Jakarta -
Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) menyampaikan pernyataan sikap keras atas peristiwa yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela. Pernyataan sikap ini dilakukan menyusul penyerangan militer AS ke Venezuela serta penahanan Presiden Nicolas Maduro.
Diketahui, pada Sabtu (3/1/2026), dunia dikejutkan oleh tindakan sepihak ilegal Amerika Serikat dibawah perintah Presiden AS, Donald Trump. Atas nama penegakan hukum, militernya menyerang negara berdaulat, Venezuela, serta menculik Presiden Maduro untuk dibawa ke Amerika Serikat.
Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) sekaligus Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono mengatakan tuduhan bahwa Presiden Maduro memimpin kartel perdagangan obat-obatan terlarang jelas adalah dalih dan kebohongan. Alasan sesungguhnya, seperti diakui sendiri oleh Presiden Trump, adalah nafsu untuk mengendalikan dan menguasai kekayaan minyak Venezuela yang melimpah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 jelas menentang segala penjajahan di atas dunia karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pembukaan UUD 1945 juga mengamanatkan politik luar negeri yang dilandasi cita-cita kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial," ujar Agus Jabo dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
"Atas dasar tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Adil Makmur (DPP Partai PRIMA) mengecam keras aksi imperialistik oleh Amerika Serikat ini. Serangan militer dan penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro Moros, bukan hanya penghinaan terhadap martabat dan kedaulatan rakyat Venezuela melainkan juga pelecehan terhadap hukum dan komunitas internasional yang menghendaki kesetaraan pergaulan," imbuhnya.
Menurutnya, serangan militer dan penculikan Presiden Maduro juga dapat menjadi preseden bagi negara yang merasa lebih kuat untuk melakukan intimidasi, perundungan, dan tindakan serupa terhadap negara yang lebih lemah.
Ia mengatakan Partai PRIMA sebagai bagian dari koalisi politik dalam Pemerintahan Prabowo-Gibran, mencermati peluang bagi Pemerintah Republik Indonesia untuk mengkomunikasikan pembebasan Presiden Maduro sesegera mungkin, sehingga dunia tidak semakin tenggelam dalam ketegangan dan perang yang lebih besar.
"Bagi Indonesia, DPP Partai PRIMA memandang kejadian ini sekaligus sebagai pengingat, bahwa kepentingan imperialisme dan neokolonialisme, yang sering disebutkan oleh Presiden Prabowo Subianto, masih hidup untuk mengincar berbagai sumber daya ekonomi yang seharusnya menjadi hak Rakyat Indonesia," pungkasnya.
(ega/ega)
















































