Wakil Ketua MPR Bicara Merawat Kebudayaan dan Kebangsaan, Ini Pesannya

1 day ago 8

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid atau HNW menekankan pentingnya melaksanakan konstitusi dengan merawat kebudayaan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas dan persatuan bangsa. Ia juga mengatakan agama dan kebangsaan merupakan dua hal yang saling melekat dalam kehidupan sehari-hari.

"Agama dan kebangsaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia," kata HNW dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Hal itu dikatakan Hidayat Nur Wahid saat menghadiri Pagelaran Rakyat Wayang Kulit yang digelar MPR RI dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Sabtu (22/8) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pagelaran tersebut mengangkat lakon Bimo Kurdo yang dibawakan dalang Ki Jatmiko Anom Saputro, putra maestro dalang legendaris Indonesia, Ki Anom Suroto.

Acara turut dihadiri Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Fraksi PKS MPR RI Tifatul Sembiring, Ketua Fraksi PKS DPR RI Abdul Kharis Almasyhari, jajaran DPP PKS, dan Dewan Syariah PKS.

Pelestarian Budaya Menjaga Kekayaan Bangsa

HNW mengatakan PKS merupakan salah satu komunitas yang dari dulu memang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Nusantara, termasuk budaya Jawa dan Sunda. Ia menilai pelestarian budaya penting dilakukan karena merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Sesuai Pancasila dan UUD NRI 1945, Agama kita maupun kebangsaan kita adalah dua kondisi yang tidak terpisah. Ibarat dua wajah dari mata uang yang sama," ujarnya.

Menurut HNW, MPR RI menjadikan pagelaran budaya sebagai salah satu sarana sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Pendekatan kebudayaan dinilai dapat menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat.

HNW juga menegaskan konstitusi memberikan perhatian terhadap pengembangan kebudayaan nasional. Negara memiliki tanggung jawab menjaga dan mengembangkan kebudayaan sebagai bagian dari upaya memperkuat eksistensi Indonesia di tingkat dunia.

Wayang kulit, lanjutnya, merupakan salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia. Wayang bahkan telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda.

Karena itu, HNW menilai pelestarian wayang bukan sekadar menjaga kesenian tradisional, melainkan juga mempertahankan identitas bangsa.

Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, HNW juga mengajak masyarakat memperkuat rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, mulai dari bencana alam hingga tekanan ekonomi, tidak boleh menghilangkan optimisme dan rasa persatuan.

"Kalau kita tidak pandai-pandai merajut dan menyegarkan kembali ingatan kesyukuran akan kemerdekaan Indonesia, bisa jadi pesimisme akan mendominasi, sehingga bisa jadi perasaan sebangsa dan setanah air kita akan semakin menjadi gersang," lanjutnya.

HNW mengatakan kemerdekaan merupakan karunia besar yang patut disyukuri. Ia juga mengaitkan pentingnya mensyukuri kemerdekaan Indonesia dengan perjuangan bangsa Palestina yang hingga kini masih berjuang mendapatkan kemerdekaan.

Terkait lakon Bimo Kurdo, HNW menilai cerita tersebut memiliki pesan yang relevan dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Kisah tersebut menggambarkan perjuangan menghadapi berbagai cobaan, hambatan, dan kejahatan sebelum akhirnya kebenaran memperoleh kemenangan.

Ia berharap pagelaran wayang kulit tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran mengenai pentingnya persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

"Kita di partai politik, kita di lembaga negara, kita di Jawa maupun suku lainnya, kita bisa menyatu padu sebagai sesama warga dan rakyat Indonesia. Persis seperti yang dicontohkan oleh bapak-bapak bangsa yg tergabung dalam BPUPKI, Panitia 9 maupun PPKI. Mudah-mudahan ini bagian dari bukti syukur kita kepada Allah yang telah memberi karunia dengan memerdekakan Indonesia," pungkas HNW.

Usai menyampaikan pesan kebangsaan, HNW secara simbolis menyerahkan tokoh wayang kepada Ki Jatmiko Anom Saputro. Penyerahan tersebut menjadi tanda dimulainya Pagelaran Rakyat Wayang Kulit.

(prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |