Jakarta -
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Operasi modifikasi cuaca (OMC) hingga operasi darat dimaksimalkan untuk memadamkan karhutla.
Operasi dilakukan di enam provinsi prioritas lahan gambut, yakni Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kombinasi OMC, operasi darat, operasi udara hingga penegakan hukum menjadi hal utama menghadapi karhutla di puncak kemarau El Niño 2026.
"Tahun 2026 ini prediksi BMKG El Niño kuat dan memang betul-betul terbukti. Luas lahan terbakar di provinsi-provinsi prioritas lahan gambut meningkat," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam keterangannya, Sabtu (12/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suharyanto menyebut sejauh ini OMC menjadi yang palingan efektif, karena hujan mampu memadamkan area terbakar yang luas. Operasi darat perlu dilakukan untuk lahan gambut yang api bawah tanahnya sulit dipadamkan. Di samping itu, water bombing juga terus dilakukan.
"Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko," ujarnya.
Suharyanto mengatakan penanganan lahan gambut berbeda, lantaran api di permukaan bisa terlihat padam, tetapi bara di kedalaman lahan gambut masih menyala. Karena itu, BNPB juga menggunakan alat suntik gambut untuk memasukkan air hingga kedalaman 1-2 meter.
"Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur. Kami punya alat suntik gambut," ucapnya.
Suharyanto menyebut pemadaman karhutla juga memiliki tantangan, lantaran asap kerap masih ada hingga menganggu jarak pandang sampai berdampak pada penerbangan. BNPB pun menggenjot proses modifikasi cuaca.
"Apinya berhasil dipadamkan, tapi asapnya keluar terus. Itulah yang mengganggu penerbangan, kehidupan masyarakat," katanya.
Berdasarkan data BNPB per 8 September 2026, total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 76.922,3 hektare. Suharyanto menyebut pihaknya menindaklanjuti hotspot atau titik panas yang terpantau satelit Kementerian Kehutanan dan BMKG. Hotspot itu diverifikasi melalui patroli udara dan darat.
"Hotspot adalah titik panas. Fire spot adalah titik kebakaran yang betul-betul ditemukan di lapangan. Fire spot inilah yang kami padamkan," jelasnya.
BNPB bersama TNI dan Kementerian Pertahanan mengerahkan 55 armada udara untuk penanganan karhutla di enam provinsi prioritas, terdiri atas 19 armada patroli udara dan pendukung OMC, serta 34 armada water bombing. Tiga helikopter Chinook CH-47 dari Jepang tiba pada 10 September 2026 untuk memperkuat operasi pemadaman dari udara.
Dukungan logistik dan peralatan satgas darat terus diperkuat dan BNPB mengerahkan 43.481 personel satgas darat gabungan yang terdiri atas BNPB, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, dan relawan. Terkait Kalimantan Timur, khususnya di dekat IKN, Suharyanto menyebut penanganan terus dilakukan.
"Kaltim ini sekitar 400 hektare. Padam kemudian hidup lagi, padam, hidup lagi. Ada di daerah Bukit Suharto, ada lagi di sekitar Kabupaten Berau. Sekarang sedang dalam proses penanganan. Tidak sebesar Kalsel, Kalteng, Kalbar. Tetapi terus kita tangani, di sana juga ada heli water bombing, satgas darat, dan operasi modifikasi cuaca," jelasnya.
Terkait asap lintas batas ke Sarawak, Malaysia, Suharyanto mengindentifikasi kompleksitas penyebabnya. Selain asap yang tertiup dari wilayah karhutla Indonesia, khususnya Kalimantan, citra satelit juga menunjukkan titik karhutla di wilayah perbatasan.
"Pada prinsipnya, Indonesia berusaha sangat keras dan maksimal agar asap tidak mengganggu kesehatan dan perekonomian warga terdampak dan negara tetangga," ucapnya.
Suharyanto mengatakan di Riau upaya pemadaman terus berjalan meski menghadapi berbagai kendala. Berdasarkan laporan Tim Pendamping Karhutla Riau per 10 September 2026, total luas lahan terbakar sejak awal tahun mencapai lebih dari 19.000 hektare.
Operasi udara melibatkan armada patroli, helikopter water bombing, dan pesawat OMC. Secara umum, penanganan karhutla di Riau masih terkendali, dengan penurunan jumlah fire spot karena hujan dalam dua hari terakhir.
Sementara itu, total luas lahan terbakar di provinsi Kalimantan Tengah mencapai 7.634,46 hektare per 10 September 2026, dengan 90 fire spot dan estimasi luas lahan terbakar 212,3 hektare. Sekitar 141,1 hektare terpantau padam melalui operasi darat.
Di Kalimantan Selatan, penanganan karhutla di kawasan Gunung Damar, Banjarbaru, telah berlangsung lebih dari 15 hari. Data per 9 September 2026 mencatat 0 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 27 fire spot dengan estimasi luas terbakar 132,062 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 95,882 hektare terpantau padam dan masih ada sekitar 36,18 hektare yang terus ditangani.
(wnv/fas)

















































