Jakarta -
Pengamat transportasi dari Instran (Institut Studi Transportasi), Ki Darmaningtyas, bicara mengenai dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran ke mudik Lebaran 2026. Dia mengatakan perang ini akan berdampak pada harga BBM naik dan merembet ke sejumlah sektor penting lainnya.
"Kalau harga BBM naik, apalagi naiknya signifikan, tentu saja ada. Ikutan dari harga BBM yang naik itu adalah nilai rupiah yang akan jeblok, karena pemerintah sendiri memerlukan banyak dolar AS, salah satunya untuk impor BBM," kata Ki Darmaningtyas, kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Ia menilai kenaikan harga BBM yang signifikan akan berpengaruh terhadap besaran biaya transportasi, terutama bagi pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi seperti roda dua maupun roda empat. Selain itu, besaran biaya transportasi yang yang signifikan akan dirasakan oleh pengguna mobil pribadi ketika dipadukan dengan tarif tol yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika ongkos transportasi mahal, maka warga akan berpikir ulang untuk mudik, karena dampak kenaikan harga BBM itu cukup luas, termasuk kenaikan harga semua barang," katanya.
Lebih lanjut, pembengkakan pengeluaran bukan hanya terjadi pada saat mudik saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika harga barang kebutuhan harian naik, sementara pendapatan tidak naik, atau bahkan kehilangan pendapatan, maka orang akan berpikir ulang untuk mudik.
"Dari sini jelas sekali bahwa perang AS-Israel versus Iran akan berdampak langsung terhadap potensi mudik Lebaran bagi masyarakat Indonesia," katanya.
"Apalagi bagi mereka yang memiliki tanggungan anak sekolah, lebih baik uang yang ada dihemat untuk biaya sekolah anak. Ketidakpastian ekonomi nasional dan dipadu dengan kenaikan harga barang-barang, termasuk harga BBM itulah yang akan berpengaruh terhadap potensi mudik Lebaran 2026 ini," imbuhnya.
Meski demikian, ia menilai kesiapan pemerintah menghadapi mudik lebaran tahun ini lebih siap daripada sebelumnya. Ia menilai kegagalan rekayasa lalu lintas pada tahun sebelumnya dijadikan pembelajaran untuk tidak diulangi, sedangkan keberhasilan rekayasa lalin pada tahun sebelumnya dikembangkan lagi akan lebih berhasil.
"Jadi kalau dilihat dari kesiapan pemerintah dalam menghadapi arus mudik maupun arus balik, cukup siap. Yang tidak siap justru masyarakat yang akan mudik karena mereka tidak memiliki ongkos yang cukup," tuturnya.
Kewaspadaan di Jalan Daerah
Di sisi lain, ia menilai mobilitas ASN di wilayah Jabodetabek diperkirakan akan mengalami penurunan. Sebab sejak 2025, perjalanan dinas ASN dipotong, sedangkan salah satu sumber pendapatan ekstranya melalui perjalanan dinas. Sementara karyawan swasta dinilai tidak akan mengalami peningkatan mobilitas karena bisnis mereka juga mengalami penurunan.
Ia menambahkan, perlunya kewaspadaan terhadap pemudik yang menggunakan motor terutama pada musim hujan. Sebab saat ini banyak kondisi jalan berlubang di sejumlah titik yang belum diperbaiki sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan.
"Ini berpotensi pada tingkat laka lantas yang tinggi karena setelah sampai di daerah mereka sudah lelah dan ngantuk, kemudian melewati jalan berlubang tapi tertutup air hujan, sehingga tidak tampak. Di sana lah potensi kecelakaan lalu lintas itu akan terjadi," katanya.
Ia meminta pejabat daerah segera memperbaiki jalanan berlubang terutama di jalur mudik. Hal itu untuk mencegah insiden kecelakaan bagi pemudik.
"Semoga petugas di daerah, baik dari kepolisian, Dinas Perhubungan, Dinas PU, dan Satpol PP siaga di daerah masing-masing untuk mengamankan para pemudi dari bahaya kecelakaan lalu lintas. Tanpa mewaspadai kondisi jalan di daerah, persiapan rekayasa lalu lintas yang bagus akan sia-sia, karena lancar dan selamat di jalan tol maupun jalan alteri, tapi tidak selamat di jalan daerah," katanya.
Tonton juga video "Iron Dome Ditembus, Rudal Iran Gempur Ramat Gan Israel"
(yld/zap)

















































