Jakarta -
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mendorong perubahan fondasi kurikulum Polri. Perubahan yang dimaksud agar terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seturut misi Presiden Prabowo Subianto.
"Kurikulum Polri secara fundamental harus dilakukan perubahan. Kalau misalnya kurikulum Polri secara fundamental tidak dilakukan perubahan, maka kejadian-kejadian di tahun lalu tuh pasti akan terjadi lagi," kata Komjen Dedi saat groundbreaking Laboratorium Sosial Sains Kepolisian di Kompleks Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Senin (30/3/2026).
Kejadian yang dimaksud adalah perilaku arogan polisi hingga pelanggaran lainnya yang dilakukan anggota dan mencederai kepercayaan publik pada Polri. "Abuse of power, police brutality, ketidakhormatan terhadap HAM, ketidakhormatan pada peradaban kemanusiaan, itu akan terjadi lagi (bila fondasi pendidikan Polri tak diubah)," sambung Komjen Dedi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyampaikan pemerintah kini tengah menggenjot peningkatan kualitas SDM melalui berbagai program di bidang pendidikan. Tujuannya, menurut Komjen Dedi, agar peradaban Indonesia mengalami kemajuan.
"Pemerintah melalui program-programnya Pak Prabowo, Asta Cita, keunggulan SDM itu merupakan suatu keharusan yang beliau sudah persiapkan. Membangun Sekolah Rakyat, membangun sekolah-sekolah unggulan, memberikan program beasiswa LPDP khususnya kepada peminatan sains dan teknologi, serta kedokteran. Karena hanya melalui itulah peradaban suatu negara bisa maju," ungkap dia.
Komjen Dedi menuturkan misi pemerintah memajukan bangsa juga tertuang dalam Asta Cita. Oleh sebab itu, Polri harus mengimbangi dengan melakukan lompatan-lompatan strategis dalam membentuk dan mengelola SDM.
"Dari 8 program unggulan, hampir sebagian besar yang dibuat oleh Bapak Presiden kita, semuanya adalah peningkatan di bidang sumber daya manusia. Lompatan yang harus dilakukan itu," tutur dia.
Ia menerangkan Laboratorium Sosial Sains Kepolisian, yang sedang didirikan, adalah fasilitas untuk membantu personel Polri berpikir secara ilmiah dan menganalisis secara holistik atas kejadian sosial di masyarakat. Dengan harapan, polisi dapat menentukan pendekatan yang tepat dalam menyikapi kejadian di tengah masyarakat.
"Laboratorium Sosial Sains Kepolisian itu sudah berbasis AI, coding, dan teknologi digital. Kita nggak bisa lagi ngajarin taruna ini konvensional terus, tidur saja taruna itu nanti. Itu tantangan kita semua, tanggung jawab kita semua," pungkas Komjen Dedi.
(aud/zap)
















































