Wamensos Puji Kudus & Garut Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen

3 hours ago 3

Jakarta - Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengapresiasi sikap proaktif Pemerintah Kabupaten Garut dan Kudus dalam mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu kunci utama kesuksesan program tersebut.

"Saya senang karena Kudus dan Garut berinisiatif mempercepat program Sekolah Rakyat. Ini bagian dari upaya memutus transmisi kemiskinan," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026).

Hal ini disampaikannya saat audiensi dengan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut dan Perwakilan DPRD Kudus di Kantor Kementerian Sosial, Rabu (29/4/2026).

Agus menegaskan Sekolah Rakyat ditujukan untuk anak-anak dari desil 1 dan 2 DTSEN sebagai bagian dari strategi penghapusan kemiskinan ekstrem menuju 0 persen pada 2026.

"Sekolah Rakyat harus unggul, dengan fasilitas lengkap seperti asrama, ruang kelas, dapur, perpustakaan, hingga tempat ibadah," jelasnya.

Ia juga menekankan pembangunan Sekolah Rakyat permanen membutuhkan lahan minimal 6,8 hektare milik pemerintah dan memenuhi syarat teknis. Beberapa diantaranya tidak berada di kawasan rawan bencana dan memiliki kontur lahan yang sesuai.

Selain percepatan pembangunan Sekolah Rakyat permanen, audiensi juga membahas penguatan kesiapsiagaan bencana melalui program Kampung Siaga Bencana (KSB) di kedua daerah tersebut.

Terkait kesiapsiagaan bencana, Agus mendorong pemerintah daerah untuk segera mengusulkan pembentukan KSB.

"Silakan ajukan ke bupati untuk mengusulkan KSB dan lumbung sosial," katanya.

Agus menegaskan Kemensos memiliki skema bantuan sosial adaptif untuk bencana, didukung melalui tahapan pra-bencana, tanggap darurat, hingga pemulihan.

Di akhir pertemuan, Agus juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

"Kalau daerah mengalami kendala, segera koordinasi dengan pemerintah kabupaten atau provinsi. Jika masih tidak sanggup, naikkan ke Kemensos agar kita cari solusi bersama," ucap Agus.

Pada kesempatan tersebut, Perwakilan DPRD Kudus Valerie menyampaikan masih terdapat sekitar 6.000 Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah Kudus.

"Data di lapangan menunjukkan masih banyak anak tidak sekolah akibat berbagai persoalan. Ini perlu jadi perhatian bersama," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan kendala utama pembangunan Sekolah Rakyat di Kudus adalah keterbatasan lahan.

Selain pendidikan, Kudus juga menghadapi tantangan bencana seperti banjir dan longsor. Kondisi ini mendorong usulan penguatan program KSB untuk mendukung buffer stock dan dapur umum di tingkat desa.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut Marlinda menyampaikan pihaknya telah memiliki Sekolah Rakyat rintisan dengan 75 siswa dalam 4 rombongan belajar. Namun, Garut masih menghadapi kendala lahan untuk pembangunan sekolah permanen.

"Selain itu, kami juga mengusulkan program Kampung Siaga Bencana," pungkas Marlinda. (akn/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |