Air Laut Masuk ke Kali Angke, PAM Jaya Minta SPAM Hutan Kota Setop Produksi

3 hours ago 3
Jakarta -

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Hutan Kota yang berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, terdampak kondisi kemarau panjang. Penurunan muka air Kali Angke menyebabkan air laut merembes masuk ke sungai sehingga memengaruhi kualitas air baku.

Direktur Operasional PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan kondisi tersebut membuat pihaknya meminta pengelola SPAM Hutan Kota menghentikan sementara produksi air. SPAM Hutan Kota sendiri memiliki kapasitas produksi sekitar 310 liter per detik (lps).

"Karena memang kondisi saat ini sumber air baku SPAM Hutan Kota berasal dari Kali Angke yang saat ini juga mengalami penurunan kualitas air. Sehingga untuk mendapatkan air dari Kali Angke yang kemudian diproduksi di SPAM Hutan Kota sesuai dengan Permenkes 2/2023 tidak dimungkinkan," kata Syahrul di Kantor PAM Jaya, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syahrul menjelaskan, penurunan muka air Kali Angke akibat kemarau membuat air laut merembes masuk ke aliran sungai. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kadar Total Dissolved Solids (TDS) pada air baku.

Direktur Teknik PAM Jaya Santika menambahkan, kadar TDS di Kali Angke dalam satu hingga dua pekan terakhir sempat melonjak hingga mencapai 10.000 ppm. Padahal, batas TDS yang dipersyaratkan untuk air bersih berkualitas air minum berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 maksimal hanya 300 ppm.

"Kita dalam kurun waktu 1-2 minggu ke belakang itu sempat naik sampai di angka 10.000 ppm. Sementara yang dipersyaratkan oleh Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 bahwa TDS di air bersih berkualitas air minum itu hanya 300 ppm," ujar Santika.

Menyikapi kondisi tersebut, PAM Jaya melakukan rekayasa pengaliran air untuk menjaga pasokan kepada pelanggan. PAM Jaya mencatat memiliki 21 sumber air yang digunakan untuk menyuplai kebutuhan air di wilayah Jakarta.

"Hal ini yang menyebabkan kami meminta untuk stop operasi di IPA Hutan Kota sebesar 310 lps. Tetapi PAM Jaya sudah concern terhadap hal tersebut sehingga kami melakukan rekayasa pengaliran air," jelas Santika.

Santika menyebut dampak rekayasa pengaliran air tersebut ditargetkan dapat mulai dirasakan pelanggan dalam waktu maksimal 2 x 24 jam. Hal ini disebabkan butuhnya waktu bagi air untuk mengalir melalui jaringan perpipaan hingga sampai ke rumah warga.

"Insyaallah bisa dirasakan nanti oleh para pelanggan, maksimal dalam 2 x 24 jam, mudah-mudahan bisa lebih cepat. Karena memang karakteristik air itu unik; ketika kita melakukan rekayasa, tidak bisa langsung diterima oleh pelanggan. Butuh waktu untuk berjalan dan mengalir di dalam pipa," tuturnya.

(bel/isa)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |