Jakarta -
Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menjelaskan soal usulan skema kenaikan tarif Transjakarta menjadi Rp 5.000 dan Transjabodetabek Rp 10.000. Skema tarif dengan harga tersebut berlaku dalam waktu tiga jam.
Ketua DTKJ Sugihardjo menjelaskan usulan tarif tersebut sudah terintegrasi dengan layanan BRT dan non BRT serta mikrotrans. Sugihardjo menyebut, selama tiga jam, pengguna dapat naik Transjakarta dan ganti moda yang sudah terintegrasi dengan tarif tetap, tanpa ada potongan saat transit.
"Rp 5 ribu itu udah ada tarif integrasi dan itu berlaku 3 jam. Jadi kalau misalnya orang rutenya mau ke kantor atau pulang kantor mau mampir dulu ketemu rekan mau ngopi dulu trus balik lagi ke Transjakarta nggak bayar lagi, karena berlakunya untuk selama 3 jam," kata Sugihardjo kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sugihardjo mengatakan selain meneruskan aspirasi Pemprov DKI Jakarta, DTKJ juga menampung aspirasi masyarakat mengenai tarif Transjakarta. Sugihardjo menyampaikan durasi layanan tiga jam ini menjadi nilai tambah yang diperoleh masyarakat.
"DTKJ kan lembaga independen bukan hanya meneruskan aspirasi dari pemda, api juga meneruskan aspirasi dari masyarakat. Kita berdiri di tengah. Oke naiknya karena wajar udah 21 tahun nggak naik, tapi masyarakat harus mendapatkan nilai tambah. Nilai tambahnya itu apa, yang pertama durasi layanan dari sekali perjalanan menjadi 3 jam," ujarnya.
"Kalau sebelumnya kan single trip ya, sekali perjalanan selama nggak keluar dari halte kan gitu. Nah jelas kan itu manfaatnya beda. Yang kedua tadinya single layanan, Transjakarta bayar sendiri, BRT bayar sendiri. Kalau mikrotrans nggak bayar karena kan uji coba. Kalau sekarang kan Rp 5 ribu yaudah. Kalau selama dalam waktu tiga jam nggak bayar lagi udah, Rp 5 ribu," lanjutnya.
Sugihardjo mengatakan selama perjalanan tidak lebih dari tiga jam, maka tidak akan ada pemotongan saldo meski transit. "Misalnya saya ngetap pertama jam 07.00 WIB, mau ngetap yang lain selama kurang dari tiga jam nggak dipotong. Tapi kalau saya ngetap berikutnya lewat jam 10.00 WIB lewat tiga jam, baru di-charge," ucapnya.
Sementara untuk tarif Transjabodetabek jadi Rp 10 ribu rencananya akan diintegrasikan juga dengan MRT dan LRT. Meski demikian harus ada persiapan yang matang sebab butu pembaruan sistem lagi jika rencana ini direalisasikan.
"Selama ini Transjabodetabek Rp 3.500. Nanti Transjabodetabek ini bukan hanya untuk luar kota, tapi sekaligus dia bisa menikmati tadi kombinasi antara Transjakarta, BRT, non BRT dan mikrotrans. Kita mau dorong Transjabodetabek, udah disetujuin oleh pemda tapi belum keputusan gubernur itu termasuk transbandara. Jadi kalau Transjabodetabek ini kalau mau ke bandara, mau nyambung Transjakarta BRT non BRT itu semuanya Rp 10 ribu. Ini tahap awal ya. Saya mendorong Transjabodetabek itu bukan hanya dengan moda bus. Saya mau dorong Rp 10 ribu itu sekalian MRT dan MRT. Jadi kalau sekalian naik MRT dan LRT tetep Rp 10 ribu," imbuhnya.
Pramono Kaji Usulan Tarif
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku telah menerima usulan dari DTKJ terkait penyesuaian tarif Transjabodetabek, termasuk skema tarif berlangganan untuk koridor-koridor yang padat. Usulan tersebut segera dikaji oleh Pemprov DKI Jakarta.
"Saya sudah mendapatkan usulan tersebut. Nanti kami bahas dan segera memang harus diambil keputusan terutama untuk Transjabodetabek yang ke bandara," kata Pramono kepada wartawan, Selasa (7/7).
Pramono mengatakan pembahasan penyesuaian tarif Transjabodetabek kini juga dilakukan bersama DPRD DKI Jakarta. Ia mengakui keputusan itu molor dari target yang pernah disampaikannya.
"Yang pada waktu itu saya janjikan dalam waktu tiga bulan akan kita umumkan. Ini sudah lebih dari tiga bulan sehingga sekarang ini memang kita juga sedang membahas dengan DPRD Provinsi DKI Jakarta mengenai hal tersebut," ujarnya.
Tonton juga video "DTKJ Usul Tarif Transjakarta Rp 5.000, TransJabodetabek Rp 10.000"
(dek/rfs)


















































