam kondisi rusak," kata Sudaryono kepada wartawan seusai rapat di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

Selain itu, Sudaryono menyebut ada siswa penerima MBG yang baru memakan hidangannya sepulang sekolah. Hal ini, menurutnya, membuat makanan sudah tidak segar saat dikonsumsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan beberapa laporan yang kami terima dan masih kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi yang harusnya dimakan jam 11, dia bawa pulang dan baru dimakan pukul 15.00 WIB atau pukul 16.00 WIB, jadi sudah rusak," ungkapnya.

Tak hanya itu, Sudaryono mengatakan imbas makanan MBG yang tidak segar dibawa pulang dan ikut dimakan oleh anggota keluarga lain. Ujungnya, anggota keluarga lain ikut keracunan.

"Yang kemudian keracunan bukan hanya anaknya, tetapi juga bapak, ibunya, atau saudaranya yang ikut makan. Ini tentu saja menjadi catatan. Intinya, tidak boleh ada," jelasnya.

Selanjutnya, Sudaryono akan membuat aturan terstandar untuk mengantisipasi keracunan di masa mendatang. Dia ingin program MBG menerapkan batas waktu baik dikonsumsi (best before).

"Termasuk kami ingin memastikan semua pengiriman itu, dari kapan matang sampai dengan dikonsumsi, harus sesuai standar. Tidak boleh lebih dari 4 jam kalau tidak salah, sehingga ada best before atau 'sebaiknya dikonsumsi sebelum'," tegasnya.

Selain itu, Sudaryono ingin para guru di kelas dapat menikmati MBG. Nantinya akan ada penanggung jawab untuk mendistribusikan MBG tanpa membebani guru.

"Nah, itu dari sisi edukasinya ingin kami perkuat. Bagaimana guru yang mengajar di kelas itu juga mendapatkan MBG tanpa direpotkan, karena di sekolah sudah ada PIC sekolah. Guru tersebut kemudian ikut makan bareng siswanya untuk fungsi edukasi. Tata kramanya, cuci tangannya, mengantrenya, menyusun omprengnya itu kan bagus, berdoa, kemudian bilang alhamdulillah dan lain-lain," ucapnya.

"Kedua, guru memberikan edukasi gizi, bahwasanya gizi ini penting. Selain itu juga memberikan edukasi agar barang ini jangan dibawa pulang. Maksud saya, ini penting untuk tidak dibawa pulang," imbuhnya.

Sudaryono menuturkan hal ini sudah dibicarakan dengan Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Dia ingin edukasi tersebut diterapkan di setiap sekolah.

"Jangan sampai makanan ini, kan namanya MBG tidak ada pengawetnya, pasti cepat basi kalau tidak sesuai. Apalagi daerahnya panas, ada faktor suhu dan lain-lain yang memicu perkembangan bakteri. Nah, itu yang ingin kami perkuat di sisi edukasi. Kami sudah bicara dengan Pak Menteri Dikdasmen, ini menjadi materi penting di semua sekolah, penting sekali," katanya.

(rdp/rdp)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |