SBY: Perang AS-Israel Vs Iran Meluas dan Kompleks, Sangat Berbahaya

5 hours ago 1

Jakarta -

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tanda-tanda meluas dan kian berbahaya. SBY menyebut situasi di Timur Tengah kini telah berubah menjadi perang kawasan (regional war) dengan risiko dampak global.

"Kalau kita simak what's going on tiga hari terakhir ini, jawaban saya bisa (meluas). Mungkin sekarang pun sudah mulai meluas, melebar gitu. Semua tahu bahwa ini perseteruan yang tajam ini kan antara Israel dengan Iran. Amerika dengan Iran, ya. Dan kalau sengit peperangan di antara tiga negara itu bisa dimengerti karena akar konfliknya dalam sekali. Tapi saya tidak akan masuk ke situ," kata SBY dalam podcast 'SBY Standpoint: Perang di Timur Tengah, Siapa Bakal Menang?' yang diunggah di YouTube SBY, Selasa (3/3/2026).

SBY menyoroti peringatan Iran yang akan menyerang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk balasan. Dia menilai ancaman itu kini benar-benar terjadi dan menyeret negara-negara Teluk ke dalam pusaran konflik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan begitu, menurut SBY, invasi meluas dengan keterlibatan negara-negara lain yang sebelumnya cenderung bersikap netral. Negara seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman disebutnya turut terdampak serangan balasan Iran. Kondisi ini, katanya, membuat konflik menjadi semakin kompleks.

"Yang jelas tiba-tiba negara-negara teluk yang sebetulnya kalau saya ikuti ingin lebih netral begitu, eh kemudian sebagaimana yang dijanjikan oleh Iran kalau negaranya diserang oleh Amerika dan Israel, jangan salahkan nanti Iran kalau melakukan pembalasan dan semua gelar pasukan Amerika di Timur Tengah itu menjadi sasaran. Ternyata itu terjadi betul. Sehingga ini yang tadinya boleh dikatakan tidak ikut-ikutan begitu dipaksa untuk melibatkan diri," ujarnya.

"So, ini betul-betul sekarang sudah menjadi regional war yang saya lihat balas membalas. Kalau tadinya Amerika plus Israel lawan Iran, sekarang menjadi lebih rumit, lebih kompleks karena negara-negara teluk yang diserang oleh Iran misalnya Saudi Arabia, Bahrain, Kuwait, Jordan, Arab Emirat, Oman, mana lagi yang belum saya sebutkan tadi, semua itu tentu ya dia juga menegakkan kedaulatannya melakukan pembalasan, retaliation. Ini menjadi dangerous," lanjutnya.

Tak hanya itu, SBY juga menyinggung laporan adanya serangan terhadap posisi Inggris di Cyprus. Hal tersebut, menurutnya, berpotensi menyeret aliansi pertahanan Barat melalui Pasal 5 NATO, yang mewajibkan negara anggota membela anggota lain jika diserang.

"Saya ini berpikir ternyata juga ada pasukan atau pos Inggris yang ada di Cyprus yang itu juga diserang. Nah ini masuk nggak Article 5 dari NATO? Jika ada anggota NATO diserang oleh negara tertentu, maka wajib hukumnya negara anggota NATO juga bareng-bareng bersama Inggris memerangi negara yang menyerang posisi Inggris itu. Ini kan menjadi lebih berbahaya lagi," ujarnya.

SBY mengingatkan, apabila konflik melebar dan melibatkan kekuatan di luar Timur Tengah, seperti Rusia, Tiongkok, atau bahkan Korea Utara. Jika ada keterlibatan negara tersebut, SBY menilai situasi bisa berkembang ke arah yang jauh lebih serius.

"Misalnya ternyata bukan hanya negara-negara di Teluk itu yang berhadapan dengan sengit eh berperang bertempur, tetapi kalau juga pihak di luar Timur Tengah masuk. Nah, kalau misalnya anggota NATO nimbrung di situ, bagaimana Rusia? Bagaimana Tiongkok? Bagaimana Korea Utara?" ujarnya.

"Ini menurut saya very very dangerous. Mudah-mudahan tidak sampai ke situ karena, kalau itu terjadi, maka Timur Tengah menjadi flashpoint yang bisa mengarah ke peperangan yang lebih besar. Saya sering mengatakan bisa lho Perang Dunia Ketiga terjadi meskipun sebenarnya bisa dicegah untuk tidak ke situ," imbuh SBY.

Ia bahkan mengingatkan potensi terburuk berupa Perang Dunia Ketiga, meski menurutnya skenario tersebut masih bisa dicegah melalui deeskalasi dan penahanan diri semua pihak.

"Jadi kesimpulan pandangan saya, jawaban saya: sekarang sudah meluas. Tidak lagi hanya antara Israel bersama Amerika perang atau bertempur melawan Iran, tetapi yang lain juga nimbrung, sudah melibatkan diri. Itu dari sisi militer.

Selain aspek militer, SBY juga menyoroti dampak ekonomi global yang mulai terasa akibat gangguan di berbagai sektor. Ia berharap muncul kesadaran baru dari para pemimpin dunia untuk menurunkan tensi konflik.

"Belum kait-mengaitnya dengan perekonomian yang sudah mengalami disruption di sana sini. Totalitasnya menjadi menurut saya eh masalah yang besar, dengan sedikit harapan, great hope, adalah kesadaran baru untuk deeskalasi, kemudian menahan diri, jangan lebih meluas lagi, lebih membesar lagi, dan lebih buruk lagi. Itu, tapi sekarang memang kenyataannya sudah meluas, sudah membesar, begitu," ucapnya.

Saksikan Live DetikSore:

Simak Video 'Pesawat Sipil Tak Lintasi Langit Iran Imbas Perang':

(eva/idn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |