Jakarta -
Pemilik rumah yang ambruk di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Ali Nugroho (43), mengungkapkan sudah merasakan adanya kemiringan pada bangunan rumahnya. Dia mengatakan kemiringan itu diketahui seminggu lalu sebelum rumahnya ambruk pagi tadi.
"Itu mungkin baru terjadi itu di tanggal 19 pagi, Jumat lalu, itu mulai bergeser," ungkap Ali saat ditemui di Jalan Administrasi Negara I, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).
Ali menduga terjadinya pergeseran tanah pada rumahnya imbas aktivitas normalisasi kali Ciliwung. Dia menceritakan rumahnya berdiri sejak 2004 dan kemudian direnovasi menjadi dua lantai pada 2006.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak saat itu, Ali menyebut tidak pernah merasakan pergeseran tanah, apalagi hingga menyebabkan kemiringan.
"Mungkin dari kegiatan pengerukan kali atau normalisasi sungai ya, ya itu terlalu mepet ke tanggul. Dulu kan fondasinya di tanah itu. Nah jadi, setelah itu selesai, itu ada pergeseran tanah itu," kata Ali.
"Mungkin terlalu dalam atau gimana sampai membuat dasar tanah bangunan rumah itu agak sedikit bergeser gitu," lanjutnya.
Dia menjelaskan, pada saat mengetahui rumahnya miring, Ali langsung melapor ke pihak lurah. Setelahnya, laporan berlanjut ke Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta.
"Tanggal 19 pagi itu, kita udah berkomunikasi ke Pak Lurah, ditemenin sama Pak RW. Kita ke SDA, ini gimana kelanjutannya. Sampai hari ini, sampai ini terjadi, belum ada konfirmasi dari (Dinas) Sumber Daya Air," jelas Ali.
Ali mengatakan, saat kejadian, sudah tidak ada lagi keluarganya yang menempati rumah tersebut sehingga tidak timbul korban jiwa dalam peristiwa ini. Barang-barangnya juga sudah dikemas saat rumahnya miring.
"Langsung inisiatif, 'kayaknya ini mau roboh deh, kayaknya'. Hari itu, Jumat pagi, kita bersih-bersih gitu. Jadi terakhir hari Senin kemarin tanggal 22," tutur Ali.
"Alhamdulillah nggak ada korban jiwa. Barang-barang sudah kita ungsikan di sini. Iya, sudah selamat. Ada beberapa sih yang nggak kebawa, yang berat nggak kebawa itu," imbuhnya.
Sementara itu, pihak Ketua RT, Kanti, mengatakan, di samping rumah Ali, terdapat tempat pembuangan sementara (TPS). Kanti mengatakan, TPS samping rumah Ali itu belakangan selalu ditumpuk sampah berlebih.
Kanti mengatakan penumpukan sampah ini terjadi akibat berkurangnya intensitas pengangkutan yang dilakukan. Dari yang tadinya sehari sekali menjadi seminggu sekali dari TPS tersebut.
"Saya kan bukan ahli ya, tapi ini kan terjadi setelah ada penumpukan sampah. Setelah ada masalah kritis di Jakarta. Yang tadinya sampah itu dalam satu hari diangkut sekali, tapi sekarang kan dalam satu minggu cuma satu kali, dua kali. Sampai menumpuk tinggi. Sempat libur juga kan itu, terus dan sempat viral juga masalah itu sudah pernah masuk di JAKI, juga sudah pernah," ujar Kanti.
Dia menyebut, sejauh ini untuk penanganan kejadian rumah ambles milik Ali sudah ditangani beberapa dinas.
"DLH iya, kalau dinas SDA sudah, SDA, TPS, PU, semua sudah ada hari ini sudah pada datang semua," imbuhnya.
(kuf/idn)

















































