Pengawasan di Pintu Masuk Bandara Soetta Diperketat Antisipasi Hantavirus

5 hours ago 4

Jakarta - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten memperketat pengawasan di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta untuk mengantisipasi hantavirus. Dinkes juga meminta warga tak panik terkait hantavirus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan pihaknya melakukan sejumlah langkah penanganan, seperti memperketat pengawasan di pintu masuk dari luar negeri, termasuk Bandara Soekarno-Hatta.

"Peningkatan pengawasan di pintu masuk, BBKK Soekarno-Hatta dan BKK kelas 1 Banten. Peningkatan kewaspadaan terhadap suspek hantavirus di seluruh fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan)," kata Ati, Selasa (12/5/2026).

Selain itu, Dinkes akan memperkuat layanan pada RSUD Kabupaten Tangerang sebagai RS sentinel penyakit infeksi emerging. Pihaknya juga akan melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengendalian faktor risiko saat ditemukan kasus.

Ati menyebut Dinas Kesehatan juga akan mengedukasi warga agar tak panik terhadap hantavirus. Ia meminta masyarakat menjaga kebersihan rumah dan tempat tinggal.

"Memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak panik dan dapat berperan aktif dalam pencegahan penyakit hantavirus seperti menghindari kontak langsung dengan reservoir, yaitu tikus, termasuk kotorannya, serta lingkungan yang berpotensi tercemar seperti tempat sampah, got, dll," ucapnya.

"Mencegah tikus masuk ke rumah, menjaga kebersihan di tempat tinggal dan tempat kerja, menyimpan makanan dengan aman dalam wadah tertutup, segera datang ke fasyankes jika mengalami gejala suspek hantavirus," ujarnya.

Penemuan 1 Kasus

Ati menyebut kasus hantavirus di Provinsi Banten ditemukan pada satu orang pada November 2025. Saat ini, pasien tersebut sudah sembuh.

"Kasus hantavirus pertama kali ditemukan di Provinsi Banten pada bulan November tahun 2025 sebanyak 1 orang. Kondisi saat ini sudah sembuh," katanya.

Gejala yang dialami adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri betis, lemas, mual, muntah, dan kulit menguning.

Ati menjelaskan kasus ini terjadi karena kontak langsung dengan reservoir utama, yaitu tikus. Hantavirus memiliki risiko penularan antarmanusia yang sangat rendah.

"Kasus ini termasuk tipe HFRS (hemorrhagic fever with renal syndrome), risiko penularan antarmanusia sangat rendah dan pasien sudah ditangani sesuai prosedur hingga sembuh. Hasil penyelidikan epidemiologi juga tidak menemukan kontak erat yang terinfeksi hingga saat ini," katanya.

(aik/whn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |