Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menyampaikan keprihatinan atas kejadian 352 siswa diduga keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sari menilai kejadian tersebut harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
"Saya prihatin dengan kejadian keracunan yang dialami ratusan siswa. Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas. Karena itu, penyebab kejadian ini harus diusut secara menyeluruh," kata Sari dalam keterangan, Sabtu (12/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota DPR RI dapil NTB II ini mengatakan MBG merupakan program strategis pemerintah yang menyasar anak-anak, sehingga aspek keamanan, kualitas makanan, serta penerapan standard operating procedure (SOP) harus menjadi prioritas utama.
Menurutnya, Badan Gizi Nasional (BGN) perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program di lapangan, termasuk memastikan seluruh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) menjalankan SOP secara disiplin. Jika ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran prosedur, Sari meminta agar diberi sanksi tegas sesuai dengan ketentuan.
"Evaluasi tidak cukup hanya mencari penyebab kejadian. Kita juga harus memastikan apakah seluruh SOP telah dijalankan dengan benar. Jika ada kelalaian, tentu harus ada sanksi tegas agar menjadi pembelajaran dan tidak terjadi lagi di tempat lain," katanya.
Sari menambahkan DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan MBG, termasuk terhadap kinerja BGN dan SPPG di berbagai daerah.
"DPR akan proaktif mengawasi kinerja BGN dan SPPG melalui instrumen pengawasan yang dimiliki DPR. Kita juga akan mendorong pengawasan di daerah agar pelaksanaan MBG benar-benar berjalan sesuai standar," ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tapi juga dari kualitas dan keamanan makanan yang diberikan.
"Program MBG harus memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat. Kejadian ini harus menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan, memperbaiki pelaksanaan di lapangan, dan memastikan setiap anak mendapatkan makanan yang aman dan bergizi," pungkas Sari.
Diketahui sebanyak 352 siswa dari sejumlah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, NTB, diduga keracunan MBG. Para siswa mengalami keluhan seperti muntah-muntah dan pusing.
Dilansir detikBali, Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan MBG Lombok Tengah memastikan para korban telah mendapatkan penanganan. Ketua Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, mengatakan pihaknya masih mengecek kondisi para siswa yang dirawat di sejumlah puskesmas.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program MBG NTB Fathul Gani mengatakan SPPG yang menyalurkan makanan kepada 352 siswa tersebut terancam kena suspend atau dihentikan sementara. Satgas menegaskan sanksi akan diberlakukan sebagai bahan evaluasi.
Tonton juga video "352 Siswa SD di Lombok Tengah Keracunan MBG"
(fca/idh)


















































