Sempat Jadi Pemulung, Fikri Temukan Kehidupan Baru di Sekolah Rakyat

3 hours ago 5

Jakarta -

Kerasnya kehidupan memaksa Fikri yang baru berusia 6 tahun harus memulung barang bekas untuk menyambung hidup. Videonya saat berburu barang di jalanan pun sempat viral hingga perhatian negara datang dan Fikri berkesempatan memulai kehidupan baru melalui Sekolah Rakyat.

Fikri adalah anak kedua dari pasangan Sri dan M. Ulmi. Kehidupan Fikri tidak sama seperti anak-anak seusianya. Di saat anak-anak lain bermain bola, petak umpet atau bahkan belajar bersama orangtuanya, Fikri harus mengais sampah, mencari botol-botol kosong yang bisa dijual kembali untuk menyambung hidup.

Kedua orang tua Fikri pun sudah berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Perpisahan itu juga membuat Fikri terpisah dari ketiga saudaranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fikri dan adiknya Noval (4) tinggal bersama ayahnya di Jakarta. Sementara kakaknya tinggal bersama paman di Cianjur dan adik bungsunya tinggal bersama ibu mereka yang kini sudah menikah lagi di Cibugel, Sumedang.

Lika-liku kehidupan Fikri pun berlanjut. Ayah sambungnya kini mendekam di balik jeruji besi. Fikri pun terpaksa memulung untuk membantu neneknya menghidupi dia dan adiknya. Saat itulah videonya menjadi viral dan mengusik rasa iba banyak orang.

Viralnya video tersebut pun menjadi titik balik kehidupan Fikri dan mengantarkannya ke Sekolah Rakyat. Pihak kepolisian mengantarkan Fikri kepada ibunya di Sumedang. Namun, karena keadaan keluarga ibunya kurang layak dan usia Fikri sudah memasuki usia sekolah, dia pun diusulkan untuk menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 4 Sumedang menerima kedatangan Fikri pada 30 Maret 2026. Awalnya, Fikri sempat mengalami kesulitan beradaptasi karena harus tinggal di lingkungan baru bersama orang-orang yang belum dikenalnya.

Namun, para wali asuh, wali asrama, dan guru terus mendampingi Fikri hingga ia perlahan dapat menyesuaikan diri di Sekolah Rakyat.

Berkat pendampingan tersebut, Fikri yang sebelumnya terlihat murung kini mulai menunjukkan perubahan. Ia lebih sering tersenyum dan tampak ceria saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Kehadirannya juga mendapat sambutan hangat dari anak-anak lain yang menyayanginya karena tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, sehingga Fikri merasa nyaman tinggal di Sekolah Rakyat.

"Aku tinggal di sini (Sekolah Rakyat). Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. semua baik-baik," papar Fikri dalam keterangan tertulis, Jumat (17/4/20260.

Bagi Fikri, Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang memberinya perhatian dan pendampingan. Di sana, Fikri mendapatkan dukungan dari para pengasuh dan guru yang terus membantunya beradaptasi serta memberi semangat dalam setiap proses belajarnya.

Ia juga mulai menikmati kebersamaan dengan teman-teman seusianya melalui aktivitas bermain dan belajar bersama, pengalaman yang sebelumnya jarang ia rasakan.

Selain itu, kebutuhan gizi Fikri juga terpenuhi karena Sekolah Rakyat menyediakan makanan bergizi bagi seluruh siswa. Fikri pun mengaku senang dengan menu makanan yang disediakan karena rasanya enak dan membuatnya lebih nyaman tinggal di sana.

"Aku juga bisa makan, makanannya enak banget. Aku jadi kuat," kata Fikri.

Fikri adalah salah satu dari banyak anak yang menjadi bagian dari program Sekolah Rakyat. Di siini, Fikri bersama anak-anak lainnya mendapatkan pendampingan dan perawatan dari para wali asuh, wali asrama, serta guru, termasuk pemenuhan kebutuhan makan dan dukungan selama proses belajar.

Melalui lingkungan yang lebih aman dan terarah, anak-anak di Sekolah Rakyat diharapkan dapat tumbuh sehat, bahagia, dan belajar secara maksimal. Dengan begitu, mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |