Risiko Ini Bikin Waswas Usai Sungai Cisadane Tercemar Pestisida

1 week ago 15
Jakarta -

Aliran Sungai Cisadane yang tercemar pestisida usai kebakaran gudang milik PT Biotek Saranatama di Tangerang Selatan. Ada risiko kesehatan yang membayangi di balik pencemaran ini.

Seperti diketahui, pabrik pestisida yang berada di Kecamatan Setu, Kota Tangsel, terbakar pada Senin (9/2/2026). Petugas sampai harus menggunakan 2 truk pasir untuk memadamkan api yang bersumber dari bahan kimia tersebut.

Api baru padam setelah 7 jam penanganan. Kebakaran tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga meninggalkan jejak cemaran air di Sungai Cisadane.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak ikan yang mati setelah air Sungai Cisadane diduga tercemar dari pabrik pestisida. Air sungai berubah warna menjadi putih setelah tercemari.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meminta PT Biotek Saranatama sebagai pemilik gudang zat kimia pestisida bertanggung jawab terhadap pemulihan lingkungan. Langkah tersebut, menurut dia, diambil sebagai bentuk tegas pemerintah terhadap pelaku perusak lingkungan.

"Harus bertanggung jawab karena dampaknya besar. Kemudian, secara keadministrasian dan teknis, maka kami akan melakukan permintaan kepada pengelola kawasan untuk melakukan audit lingkungan secara presisi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan," kata Hanif.


Pemilik Gudang Janji Pulihkan Kualitas Air

PT Biotek Saranatama, yang merupakan pemilik gudang pestisida, berjanji melakukan pemulihan kualitas air di aliran sungai yang tercemar zat kimia seusai kebakaran terjadi. Pemulihan dilakukan dengan penyebaran adsorben pestisida sebagai penetral dampak pencemaran.

Dilansir Antara, Minggu (15/2/2026), Manajer Operasional PT Biotek Saranatama, Luki, mengatakan upaya pemulihan kualitas air sungai dilakukan sebagai pertanggungjawaban perusahaan.

"Untuk di udaranya kita menggunakan produk bantuan dari Kementerian Pertanian, kemudian untuk di sungainya kami menyediakan absorben pestisida, untuk penetral pestisidanya itu sendiri," katanya.

Menurut dia, penyebaran adsorben pestisida di aliran Sungai Jeletreng sebagai aliran hulu yang kemudian masuk ke Sungai Cisadane bisa membantu mengikat dan menghilangkan residu pestisida. Dia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan.

"Kami pun berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan (Tangsel) melakukan penetralan untuk kualitas udara dan di sungai ini," ujarnya.

Dia mengatakan perusahaan juga berupaya mengembalikan ekosistem aliran sungai seperti penebaran 5.000 bibit ikan lele, nila, hingga gurame. Luki mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian terkait penyebaran bibit ikan tersebut.

"Hari ini kita juga melakukan pengembalian ekosistem biota yang ada di sungai dengan penebaran sekitar 5.000 ikan yaitu ada ikan lele, gurame, dan nila. Tapi kalau untuk seperti pengembalian biota, ekosistem itu kan tidak ada kaitannya sama zat kimia jadi kita lakukan sendiri. Ya berkala. Kita setiap ini juga ada pengecekan air berkala jadi kita nanti ada tim juga yang menangani itu sendiri," ujarnya.

Risiko Pencemaran Pestisida

Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ignasius Sutapa memaparkan potensi dampak pencemaran pestisida di Sungai Cisadane usai kebakaran gudang. Ignas mengatakan tumpahan zat kimia itu bisa berisiko menimbulkan efek kesehatan kronis.

Ignas menerangkan terdapat potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi yang diakibatkan oleh perpindahan residu pestisida atau metabolit yang terakumulasi dalam jaringan organisme air, lalu berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut.

"Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis," kata Ignas seperti dilansir Antara, Minggu (15/2/2026).

Ignas mengatakan kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama.

Toksik Bisa Mengendap

Artinya, meskipun air permukaan tampak kembali jernih, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.

Dari sisi kesehatan publik, lanjut Ignas, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar.

Ia menyebut terdapat jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, yang dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan.

"Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik," ungkap Ignas.

Untuk mitigasi jangka pendek, ia merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman.

Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi.

Ignas menekankan pentingnya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran B3, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, hingga diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis.

Menurutnya, restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.

"Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis," pungkasnya.

Lihat juga Video 'Kondisi Terkini Sungai di Serpong yang Tercemar: Masih Banyak Ikan Mati':

(rdp/rdp)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |