Nasib Terkini SDN Pocin 1 Depok yang Kini Rata dengan Tanah

6 hours ago 2
Jakarta -

Bangunan lama SD Negeri Pondok Cina (Pocin) 1 di Jalan Margonda, Depok, Jawa Barat, akhirnya dibongkar setelah sempat menjadi polemik berkepanjangan. Sebagian besar bangunan sekolah tersebut kini telah rata dengan tanah.

Polemik terkait SDN Pocin 1 bermula pada 2022. Saat itu, Pemerintah Kota Depok berencana membongkar bangunan sekolah untuk pembangunan Masjid Raya Depok.

Rencana tersebut memicu penolakan dari sebagian orang tua murid yang khawatir terhadap kelangsungan pendidikan anak-anak mereka. Sejumlah orang tua kemudian menggugat Wali Kota Depok saat itu, Mohammad Idris, ke PTUN Bandung dan PTUN Jakarta. Namun, gugatan tersebut ditolak pengadilan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain menggugat ke PTUN, kelompok orang tua murid juga melaporkan persoalan tersebut ke kepolisian, Ombudsman RI, hingga Komnas HAM. Di tengah polemik itu, Pemkot Depok memindahkan seluruh siswa SDN Pocin 1 ke gedung SDN Pocin 5. Selanjutnya, SDN Pocin 5 resmi berganti nama menjadi SDN Pocin 1.

Setelah rencana pembangunan Masjid Raya Depok batal, bangunan lama SDN Pocin 1 sempat tidak dimanfaatkan. Wali Kota Depok Supian Suri kemudian memutuskan lahan tersebut dialihfungsikan menjadi Rumah Kreatif Anak Istimewa.

Proyek pembangunan rumah kreatif itu memiliki nilai anggaran Rp 15,7 miliar dan ditargetkan selesai dalam waktu 165 hari.

Rata dengan Tanah

Pantauan detikcom di lokasi, Senin (13/7/2026), proses pembongkaran bangunan dilakukan dengan menggunakan alat berat. Para pekerja tampak melakukan sisa puing bangunan.

Sejumlah mobil pikap terlihat mengangkut puing bangunan sekolah. Seluruh bagian depan bangunan SDN Pocin 1 ini sudah dibongkar.

Hanya menyisakan gapura bertuliskan 'SELAMAT DATANG DI SD NEGERI PONDOKCINA 1'. Pagar sekolah juga sudah ditutup dengan seng.
Tampak papan informasi proyek yang terpasang di lokasi. Papan proyek itu menjelaskan lokasi eks SDN Pocin 1 akan diubah menjadi rumah kreatif anak istimewa.

"Pembangunan dan penataan lingkungan rumah kreatif anak istimewa," demikian tertulis di papan proyek itu.

Warga Kecewa

Warga mengaku kecewa dengan pembongkaran bangunan SDN 1 Pocin, salah satunya, Agus Dowan yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Ia menyayangkan pembongkaran tersebut.

"Kecewalah," ujar Agus saat ditemui di eks SDN 01 Pocin, Senin (13/7/2026).

Agus mengatakan SDN Pocin 1 ini berdiri sejak 1960-an. Ia menilai alih fungsi lahan menjadi Rumah Kreatif Anak Istimewa bukan solusi yang bijak.

Ia pun mendesak Pemkot Depok untie memberikan penjelasan transparan kepada publik. Terlebih, menurut Agus, anggaran yang digelontorkan untuk proyek Rumah Kreatif Anak Istimewa itu tidak sedikit.

"Alasannya (kecewa) karena kan sekolah ini dari tahun '60 udah ada, Pak. Udah berapa alumni dari tahun '60 sampai sekarang? Itu paling pertama, sebagai warga di sini, ya kan. Itu sangat disesali sekali. Dia bangun ini buat apa? Kan gitu," ujar Agus.

"Jangan sampai nanti jadi warga punya berpikiran, 'Ah, ini mah simulasi, kamuflase doang ini biar budget turun', kan begitu. Proyekan, ya kan? Lah emangnya bikin ini semua nggak pakai proposal? Nggak pakai tender? Iya. Hah? SD dilarang, sekarang dibikin untuk difabel. Nah, itu. Di mana visi-misinya di mana? Tujuannya apa gitu loh," imbuhnya.

Di sisi lain, Agus mengaku mendengar kabar bahwa lokasi tanah tersebut awalnya merupakan tanah wakaf dari sejumlah warga. Oleh karena itu, ia meminta Pemkot Depok menunjukkan bukti valid bahwa proses ganti rugi atau penyelesaian hak atas tanah tersebut sudah rampung.

"Dulu denger-denger ini tanah, ini tanah wakaf warga. Cuma kan, ya kita kan, kita nggak tahu nih kejelasan pemerintah, katanya udah dibayarin, kan gitu tuh sama pemerintah," kata Agus.

"Kalau warga ada yang ngerasa tanah wakafnya belum dibayar sama Pemda, gimana coba? Ada nggak bukti pembayaran Pemda itu? Enggak bisa sembarangan gitu, ya kan," lanjutnya.

Saksikan Live DetikPagi:

(eva/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |