Jakarta -
Pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai salah satu langkah menangani persoalan sampah di berbagai daerah. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menargetkan pembangunan PSEL di 40 kota darurat sampah dapat rampung pada 2027 hingga 2028.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi persoalan sampah skala besar, terutama di kota-kota yang menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari.
Melalui teknologi PSEL atau Waste-to-Energy, sampah diharapkan dapat dikelola sekaligus memberikan manfaat energi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang darurat dan besar-besar, di atas 1.000 ton, kita akan buat PSEL atau Waste-to-Energy. Dulu 11 tahun cuma dua izin yang keluar, sekarang kita rapikan melalui Perpres. Alhamdulillah, kita targetkan selesai di 2027-2028 untuk 40 kota darurat sampah," ujar Zulhas dalam Program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom.
Ia menjelaskan, pemerintah memprioritaskan pembangunan PSEL untuk daerah yang memiliki volume sampah tinggi karena kawasan tersebut menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang lebih besar. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Selain percepatan pembangunan PSEL, pemerintah juga menyiapkan skema pengolahan sampah mandiri di sejumlah sektor seperti perkantoran, pasar, dan pusat perbelanjaan.
Menurutnya, pengolahan sampah sejak dari sumber menjadi bagian penting agar beban TPA dapat berkurang secara signifikan.
Target 70-80 Persen Masalah Sampah Selesai pada 2029
Upaya percepatan PSEL menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mencapai target penyelesaian persoalan sampah nasional. Zulhas menargetkan sekitar 70 hingga 80 persen masalah sampah dapat terurai pada 2029.
Menurutnya, pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.
"Kita akan selesaikan sampai tahun 2029, mudah-mudahan 70-80 persen soal sampah selesai. Tinggal 20 persen sisanya itu di tingkat rumah tangga yang memang memerlukan waktu dan edukasi lebih banyak," katanya.
Ia mengatakan pemilahan sampah organik dan anorganik perlu diperkuat mulai dari berbagai lingkungan, seperti perkantoran, sekolah, hingga pasar. Dengan proses pemilahan yang berjalan baik, jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan.
Edukasi Rumah Tangga Jadi Bagian Penting
Meski pembangunan PSEL terus dipercepat, Zulhas menilai pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian lebih.
Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah nasional. Sampah yang tercampur sejak awal membuat proses pengolahan menjadi lebih sulit dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.
"Tinggal 20 persen itu rumah tangga, itu perlu waktu lebih banyak. Kuncinya sebetulnya ada di pemilahan. Sekarang kan sampah semua dicampur dan dibawa, makanya muncul gunungan sampah dan bikin masalah baru," pungkasnya.
Karena itu, pemerintah terus mendorong pembentukan budaya memilah sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Melalui percepatan pembangunan PSEL di 40 kota serta penguatan pemilahan sampah dari sumbernya, pemerintah berharap target penyelesaian persoalan sampah nasional pada 2029 dapat tercapai secara bertahap.
(prf/ega)

















































