Lapangan Kerja Jadi Daya Tarik Sejumlah Eks Napi Balik ke Nusakambangan

2 hours ago 2

Cilacap -

Pulau Nusakambangan dikenal menyeramkan. Label pulau penjara dengan pengawasan superketat membuat pulau yang terletak di Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), itu disebut Alcatraz-nya Indonesia.

"Rasanya saya sedih pertama berada di sini, pikiran kacau," kata Jeffry M Utomo kepada detikcom, Senin (2/3/2026).

Pria asal Semarang ini berstatus mantan narapidana Lapas Kembang Kuning, Nusakambangan. Meski pernah merasa trauma, kini Jeffry kembali ke Nusakambangan karena melirik adanya lapangan kerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya balik ke sini karena di luar itu cari kerja susah. Ada kesempatan kemarin ditawari di sini, ya saya pilih di sini lagi. Di sini saya digaji tiap bulan, bisa hidupi keluarga," cerita dia.

Sejumlah mantan napi kembali ke Nusakambangan untuk bekerja.Jeffry M Utomo. (dok. UPT Ditjenpas Nusakambangan)

Diketahui meski pengawasan dilakukan super ketat, namun bukan berarti warga binaan pemasyarakatan 'minim gerak' di Pulau Nusakambangan. Sejak di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Pulau Nusakambangan memiliki wajah lain yakni sebagai pulau ketahanan pangan dan kemandirian.

"Tadinya keluarga nggak mendukung saya kerja di sini, disuruh cari kerja saja di Semarang saja. Di sana nyari kerja susah saya, saya dipandang sebelah mata. Walaupun saya mantan napi, saya kan juga manusia, yang penting saya tetap tanggung jawab. Terpaksa keadaan, saya terima tawaran di sini," jelas dia.

Kementerian Imipas yang fokus memaksimalkan tugas pokok dan fungsi pembinaan, memanfaatkan lahan-lahan tidur atau lahan idle di pulau ini sejak awal 2025, untuk prasarana pelatihan kemandirian narapidana di antaranya peternakan domba, peternakan ayam petelur, peternakan bebek, sawah padi, kebun jagung serta sayur mayur hingga kolam budidaya ikan Sidat, Nila, udang dan sebagainya.

Tak hanya di sektor pangan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas Kemenimipas) membuat bengkel UMKM pengolahan sampah organik, pelintingan rokok, pupuk kandang. Di pulau ini juga terdapat pabrik sederhana untuk mengolah limbah fly ash bottom ash (FABA) dari PLTU menjadi bahan material batako dan paving block.

Sejumlah mantan napi kembali ke Nusakambangan untuk bekerja.Miftahul Bowo Saputera. (dok. UPT Ditjenpas Nusakambangan)

Jeffry kembali sebagai pekerja di peternakan bebek. Dia bercita-cita memiliki peternakan bebek sendiri kelak.

"Saya akhirnya ikut program pembinaan peternakan bebek. Keterampilan yang saya dapat bisa. Selama di sini banyak manfaat, yang tadinya nggak bisa, nggak tahu bebek, jadi tahu sekarang. Apa yang saya dapat di sini berguna, sangat berguna," ungkap dia.

Kerja di Nusakambangan Biar Tak Kumat Lagi

Mantan napi Lapas Kembang Kuning lainnya, Miftahul Bowo Saputera, mengatakan dirinya kembali untuk bekerja di tambak atau kolam budidaya. Dia pun menyerap ilmu seputar budidaya ikan Bandeng, Nila hingga udang Vaname.

"Saya mengikuti program pelatihan di tambak. Saya ikut budidaya udang, Bandeng dan ikan Nila. Setelah bebas kemarin, pihak vendor mempercayakan saya mengurus tambak," ucap Bowo. Vendor dimaksud adalah pihak ketiga swasta alias mitra lapas.

Area budidaya tambak udang vaname di Pantai Pasir putih Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (5/11/2025). Lahan seluas 32 hektare di tepi pantai belakang Lapas Pasir Putih Nusakambangan dikembangkan untuk budidaya udang vaname dalam rangka mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/rwa.Area budi daya tambak udang Vaname di Pantai Pasir putih Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (5/11/2025). (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

Pria asal Magelang, Jawa Tengah (Jateng) ini padahal mengaku tersiksa jauh dari keluarga dan sulit komunikasi saat masih menjalani masa pidana di Nusakambangan. Namun lagi-lagi kesulitan mencari kerja jadi alasannya kembali.

"Saya kembali ke sini ya yang pasti di sini sudah mendapat pekerjaan. Saya mikirnya di luar susah cari kerja, bisa nanti kumat lagi (melakukan pidana), masuk (dipidana penjara lagi. Mending di sini (Nusakambangan) saja," jelas Bowo.

Awalnya, kata Bowo, keluarga pun menyangsikan rencananya kembali ke lingkungan Nusakambangan. Namun setelah Bowo menunjukkan dirinya benar-benar bekerja di tambak dan diupah, keluarga merestui.

"Keluarga awal-awal nggak percaya kalau saya bisa balik ke sini sebagai pekerja. Tapi setelah sebulan, dua bulan baru percaya saya benar kerja di sini," tutur Bowo.

Sejumlah mantan napi kembali ke Nusakambangan untuk bekerja.Subur Makmur. (dok. UPT Ditjenpas Nusakambangan)

Bowo telah mendapatkan dampak positif dari program ketahanan pangan dan kemandirian ini. Oleh sebab itu, dia berpesan kepada warga binaan lainnya untuk semangat memanfaatkan prasarana pelatihan yang tersebar di lapas.

"Program pembinaan ini bagus karena bisa melatih para napi yang masih di dalam, yang masih Jalani masa pidana, akhirnya kita mendapat ilmu. Dulu saya nggak tahu soal perikanan, sekarang tahu soal perikanan. Saya dorong teman-teman yang masih di dalam semangat terus, dan semoga nanti saat keluar, pelatihan ini bisa berguna untuk teman-teman," harap Bowo.

Keluarga Awalnya Khawatir, Akhirnya Senang

Mantan napi Nusakambangan asal Semarang, Rian Candika, merasa bersyukur karena tak lama menghirup udara bebas, dia ditawari kembali membantu mengelola tambak. Meski keluarganya semula khawatir.

"Pascabebas saya diajak kerja di sini untuk mengelola tambak. Saya ke sini tentu karena ada kerjaan dengan upah mingguan. Keluarga awalnya mereka khawatir kalau saya kembali ke Nusakambangan, akan susah dapat kabar. Tapi mereka akhirnya percaya dan senang karena saya di sini benar-benar dapat kerjaan," ungkap Rian.

Keseruan Irfan Hakim, Raffi Ahmad dan Menteri Imipas Agus Andrianto di peternakan domba Garut Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (5/11/2025).Peternakan domba Garut Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (5/11/2025). (Audrey/detikcom)

Rian bebas dari Lapas Kembang Kuning Nusakambangan pada Oktober 2024. Kala itu belum ada program ketahanan pangan dan UMKM seperti saat ini.

Dia hanya tahu usai Pemasyarakatan di bawah Kementerian Imipas, sejumlah lahan tidur diproduktifkan. Karena belum memiliki keterampilan di awal bekerja, dia ditugasi membuka lahan dan membersihkan taman-taman lapas. Kini dia telah mengikuti pelatihan budidaya perikanan.

"Saya di sini pernah, dan bebas Oktober 2024. Saya merasakan di sini ndak seburuk yang awal saya bayangkan. Tantangan terbesar saya di sini pertama kali adalah menata mental. Saya dilibatkan ikut membersihkan hutan sekitar lapas, saya juga bersih-bersih taman," terang Rian.

Berada di Nusakambangan juga mempengaruhi kehidupan spiritual Rian. Dia mengaku ibadahnya semakin tertata.

"Di sini saya merasa ibadah lebih lagi, lebih tertata. Pembina di sini, bapak-bapak di sini membantu mengajari kita cara kembali ke masyarakat," tutur dia.

Di samping bekerja di Nusakambangan, Rian menyimpan harapan kepada masyarakat agar menerima dirinya kembali. Dia mengatakan setiap manusia tak luput kesalahan.

"Kita sama-sama manusia, kita sama-sama pernah salah. Bedanya saya ketahuan, anda belum," ucap Rian.

Senada dengan Rian, mantan napi bernama Subur Makmur juga merasakan dampak positif pembinaan terhadap kehidupan spiritualnya. Pria asal Wonosobo yang kini bekerja sebagai kuli bangunan di Nusakambangan ini mengaku sebelum mengenal lapas, dirinya jauh dari ibadah.

"Di sini saya ikut bangun masjid, saya jadi kuli bangunan. Dulu ibadahnya kurang, sekarang semakin sering karena waktu saya masih di sini (berstatus narapidana) petugas membantu mengarahkan. Saya kembali ke sini untuk membantu operasional Lapas Kembang Kuning," terang Subur.

"Di luar cari kerja kan susah, ya wes (ya sudah) saya ikut kerja di sini," pungkas dia.

(aud/jbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |