Perlawanan Terakhir Anak Politikus PKS dengan 19 Luka di Badan

1 day ago 7
Cilegon -

Terungkap sadisnya pelaku pembunuhan terhadap anak politikus PKS di Cilegon, Banten. Korban berinisial A (9) dibunuh dan ditemukan 10 luka tusuk hingga luka lebam di tubuh.

Pelaku HA sempat jadi buron 3 pekan setelah menghabisi nyawa bocah 9 tahun itu. Pelaku akhirnya ditangkap saat kembali beraksi membobol rumah eks anggota DPRD Cilegon, Roisudin Sayuri.

Pelaku ditangkap Jumat (2/1). Saat ketahuan, HA kabur ke dalam rumah hingga disergap warga dan polisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah dilakukan pemeriksaan, terungkap pelaku nekat melakukan aksinya karena motif ekonomi. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten Kombes Dian Setyawan menerangkan pelaku mulanya bermain saham kripto dengan modal awal Rp 400 juta.

Dana tersebut ia dapatkan dari tabungan bersama dengan istrinya. Dari situ, pelaku sudah mendapat keuntungan sampai Rp 4 miliar.

"Dari Rp 400 juta ini dimainkan berkembang sampai mendatangkan keuntungan senilai Rp 4 miliar," kata Dian, dalam konferensi pers di Polres Cilegon, Senin (5/1/2026).

Konferensi pers kasus pembunuhan anak politikus PKS Cilegon (M Iqbal/detikcom)Foto: Konferensi pers kasus pembunuhan anak politikus PKS Cilegon (M Iqbal/detikcom)

Setelah mendapatkan Rp 4 miliar, pelaku belum puas. Ia kembali main kripto.

"Dimainkan lagi sehingga yang bersangkutan kalah, adapun akun yang digunakan yaitu melalui aplikasi," jelas Dian.

Setelah kalah, pelaku meminjam uang dari bank sebesar RP 700 juta, pinjam dari koperasi tempat pelaku bekerja sebesar Rp 70 juta dan meminjam dari pinjaman online (pinjol) sebesar Rp 50 juta.

"Tujuannya apa untuk main kripto lagi, tapi hasil yang diperoleh kalah kembali," sambungnya.

Modus Pelaku Bobol Rumah mewah

Polisi mengatakan HA merupakan pelaku tunggal. Dia melakukan mengincar rumah untuk dibobol secara acak.

"Pelaku ini adalah pelaku tunggul, kemudian melakukan pencurian di rumah yang jadi sasaran secara acak, modusnya adalah yang bersangkutan memencet bel. Memencet bel sampai dengan tiga kali sampai dengan empat kali, apabila tidak ada yang merespons dianggapnya itu adalah rumah kosong, sehingga yang bersangkutan akan meloncat pagar dan melakukan aksinya," kata Dian.

Dian mengatakan pelaku sudah merencanakan aksi pencurian tersebut. Dia juga sudah menyiapkan skema jika ada penghuni rumah menemuinya setelah bel dipencet.

"Apabila dibel itu ada orang yang menemuinya mereka akan pura-pura menanyai alamat," tutur dia.

Rumah politikus PKS ini merupakan TKP pertama yang menjadi target pencurian pelaku. Pada saat kejadian, lokasi itu sedang hujan lebat.

"Yang pertama TKP satu, kejadian kurang lebih durasi pukul 13.17-13.42, yang mana pada saat itu kondisi hujan lebat. Pelaku mendatangi ke TKP satu, memencet bel sebanyak 4 kali, tidak ada respons kemudian pelaku memencet melalui tiang di samping pos satpam," kata dia.

"Setelah berhasil masuk, pelaku langsung menuju lorong sebelah kiri rumah utama, di situ ada lorong, kemudian mencongkel jendela di kamar pembantu, tepatnya bagian kiri rumah utama," ucap dia.

Pada saat melancarkan aksinya ini, pelaku diduga menggunakan masker, helm full face dan sarung tangan. Pelaku berhasil masuk rumah setelah mencongkel jendela.

"Setelah berhasil masuk ke lantai satu, dilihat brankas di lantai satu, di situ ada brankas besar dengan kondisi pintu terbuka. Setelah mengotak-atik brankas dan tidak berhasil, bahkan brankas sampai digeser posisinya sudah geser ke kiri, yang bersangkutan naik ke lantai dua," ucap dia.

Di lantai 2 rumah ini, pelaku menemui korban di kamarnya dan bertanya mengenai kunci brankas.

Perlawanan Terakhir Korban

Di lantai 2 itu, pelaku mendatangi kamar korban A. Di sana, pelaku melihat korban sedang bermain HP di kasur.

"Selanjutnya korban menghampiri, pelaku mengasih kode untuk diam," katanya sambil memperagakan pelaku mengacungkan jari telunjuk ke mulut.

"Selanjutnya (pelaku) sempat nanya 'ayahmu di mana?'. Korban sempat menjawab 'keluar'," katanya menambahkan.

Pelaku lalu menanyakan kunci brankas kepada korban A. Korban menjawab 'tidak tahu', sambil mengatakan 'mungkin kakak D tahu' sambil menunjuk kamar kakaknya yang ada di ujung lantai 2.

"Selanjutnya korban dirangkul dibawa ke almari putih di kamar utama bapaknya. Di situ diikat," katanya.

Saat hendak diikat, korban melakukan perlawanan dengan cara 2 kali menendang kemaluan pelaku, lutut, dan siku.

"Dari situ, pelaku langsung menusuk korban," ucapnya.

Korban sempat teriak dan semakin ditusuk. Setelah melakukan penusukan, pelaku turun ke lantai 1 ke tempat brankas. Di dekat brankas itu ditemukan bekas darah di bagian kunci kode dan bagian atas brankas.

"Dipikirnya tidak berhasil, pelaku langsung kabur lewat jalan masuk yaitu jendela pembantu, loncat pagar dan melarikan diri," lanjutnya.

19 Luka di Tubuh Korban

Kepala Instalasi Forensik RSUD Cilegon, Baety Adhayati mengatakan luka di leher korban memutus pembuluh nadi utama dan menyebabkan pendarahan. Luka tusuk lain terdapat di dada kanan menembus paru-paru juga mengakibatkan pendarahan.

"Dari luka-luka yang ditemukan ada 2 sebab kematian, yaitu luka tusuk di leher kiri yang memutus pembuluh nadi utama, yang mana kemudian menyebabkan pendarahan dan luka tusuk dada kanan yang menembus paru dan mengakibatkan pendarahan dan terperangkapnya paru di iga," kata Baety kepada wartawan, Senin (5/1/2026).

Menurut Baety, kedua luka itu menyebabkan korban meregang nyawa. Sementara luka lain di tubuh korban tidak menyebabkan kematian secara biologis.

"Itulah yang menjadi sebab kematian dari korban sedangkan luka lain tidak menimbulkan kematian," ujarnya.

Hasil pemeriksaan dokter, ada 19 luka di tubuh korban yang berasal di luar benda tajam dan tumpul. Rinciannya 10 luka tusuk dan 9 luka akibat benda tumpul mengakibatkan memar, lecet, dan bengkak di tubuh korban.

"Ada 10 luka tusuk dan 9 luka tangkis dan sisanya kekerasan tumpul berupa memar luka lecet dan bengkak," katanya.

Polisi menyita dua pisau dari tangan tersangka. Kedua pisau itu berukuran sekitar 24 cm, salah satu dari pisau itu digunakan pelaku membunuh korban.

"Barang bukti yang kami terima satu bilah pisau dengan gagang kayu ukuran sekitar 24 cm di dalam kertas pembungkus. Ada 2 belah pisau yang satu masih dalam bungkusnya dan satu tidak ada bungkusnya. Ukuran sama dan merek yang sama dan satu buah masker warna hitam," kata perwakilan dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, Kompol Irfan Rofik.

(idn/idn)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |