Puan Minta Pendampingan Psikologis Keluarga Jurnalis-Kru Hilang di Selat Sunda

2 days ago 4
Jakarta -

Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memberi pendampingan terhadap keluarga jurnalis hingga kru kapal yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau. Puan ingin mereka mendapat informasi hingga pendampingan psikologis selama proses pencarian berlangsung.

"Kami ikut merasakan kekhawatiran keluarga atas musibah ini. Pencarian teman-teman jurnalis beserta seluruh anggota rombongan di perairan Selat Sunda harus dimaksimalkan," kata Puan dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Adapun Tim SAR gabungan masih melakukan operasi pencarian yang diperluas hingga mendekati kawah Gunung Anak Krakatau. Puan pun mendukung TNI AL untuk membantu proses pencarian rombongan jurnalis itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan penting agar pihak keluarga mendapat pendampingan dari Pemerintah, termasuk jaminan update informasi serta kebutuhan untuk psikologis mereka," ujar Puan.

Puan mengatakan perlunya perlindungan optimal terhadap jurnalis yang mengabdi memberikan informasi kepada publik. Perlindungan harus dilakukan dengan operasi pencarian maksimal.

"Pengabdian untuk kepentingan masyarakat harus diikuti kepastian perlindungan. Dan tentunya dukungan dan perlindungan tersebut dapat diwujudkan melalui operasi pencarian yang maksimal," kata Puan.

"Bagi masyarakat, jauhi dulu area berbahaya. Dan selalu patuhi imbauan petugas atau pihak-pihak yang berwenang," sambungnya.

Anggota DPR Minta Pencarian Dioptimalkan

Anggota Komisi I DPR RI, Junico Siahaan, berharap pemerintah mengoptimalkan pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak ketika meliput Gunung Anak Krakatau. Junico meminta keluarga jurnalis hingga kru kapal diberikan kepastian informasi.

"Prioritas saat ini adalah menemukan seluruh orang yang berada di dalam kapal serta memastikan keluarga mereka memperoleh pendampingan dan kepastian informasi," kata Junico kepada wartawan.

Junico menyinggung tugas jurnalis yang berat. Ia menyebut di balik setiap gambar atau pemberitaan yang sampai ke publik ada risiko yang dihadapi oleh seorang jurnalis.

"Tugas pers memang sangat berat. Sebagai seseorang yang pernah cukup lama bekerja di lingkungan media dan penyiaran, saya memahami bahwa tayangan dan informasi yang diterima masyarakat lahir dari kerja banyak orang," kata Nico.

"Di balik setiap gambar yang sampai kepada publik, ada kru yang bekerja, menghadapi risiko, dan memiliki keluarga yang menunggu mereka pulang," tambahnya.

Ia berharap operasi pencarian dapat berjalan lancar. Nico juga meminta pihak berwenang untuk terus memberikan update informasi mengenai proses pencarian.

"Kami mendorong Tim SAR gabungan dan Pemerintah terus mengoptimalkan pencarian dengan memadukan seluruh informasi yang tersedia, mulai dari posisi terakhir, jejak komunikasi, kondisi arus dan cuaca, hingga keterangan keluarga, rekan kerja, operator kapal, dan masyarakat di sekitar perairan Selat Sunda," ujar Nico.

"Setiap petunjuk mengenai kemungkinan lokasi mereka, termasuk permintaan pencarian di sekitar Pulau Sertung, perlu diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh Tim SAR sesuai penilaian operasi," paparnya.

Legislator PDIP ini berharap seluruh penumpang di speedboat bisa ditemukan dengan selamat. Ia juga meminta perusahaan tempat jurnalis bekerja dilibatkan untuk tanggung jawab.

"Mereka membutuhkan kepastian bahwa setiap petunjuk diperiksa, setiap kemungkinan ditelusuri, dan negara terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Perusahaan media tempat para jurnalis bekerja juga perlu dilibatkan agar tanggung jawab terhadap pekerja dan keluarganya dapat dipenuhi secara utuh," imbuhnya.

Diketahui, delapan orang hilang kontak setelah berlayar ke dekat Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9). Lima jurnalis yang berada dalam speedboat tersebut adalah M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas.

Mereka bersama Warta selaku kapten speedboat, Sukarman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu berangkat dari kawasan Carita, Pandeglang, untuk meliput Gunung Anak Krakatau.

Tonton juga video "Puan soal Lahan Bekas Karhutla Jadi Kebun Sawit: Segera Ditindak!"

(dwr/eva)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |