Jakarta -
Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Ditjenim Kemenimipas) menyampaikan dukungan penguatan ekosistem olahraga nasional. Langkah konkret terkait dukungan adalah memberikan kemudahan layanan dan jalur khusus bagi atlet asing.
Langkah ini diimplementasikan lewat sinergi dengan Dewan Perwakilan Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (DPP Perbasi). Imigrasi mengawasi sekaligus mengedukasi langsung pemain asing yang berlaga di Indonesian Basketball League (IBL).
"Kami akan membentuk tim khusus yang menangani sektor olahraga, dengan begitu para atlet akan lebih mudah dalam proses administrasi," ujar Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, dalam keterangan tertulis Ditjenimi Kemenimipas, Selaa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meninjau pertandingan IBL All-Star 2026 di Bandung Arena, Jawa Barat (Jabar) pada Sabtu (11/4/2026) malam. "Tim khusus akan terdiri dari perwakilan lintas direktorat teknis, baik dari sektor layanan maupun pengawasan. Jadi meskipun tujuannya untuk memudahkan, fungsi pengawasannya tetap berjalan," imbuh dia.
Hendarsam mengatakan penerapan layanan Sport Visa dipastikan adaptif dan efisien. Layanan merujuk pada kebutuhan industri sportainment, yang menurutnya terus berkembang.
Sebagai informasi, Sport Visa adalah produk visa kunjungan yang khusus diperuntukkan bagi atlet (indeks C8A) serta ofisial atau pendamping (indeks C8B) untuk kegiatan olahraga nonkomersial atas undangan pemerintah atau organisasi keolahragaan internasional. Selain itu, tersedia indeks D8 bagi mereka yang membutuhkan visa beberapa kali perjalanan (multiple entry).
Cara mendapatkan Sport Visa adalah dengan melampirkan paspor, foto terbaru, surat undangan dan jaminan dari penjamin, serta rekening koran melalui laman evisa.imigrasi.go.id. Tren penggunaakn Sport Visa pun signifikan.
Berdasarkan data Ditjenim pada 2025, pihaknya telah menerbitkan sebanyak 6.388 visa olahraga. Lalu sejak 1 Januari hingga 31 Maret 2026, Imigrasi menerbitkan 866 visa olahraga.
Imigrasi juga menyediakan jalur khusus (fast track) dan konter pemeriksaan dokumen di bandara, dengan tujuan atlet tak mengantre lama. Fasilitas lain adalah penggunaan teknologi autogate yang dapat mempercepat proses kedatangan maupun keberangkatan secara otomatis.
Masih dijelaskan Hendarsam, pihaknya memberikan fasilitas penerbitan visa secara kolektif dan percepatan penerbitan visa untuk kegiatan olahraga, berdasarkan permohonan dari penyelenggara kegiatan. Dengan demikian atlet diharapkan mampu menjaga performa saat bertanding, karena tak kelelahan akibat proses administrasi yang kompleks.
Dari data Kemenimipas, sejak 2023 hingga 2026, Ditjenim memfasilitasi sejumlah kegiatan olahraga Internasional di antaranya adalah Formula E Jakarta, MotoGP Mandalika, U-17 World Cup, FIFA Series Indonesia Olimpiade Paralimpik serta kegiatan olahraga internasional lainnya. Hendarsam menegaskan bahwa kemudahan ini akan terus ditingkatkan seiring rencana Indonesia menjadi tuan rumah berbagai agenda internasional, seperti FIBA U-17 Asia Cup dan FIBA U-19 World Cup.
"Ekosistem olahraga yang berkembang akan membawa citra positif Indonesia ke dunia. Kami berupaya menghadirkan pelayanan yang adaptif tanpa mengabaikan pengawasan demi memperkuat industri olahraga nasional dan mendongkrak ekonomi melalui ajang internasional," pungkas Hendarsam.
(aud/yld)

















































