Menteri Kebudayaan yang juga Waketum Gerindra Fadli Zon membahas upaya International Monetary Fund atau IMF dalam intervensi ketika rupiah anjlok beberapa saat lalu. Fadli menyinggung soal IMF trap pada masa lalu dan upaya Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie mengatasi anjloknya rupiah setelah krisis moneter.
Fadli membahas hal itu saat berbincang dengan wartawan di kantor Kemenbud, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026). Fadli awalnya menyebut IMF punya resep yang sama sejak dulu.
"Memang kalau kita lihat situasinya tetap sama karena the same playbook gitu ya. Kalau kita lihat, IMF selalu mempunyai resep yang sama, one size fits all. One size fits all itu ya rumus-rumus neoliberal, privatisasi, liberalisasi pasar, free trade, dan segala macam unsur-unsurnya, ya fiskal dan seterusnya, itu mereka punya resep tuh, ada 10 ya yang dibuat oleh Washington Consensus, oleh John Williamson tahun 90-an gitu ya," kata Fadli Zon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadli mengatakan IMF belum lama ini menawarkan pinjaman kepada Indonesia di tengah situasi yang terjadi. Dia memuji keputusan Presiden Prabowo Subianto yang membuat Indonesia tidak masuk lagi ke perangkap IMF atau IMF trap.
"Nah, tentu menurut saya, kita tidak mau lagi apa menerima IMF itu satu hal yang sangat baik dan itu saya kira keputusan Presiden gitu ya. Karena pasti kalau kita ikut IMF, kita akan masuk di dalam jebakan IMF lagi, IMF trap gitu ya, dengan letter of intent yang ini nggak boleh, ini nggak boleh, ini nggak boleh, ini nggak boleh. Pokoknya Indonesia itu nggak boleh maju, intinya itu kalau IMF ya," ucap dia.
Dia menyebut IMF pernah mengintervensi ekonomi Indonesia pada 1997-1998. Menurutnya, saat itu IMF malah meracuni Indonesia
"Pengalaman tahun 97-98, IMF itu bukan memberi obat, tapi memberi racun gitu ya. Memberi racun dan ini dikatakan oleh Jeffrey Sachs, sampai sekarang masih hidup itu Jeffrey Sachs ekonom yang hebat itu, apa yang dilakukan oleh IMF itu adalah memberi menyiram bensin di tengah api, itu bahasanya Jeffrey Sachs," ujar dia.
Fadli menyebut depresiasi rupiah harusnya direspons dengan renegosiasi utang. Dia mengatakan hal itu tidak bisa dilakukan Indonesia karena agenda IMF.
"Karena ketika terjadi depresiasi Rupiah, kan harusnya mudah saja saya kira nggak perlu menjadi sarjana ekonomi nggak perlu jadi ekonom, harusnya renegosiasi utang-utang yang ada di-rollover, direstrukturisasi. Tapi itu tidak terjadi pada Indonesia. Ini terjadi pada Korea, pada Thailand tahun 97-98 itu pada waktu itu, nah tapi pada Indonesia tidak," jelas Fadli Zon.
"Karena dia punya agenda di Indonesia. Agendanya apa? Agendanya adalah regime change untuk melakukan pergantian rezim gitu. Makanya rupiahnya bukan dibikin kuat, malah dibikin hancur terus, termasuk masuknya para spekulan model Soros dan kawan-kawan ini. Karena untuk memperlemah rupiah itu cukup 5-6 fund manager bisa melakukan ya untuk melakukan itu," lanjut dia.
Fadli menyebut IMF justru meminta Indonesia menutup belasan bank pada tahun 1997-1998. Proyek strategis saat itu juga diminta untuk ditutup.
"Itu pada intinya harus tutup, kita harus menjadi negara yang tergantung terus menjadi negara berkembang terus. Karena waktu itu kita hampir take off, bahkan sudah dikatakan oleh Bank Dunia di awal 90-an itu Indonesia ini adalah East Asian Miracle dan Newly Industrialized Countries. Kita sudah mulai industri tapi industri-industri kita ini berbahaya mengancam. Karena kalau kita maju, negara-negara yang lain atau negara-negara yang punya kepentingan lain ya akan dirugikan oleh kemajuan Indonesia itu. Jadi kita harus dibikin nurut sama mereka, tunduk sama mereka," jelas dia.
Fadli kemudian bercerita tentang kebijakan Habibie menaikkan suku bunga bank hingga 70 persen. Dia menjawab banyaknya kritik di medsos yang membandingkan Presiden Prabowo dan BJ Habibie.
"Kemudian untuk menurunkan, kalau kita masih ingat, jadi di social media kan banyak Pak Habibie cuma berapa menteri untuk menurunkan ini, coba lihat itu yang dilakukan oleh Pak Habibie itu menaikkan suku bunga sampai 70 persen untuk menarik rupiah tetap ada di Indonesia pada waktu itu. Ingat kan dulu kalau kita punya deposito bunganya 70 persen setahun? Itu yang tertinggi seingat saya itu, baru diturunkan secara bertahap baru kemudian rupiah mencapai Rp 6.500," ujar dia.
Simak juga Video 'Pameran 80 Lukisan Tokoh di Muskitnas hingga Raih Rekor MURI':
(maa/haf)


















































