Penangkapan ikan sapu-sapu masih terus dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dalam sehari, sebanyak 68.800 ikan sapu-sapu seberat 6,9 ton ditangkap di lima wilayah Jakarta untuk dimusnahkan.
"Berdasarkan data yang dihimpun, total ikan sapu-sapu yang ditangkap mencapai 68.880 ekor dengan berat sekitar 6,98 ton," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta adalah Hasudungan A Sidabalok saat dimintai konfirmasi, Jumat (17/4/2026).
Ia mengatakan wilayah dengan hasil tangkapan terbesar adalah Jakarta Selatan (Jaksel), yakni sebanyak 63.600 ekor dengan berat mencapai 5,3 ton. Penangkapan dilakukan di kawasan Pintu Air Outlet Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, di Jakarta Timur (Jaktim), tercatat 4.128 ekor ikan dengan berat 825,5 kg yang ditangkap di 10 titik kecamatan. Di Jakarta Pusat (Jakpus), petugas menangkap 536 ekor dengan berat 565 kg di tujuh titik kecamatan.
Untuk wilayah Jakarta Utara (Jakut), sebanyak 545 ekor ikan dengan berat 271 kg ditangkap dari saluran penghubung RW 06, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading.
"Sedangkan di Jakarta Barat, 71 ekor ikan dengan berat 17 kg ditangkap di Kali Anak TSI, Kelurahan Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng," ungkapnya.
Operasi ini menjadi bagian dari upaya pengendalian populasi ikan sapu-sapu yang dinilai merusak ekosistem perairan. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan terus dilakukan secara berkala guna menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah Jakarta.
Populasi Ikan Sapu-sapu di Jakarta Tembus 60%
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta. Pramono mengatakan jumlah ikan invasif tersebut telah menembus lebih dari 60 persen.
"Dari hasil telaah diperkirakan di atas 60 persen ikan sapu-sapu itu sekarang ada di Jakarta," kata Pramono saat meninjau penangkapan ikan sapu-sapu di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4).
Pramono menjelaskan, dominasi ikan sapu-sapu menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan. Ikan ini bersifat invasif dan memangsa telur ikan lain, sehingga membuat spesies lokal sulit bertahan hidup.
"Ikan ini sangat invasif, kemudian juga membuat ikan-ikan lain terutama yang endemik lokal itu hampir semuanya tidak bisa survive karena telurnya dimakan," ujarnya.
Selain itu, ikan sapu-sapu dinilai berbahaya jika dikonsumsi. Pramono menyebutkan kandungan residu dalam tubuh ikan tersebut tergolong tinggi.
"Rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Itu berbahaya sekali kalau dikonsumsi," tegasnya.
KKP Bakal Revisi Aturan
Pemerintah pun berencana merevisi Peraturan Menteri (Permen) untuk pengendalian populasi ikan sapu-sapu. Dirjen Perikanan Budi Daya KKP, Haeru Rahayu, mengatakan revisi diperlukan untuk menyesuaikan kondisi di lapangan.
"Saat ini sedang dilakukan revisi supaya bisa lebih aplikatif dalam rangka pengendalian populasi ikan sapu-sapu ini," ujar Haeru di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4).
Dia mengatakan pengendalian ikan sapu-sapu bukan perkara mudah. Secara biologis, katanya, belum ada predator alami yang efektif memangsa ikan tersebut.
Dia mengatakan pendekatan kimia malah berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Dia mengatakan saat ini penangkapan langsung ikan sapu-sapu menjadi salah satu cara.
"Banyak cara sebetulnya, tapi secara biologis belum ada predatornya. Secara kimia juga punya persoalan dengan lingkungan. Metode konvensional seperti ini yang paling efektif hingga saat ini," ujarnya.
Haeru menyatakan siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menekan populasi ikan sapu-sapu yang bersifat invasif. Banyaknya ikan sapu-sapu malah mengancam keberadaan ikan lain.
(amw/amw)

















































