Warga Guro 2 Karawang melayangkan protes soal penutupan jalan imbas proyek Stadion Singaperbangsa. Warga meminta kebijaksanaan dari pemerintah daerah karena menilai jalan yang ditutup merupakan urat nadi aktivitas warga.
"Kami, warga Guro 2 Karawang, hari ini berdiri bukan untuk menentang pemerintah, melainkan untuk mempertahankan hak hidup kami sebagai warga negara. Kami menolak secara tegas penutupan jalan yang dilakukan oleh Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, di Jalan Soka, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur," ujar perwakilan warga Guro 2, Riswandi Siregar, dalam surat yang diterima detikcom pada Rabu (4/2/2026).
Warga Guro 2 Utara RT/RW 06/23 Kelurahan Karawang Wetan, Karawang Timur, ini mengatakan telah puluhan tahun tinggal di permukiman ini. Dan Jalan Soka, katanya, merupakan penghubung aktivitas sehari-hari warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jalan ini bukan sekadar akses kendaraan. Jalan ini adalah urat nadi kehidupan warga. Selama puluhan tahun, jalan ini menjadi ruang publik dan penghubung aktivitas ekonomi rakyat kecil, jalur anak sekolah, pedagang, pekerja, hingga akses darurat bagi masyarakat sekitar stadion," kata Riswandi.
Dia dan warga Guro 2 Karawang merasa tambah kecewa karena penutupan jalan, sambung dia, dilakukan tanpa menyerap aspirasi warga yang telah puluhan tahun tinggal di sekitar stadion.
"Penutupan jalan ini dilakukan tanpa mendengarkan suara warga, tanpa musyawarah, tanpa solusi, tanpa empati," ucap dia.
Riswandi menyebut dampak penutupan jalan di antaranya warga merasa aktivitas ekonominya terhambat, mobilitasnya terganggu, harus menghadapi kemacetan yang meningkat dan sejumlah kerugian lainnya. "(Imbas) aktivitas ekonomi warga terhambat, akses harian masyarakat terputus, kemacetan dan keresahan meningkat, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang dirugikan, risiko kecelakaan meningkat di jalur alternatif," ungkap Riswandi.
Masih kata Riswandi, warga tak pernah menolak pembangunan. Warga memprotes kebijakan yang diambil dalam pelaksanaan proyek tersebut.
"Kami bukan menolak pemerintah. Kami menolak kebijakan yang menutup mata terhadap rakyatnya sendiri," tutur Riswandi.
"Jalan ini sudah ada sebelum jabatan datang dan pergi. Jangan rampas hak hidup rakyat atas nama kebijakan," pungkas dia.
Riswandi menyebut warga pun membuat surat terbuka untuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi:
Seruan Terbuka kepada Gubernur Jawa Barat
Kepada Yth.
Bapak Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi
Kami memohon agar Bapak berkenan melihat penderitaan kami dan mendengarkan suara warga. Tolong hentikan kebijakan yang melukai rakyatnya sendiri.
Kami percaya Kang Dedi adalah pemimpin yang mendengarkan suara rakyat kecil, membela keadilan ruang publik, mengutamakan musyawarah, bukan pemaksaan.
Kami berharap Kang Dedi dapat meninjau langsung kebijakan penutupan jalan ini, memfasilitasi dialog antara pemerintah daerah dan warga, mengembalikan hak akses publik yang telah lama kami miliki.
Kang Dedi, ini bukan semata persoalan jalan, ini adalah soal keadilan, keberpihakan, dan rasa kemanusiaan. Kami akan terus bersuara, kami akan terus berdiri.
(aud/isa)

















































