KRL Buatan INKA Masuk Bengkel, Anggota DPR: Ini Kereta Baru Lho

3 days ago 15
Jakarta -

Kapoksi PDIP Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, menyoroti KAI Commuter Indonesia (KCI) mengurangi jumlah perjalanan kereta rel listrik (KRL) rute Bogor-Jakarta Kota hingga akhir September karena perawatan armada KRL. Mufti mengaku heran lantaran kereta INKA tersebut merupakan produksi baru.

"Pemeriksaan demi keselamatan, tentu kita dukung. Keselamatan penumpang tidak boleh ditawar sedikit pun. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar kami, ini kereta baru lho. Mengapa ketika baru beroperasi, justru keandalan produknya sudah menimbulkan persoalan sampai berdampak pada pengurangan 17 perjalanan?" kata Mufti Anam kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).

Mufti meminta INKA untuk menjelaskan permasalahan yang dihadapi sebenarnya. Ia menyinggung keberpihakan luar biasa yang sudah diberikan negara terhadap industri dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"INKA harus menjelaskan apa masalah sebenarnya, apa hasil evaluasinya dan apa jaminannya persoalan serupa tidak terus berulang. INKA ini kurang apa? Negara sudah memberikan keberpihakan luar biasa kepada industri dalam negeri," kata Mufti.

"Pasarnya diberikan, proyeknya diberikan, dukungan pemerintah diberikan, bahkan produk nasional terus kita dorong untuk menjadi prioritas. Jadi kalau negara sudah memberikan 'karpet merah', harusnya dijaga bahkan ditingkatkan dong kualitasnya. Jangan kemudian karena merasa produknya pasti digunakan, kualitas dan kendalanya di nomor duakan," tambahnya.

Ia mengatakan mencintai produk dalam negeri bukan berarti harus menutup mata atas kekurangan yang ada. Mufti juga meminta KAI menjelaskan apakah ada cadangan kereta di tengah pengurangan 17 perjalanan tersebut.

"Saya sangat mendukung produk Indonesia. Tetapi mencintai produk dalam negeri bukan berarti kita harus tutup mata terhadap kekurangan. Nasionalisme jangan dijadikan tameng untuk meminta masyarakat terus memaklumi produk yang belum andal. Justru kalau kita ingin INKA besar, dipercaya rakyat dan suatu saat mampu bersaing di pasar dunia, standar kita terhadap INKA harus lebih tinggi, bukan lebih rendah. KRL Jabodetabek melayani kebutuhan masyarakat yang sangat besar setiap hari. Seharusnya ada armada cadangan dan rencana kedaruratan yang memadai," katanya.

Mufti pun tak mau mempersempit permasalahan yang dihadapi INKA ini dengan mengarahkan ke produk impor. Ia pun mendorong ada solusi strategis menyikapi perjalanan kereta yang merugikan penumpang tersebut.

"Menurut saya persoalan ini jangan dipersempit menjadi apakah kita pro impor Jepang atau anti impor. Itu bukan inti masalahnya. Yang utama adalah memastikan armada cukup, aman, andal dan pelayanan masyarakat tidak terganggu. INKA harus meningkatkan kualitasnya, KAI harus memperkuat armada cadangannya, dan pemerintah harus memastikan transisi menuju kemandirian industri tidak mengorbankan penumpang," ungkap Mufti.

Mufti mengatakan Komisi VI DPR ingin produksi dari INKA naik kelas, tetapi ia menekankan keselamatan dan pelayanan penumpang mesti menjadi prioritas. Ia pun berbicara soal peluang impor jika dirasa masih dibutuhkan untuk mengakomodasi perjalanan penumpang.

"Kalau memang benar-benar dibutuhkan, impor bukan barang haram kok. Kita tentu ingin INKA menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi jangan sampai nasionalisme justru membuat rakyat harus membayar dengan kereta yang semakin padat, perjalanan berkurang, dan pelayanan terganggu. Impor harus menjadi pilihan terakhir, dilakukan secara transparan, terukur dan hanya ketika kebutuhan armada belum mampu dipenuhi dari dalam negeri," ungkapnya.

Mufti pun mendorong INKA melakukan perbaikan kualitas dari produk yang dihasilkan. Ia berharap masyarakat dapat merasakan transportasi yang nyaman dan manusiawi.

"Jadi jangan pertentangkan impor dengan nasionalisme, yang kita bela bukan negara asal keretanya, yang kita bela adalah rakyat yang setiap hari bergantung pada KRL. Sambil INKA kita dorong memperbaiki kualitas dan naik kelas, negara wajib memastikan masyarakat tetap mendapatkan transportasi yang aman, andal, dan manusiawi," kata dia.

Penjelasan INKA

KAI Commuter Indonesia mengurangi jumlah perjalanan KRL rute Bogor-Jakarta Kota hingga akhir September karena perawatan armada KRL. INKA bertanggung jawab atas perawatan KRL bermasalah tersebut.

Senior Manager Corporate Communication dan Representative Office PT INKA, Nanang Agung Rohmandiyas, menyebut pihaknya terjun langsung dalam pelaksanaan perawatan rangkaian sarana KRL seri iE305 produksi INKA. Menurutnya, pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan seluruh komponen bekerja dengan baik.

"Sejak awal proses ini berlangsung, tim engineering dan quality assurance kami sudah terjun langsung bersama tim KAI Commuter untuk memastikan setiap komponen, termasuk bogie dan sistem propulsi, berfungsi optimal. Kami mendukung penuh proses ini demi memastikan keandalan dan keselamatan sarana," kata Nanang dalam rilis bersama KCI dan INKA, Selasa (8/9).

Dia menegaskan komitmen INKA terhadap kualitas dan keandalan produk yang digunakan dalam layanan KRL. Sebagai bagian dari proses general check up ini, INKA akan terus berkoordinasi dengan KCI untuk memastikan seluruh rangkaian yang diproduksi memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan bagi pengguna.

"Bagi kami, ini adalah bentuk tanggung jawab sebagai manufaktur dan sinergi dalam ekosistem perkeretaapian. Tentunya dengan tujuan meningkatkan kualitas produk demi kenyamanan dan keselamatan pengguna Commuter Line," ucap Nanang.

Saksikan Live DetikPagi :

Simak juga Video 'KRL Anjlok di Jakarta Kota, Penumpang di Manggarai Sempat Membeludak!':

(dwr/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |