2 Siswa Sekolah Garuda Tembus S1 di Belanda, Janji Bawa Pulang Ilmu ke RI

4 hours ago 4
Jakarta -

Sebanyak dua siswa yang merupakan peserta didik program Sekolah Garuda di Jakarta Timur berhasil mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri. Mereka mendapatkan program Beasiswa Garuda untuk melanjutkan studi strata satu (S1) ke Wageningen University, Belanda.

Kedua peserta didik itu bernama Muhammad Rafa Alfalah Dermawan dan Amelia Febriani Rachman. Mereka mengambil program studi Environmental Science di Wageningen University.

Rafa dan Amelia merupakan siswa di SMAN Unggulan MH Thamrinm. Sekolah tersebut saat ini telah masuk dalam bagian program Sekolah Garuda yang digagas pemerintah. Sekolah Garuda sendiri terdiri dari dua jenis, yakni sekolah tranformasi dari sekolah yang sudah ada dan sekolah baru. Adapun SMANU MH Thamrin termasuk ke dalam sekolah tranformasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rafa bercerita mengenai pengalaman belajar di program Sekolah Garuda. Dia mengakui sempat kaget dengan sistem pendidikan yang disajikan.

"Karena kita sekolah asrama tadi, mungkin ada culture shock kayak harus tinggal sendiri apa-apa mandiri gitu ya. Karena biasanya di rumah diurus orang tua gitu. Nah, itu paling sama ya 3 bulan pertama doang culture shock-nya, karena memang di sini kita kayak jadwalnya padat gitu. Dari Senin sampai Sabtu belajar, terus biasanya sorenya juga organisasi, bahkan di sini setiap hari Selasa dan Kamis itu malamnya belajar setelah salat isya di kelas, sampai jam 09.30 malam," kata Rafa ditemui di SMAN Unggulan MH Thamrin, Senin (22/6/2026).

Senada dengan Rafa, Amelia juga mengaku sempat mengalami culture shock saat melihat budaya belajar di Sekolah Garuda SMAN Unggulan MH Thamrin. Meski begitu, dia bercerita temannya di sekolah tersebut bersifat suportif akan satu sama lain.

"Mungkin awalnya pas masuk MH Thamrin kali ya, kelas 10 itu agak culture shock karena yang ya di sini semua orang kayak pinter, jenius banget gitu kan. Jadi, harus beradaptasi dengan pace belajarnya juga, dengan temen-temennya juga, cuman untungnya lingkungannya sangat suportif sih. Jadi meskipun misalnya temen saya ada yang pinter banget, tapi mereka masih mau buat ngajarin saya, jadi belajar bareng-bareng juga," kata Amel.

Rafa kemudian bercerita jika tidak ada senioritas di sekolah tersebut. Dia bahkan menyebut alumni sekolahnya turut memberikan bimbingan dalam proses belajar.

"Di sini tuh hampir nggak ada senioritas sama sekali. Jadi kayak kita bisa main sama kakak kelas kelas 12 atau kelas 11, jadi pas kelas 10 tuh kita nggak merasa sendiri gitu. Jadi kayak benar-benar ditemenin banget sama mereka. Nah, bahkan nggak cuman sampai kakak kelas aja, sampai alumni, aku sendiri punya alumni dari MH Thamrin 5 yang bener-bener ngebimbing aku banget sampai ke titik ini," katanya.

Mereka kemudian menceritakan perjuangan mereka saat mencoba mendaftar kuliah ke luar negeri. Amelia bercerita jika orang tuanya sempat tidak setuju dirinya mendaftar kuliah ke luar negeri.

"Sebenarnya awalnya juga nggak terlalu setuju gitu, cuman setiap saya apply univ pasti saya jelasin gitu ke orang tua saya, kenapa saya maunya di sini, terus nggak apa-apa kok saya berusaha ngeyakinin gitu pokoknya. Jadi pas pengumuman Beasiswa Garuda juga orang tua saya udah ngerti akhirnya, jadi ikut senang juga gitu. Udah, udah percaya lah gitu," katanya.

Sementara itu, Rafa menceritakan tanggungan orang tuanya yang tidak mencukupi jika dia kuliah ke luar negeri. Hal itu membuatnya semakin termotivasi untuk mendapatkan Beasiswa Garuda.

"Takut nggak kepegang juga sama orang tuanya. Orang tuanya juga udah wanti-wanti sih kayak soalnya kan ada desil-desil gitu ya. Saya sendiri masuk ke desil yang masih tinggi hitungannya. Gitu jadi UKT-nya kemungkinan kalau diajukan banding itu tetep tinggi, jadi orang tua saya nggak kuat juga. Nah, alhamdulillah karena Beasiswa Garuda, nggak keluar apa-apa gitu," katanya.

"Iya, pasti senang banget ya, ya itu tadi karena eh alhamdulillah bisa ngeringanin beban orang tua juga, jadi nggak harus keluar biaya apa-apa gitu, yang harusnya tadi mungkin bisa keluaran ya puluhan juta rupiah untuk UKT sendiri, jadi sekarang saya bisa lebih mandiri juga dan apa ya, bisa ngebanggain nama sekolah juga gitu," sambungnya.

Lebih lanjut, mereka menjelaskan keinginan mereka setelah nantinya kembali ke Indonesia. Rafa bercerita jika dia bercita-cita menjadi Menteri Lingkungan Hidup di masa mendatang.

"Pengin kontribusi ke Indonesia juga sih, cuman keinginan terbesar saya itu pengin jadi Menteri Lingkungan lah," katanya.

Sementara itu, Amelia juga berkeinginan untuk mengabdi di bidang lingkungan. Dia berkomitmen menggunakan ilmunya untuk kemajuan di dalam negeri.

"Kalau saya sendiri tentunya ingin kembali lagi ke Indonesia dan mungkin bekerja di bidang lingkungan, cuman saat ini saya memang masih eksplor lagi lah, karena di universitas saya sendiri juga ada tiga peminatan yang bisa dipilih. Jadi, mungkin saya bisa lebih peminatan ke teknologi atau ke kebijakan gitu," imbuhnya.

(ygs/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |