loading...
Drama patok-patokan slot cas yang bikin geleng kepala. Foto: Sindonews/Danang Arradian
JAKARTA - Ada cerita viral di media sosial. Seseorang mau ngecas mobilnya. SPKLU kosong. Dia langsung parkir. Eh, ada orang ngetok kaca bilang: "Saya sudah ngantri dari dua jam lalu." Tapi mobilnya di mana? "Masih di atas. Mau turun ke sini."
Ternyata beli mobil listrik tidak selalu berarti bebas masalah. Masalah lama, antre bensin, berganti masalah baru: antre cas. Dan cara antrinyapun bisa sama tidak beradabnya.
Di SPBU kita antre dengan mobil. Di SPKLU, kita antre dengan badan.
Ini bukan drama kecil. Ini cerminan masalah besar yang kian tidak bisa diabaikan: infrastruktur pengisian kendaraan listrik Indonesia ketinggalan jauh dari pertumbuhan penggunanya. Lihat datanya.
Akhir 2025, PLN bersama mitra mengoperasikan 4.655 unit SPKLU di 3.007 lokasi di seluruh Indonesia. Naik 44 persen dibanding 2024. Kelihatan hebat.
Tapi populasi mobil listrik roda empat per Februari 2026 sudah menyentuh 119.000 unit. Artinya: satu SPKLU untuk melayani 29 mobil listrik. Rasio 1:29. Jauh dari ideal.
Berapa yang ideal? Gaikindo menyebut angka 1:10. Konsumen menginginkan 1:5. Sedangkan pemerintah sendiri, dalam target yang sudah diturunkan, baru mematok 1:17.
Bahkan target 1:17 itu pun tidak tercapai. PLN menargetkan 5.810 SPKLU di 2025 untuk mencapai rasio itu. Realisasinya? Hanya 4.655 unit. Meleset lebih dari 1.150 unit.
Jakarta: Paling Parah
Yang lebih memprihatinkan: distribusinya sangat tidak merata. Jakarta adalah yang paling suram. Rasio SPKLU di DKI mencapai 1:47, satu charger untuk 47 mobil listrik. Banten 1:27. Jawa Barat 1:18.
Per Maret 2026, 73,9 persen atau 3.629 unit dari total 4.911 SPKLU nasional berada di Pulau Jawa. Sumatera 555 unit. Bali-Nusa 283 unit. Kalimantan 226 unit. Sulawesi 162 unit. Papua-Maluku hanya 56 unit.
Jakarta adalah kota dengan pengguna EV paling banyak. Tapi justru rasio SPKLU-nya paling buruk di antara kota-kota besar. Ironis.
Masalah Bukan Hanya Jumlah, Tapi Kecepatan
Dari total 4.655 SPKLU yang ada, komposisi teknologinya juga belum menggembirakan. Yang Ultra Fast Charging (di atas 50 kW) baru 633 unit. Fast Charging 482 unit. Yang mendominasi justru Medium Charging (7-22 kW) sebanyak 2.681 unit.
Standard Charging (di bawah 7 kW) sebanyak 859 unit.


















































