Kemendikti-BRIN Minta Keterangan 4 WNI Terkait Dugaan Pemalsuan Riset Lusa

3 hours ago 5

Jakarta -

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus mengusut dugaan pemalsuan riset yang dilakukan oleh empat orang warga negara Indonesia (WNI). Keempatnya akan dimintai keterangan oleh Kemendiktisaintek.

"Sudah (dimintai keterangan) oleh UNY. Jumat ini akan dimintai keterangan oleh tim bersama Kemdiktisaintek, BRIN dan UNY," kata Mediktisaintk Brian Yuliarto saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, Kemendiktisaintek membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus tersebut. Tim investigasi dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemdiktisaintek, Nur Syarifah.

Mendikti Brian Yuliarto menuturkan dugaan pelanggaran berpotensi merusak kredibilitas riset Indonesia. Untuk itu pihaknya menindaklanjuti dan membentuk tim investigasi.

"Integritas akademik merupakan fondasi utama kemajuan ilmu pengetahuan. Kepercayaan publik terhadap hasil riset dibangun melalui kejujuran, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap etika ilmiah. Karena itu, setiap dugaan pelanggaran yang berpotensi merusak kredibilitas riset Indonesia harus ditindaklanjuti secara serius dan objektif," kata Brian.

Brian menuturkan Kemdiktisaintek dan BRIN sepakat memperkuat koordinasi dalam penanganan kasus ini, termasuk menjalin komunikasi dengan aparat penegak hukum untuk mencari delik hukum yang memungkinkan diproses lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Kemdiktisaintek dan BRIN juga tengah mengkaji berbagai langkah administratif dan pidana yang dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan, termasuk pembatasan akses terhadap program, fasilitas, maupun pendanaan yang bersumber dari pemerintah.

Kemdiktisaintek juga telah melakukan pendalaman. Hasil sementara, ditemukan adanya dugaan penggunaan nama UNY tanpa izin dalam berbagai aktivitas ilmiah internasional.

Selain itu, ditemukan indikasi penggunaan unit atau departemen yang tidak terdapat dalam struktur organisasi resmi universitas, penggunaan afiliasi lembaga lain tanpa kewenangan, serta dugaan pencatutan identitas peneliti untuk mendukung partisipasi dalam berbagai forum akademik internasional.

Terduga Pelaku 4 WNI

Brian sebelumnya mengatakan terduga pelaku pemalsuan riset di forum internasional saat ini berjumlah empat orang. Brian menyebut seluruhnya merupakan alumni S1 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

"Terkait dengan tadi permasalahan kasus beberapa orang yang melakukan pembohongan riset, ini kami sudah membentuk tim dan sudah berkoordinasi dengan UNY. Bahwa benar empat orang itu, tadi seperti yang ditanyakan, bahwa benar empat orang itu lulusan S1-nya adalah UNY. S2-nya berbeda-beda," kata Brian dalam rapat.

Brian mengatakan keempat terduga pelaku bukan dosen di perguruan tinggi. Ia menyebut secara administrasi Kemendiktisaintek tak memiliki payung hukum untuk menindak pelaku.

Konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 diketahui berlangsung pada 17-21 Mei 2026. Sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri atas Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dianggap sangat impresif.

Usut punya usut, muncul dugaan bahwa penelitian yang dibawakan mereka hasil fabrikasi dan tidak pernah benar-benar dilakukan. Pelaku juga diduga memalsukan identitas. Hal itu diungkap oleh peneliti bernama Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun Threads-nya.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis Mandhara Brasika di akun Threads-nya, Rabu (27/5).

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila... Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjutnya.

(dek/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |