Bos kartel narkoba 'Hells Angels' asal Australia, Angelo Pandeli, ditangkap di Bali dua pekan lalu. Dirjen Imigrasi Kementerian Imipas, Hendarsam Marantoko, menyebut buron tersebut sudah dipulangkan.
"Dua minggu yang lalu kalau nggak salah (dipulangkan)," kata Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko di Gedung Kementerian Imipas, Jakarta Selatan, Senin (22/6/2026).
Hendarsam menyebut Angelo ditangkap di Bali saat hendak terbang dengan jet pribadi. Penangkapan dilakukan lewat kerja sama pihak Australia dan Polri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, itu langsung karena memang sudah yang bersangkutan sudah masuk blue notice ya dan kemudian juga kita berkoordinasi dengan pihak apa namanya itu Bareskrim dan kemudian kemudian juga dilakukan penangkapan pada saat itu," kata dia.
"Ya langsung dipulangkan jadi karena memang kerja sama kita dengan dengan kepolisian negara luar dengan Interpol dengan Bareskrim," tambahnya.
Sebelumnya, Angelo Pandeli ditangkap di Bali pada Sabtu (6/6). Buron Interpol itu ditangkap saat hendak lepas landas dengan private jet.
Dia ditangkap setelah terdeteksi Hit Interpol Blue Notice dengan skor kecocokan 100. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menyebut Angelo ditangkap saat hendak melakukan perjalanan dari Bali ke Mozambik dengan menggunakan private jet CAPA Jet dengan nomor penerbangan N917CJ rute Denpasar (WADD)-Maputo (FQMA), Mozambik, melalui Terminal Selatan VIP Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan keimigrasian, ditemukan bahwa George Anderson Mota Correia diduga menggunakan dokumen perjalanan yang bukan miliknya. Hasil pendalaman lebih lanjut mengungkap identitas sebenarnya sebagai Angelo Pandeli, warga negara Australia pemegang paspor Venezuela (diduga palsu)," kata Brigjen Eko Hadi saat dimintai konfirmasi, Kamis (11/6).
Angelo Pandeli merupakan tokoh tindak pidana terorganisir lintas negara yang sangat berpengaruh dan anggota penting dari geng motor terlarang Hells Angels di Australia. Angelo Pandeli diyakini bertanggung jawab atas sejumlah besar impor narkotika yang dikendalikan perbatasan yang terjadi di masa lalu maupun yang masih berlangsung ke Australia.
(ial/haf)
















































