Waka MPR Sebut Piala Dunia Jadi Momen Tata Masa Depan Sepakbola RI

3 hours ago 3

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mengajak agar menjadikan momentum gelaran Piala Dunia sebagai katalis memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Selain itu ia juga menilai ajang pesta bola dunia tersebut sebagai cermin bagi pembangunan sepak bola nasional yang lebih baik dan berkelanjutan.

"Ajang seperti Piala Dunia memiliki daya tular magis yang mampu menginspirasi generasi muda. Di balik persaingan di lapangan, ada pesan mendalam tentang penguatan persatuan dari keberagaman yang penting bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia," kata Lestari dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).

Hal itu dikatakan Rerie dalam sambutan tertulisnya pada diskusi daring bertema Piala Dunia dan Masa Depan Sepak Bola Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mencontohkan dukungan terhadap Tim Nasional Indonesia kerap mampu mengintegrasikan masyarakat dari Aceh hingga Papua ke dalam satu identitas kolektif. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kepekaan sosial dan melihat ke dalam negeri di tengah euforia Piala Dunia sepakbola.

Rerie menambahkan pembangunan ekosistem sepakbola yang sehat berpotensi membuka jalur mobilitas sosial baru bagi generasi muda di berbagai pelosok, menjauhkan mereka dari kemiskinan dan kenakalan remaja.

"Nilai sportivitas, disiplin, dan kerja keras yang diajarkan di lapangan hijau harus diinternalisasi untuk membangun karakter bangsa yang kompetitif," paparnya.

Direktur Operasional I League Asep Saputra mengungkapkan bahwa tim-tim yang berlaga di Piala Dunia jangan hanya dilihat saat mereka bisa berlaga pada putaran final saja. Negara-negara yang masuk putaran final Piala Dunia itu merupakan hasil dari proses pengembangan sepak bola mereka pada 10-20 tahun ke belakang.

Ia mencontohkan negara Jepang yang memiliki visi pengembangan sepakbola 100 tahun yang dimulai sejak 1992. J league, tambah Asep, dalam dua tahun terakhir juga berupaya untuk memperbaiki sejumlah hal dalam pelaksanaan kompetisi.

Menurut Asep, saat ini diperlukan transformasi besar agar mampu membangun sepak bola secara berkelanjutan, sehingga dapat melahirkan organisasi dan SDM sepak bola yang berkualitas dunia.

CEO Wospac Rep Office Indonesia Benhard Sitorus berpendapat tantangan ke depan adalah bagaimana Indonesia mampu menjaga momentum kebangkitan sepak bola di usia dini yang berkelanjutan.

Menurutnya, rasio transisi pemain sepak bola di Indonesia dari tingkat akademi ke profesional hanya 4%-10%. Selain itu, dibutuhkan tata kelola yang baik dan transparan untuk melahirkan SDM sepak bola yang berkualitas.

Benhard mengakui, saat ini PSSI sudah memiliki sistem pengembangan sepak bola yang berjenjang sesuai kelompok umur. Namun, disayangkan, standar kualitas pembinaannya dinilai tidak jelas.

Pengamat Sepakbola Suryopratomo mengungkapkan bahwa setiap gelaran Piala Dunia sepak bola selalu muncul keinginan untuk bisa bermain di putaran final. Menurutnya, tim sepak bola nasional yang tangguh tak ada hubungannya dengan jumlah penduduk di suatu negara.

China dan India, misalnya, dengan jumlah penduduk ratusan juta hingga miliaran jiwa, juga tidak memiliki kesebelasan sepakbola yang tangguh di tingkat dunia. Menurutnya yang terpenting, memiliki tim nasional yang tangguh harus mampu membangun ekosistem sepak bola yang baik dan berkelanjutan.

Saat ini, menurut dia, seringkali Indonesia terperangkap dalam kepentingan jangka pendek dalam melakukan pengembangan sepak bola. Indonesia dinilai membutuhkan sistem pengembangan yang holistik untuk membangun tim sepak bola nasional yang tangguh.

Selain itu, tegas dia, pengembangan faktor-faktor mendasar, seperti pembinaan kelompok umur dan infrastruktur yang standar, serta pelatih yang bersertifikat juga penting. Ia pun mendorong pemahaman bahwa menang dalam pertandingan itu adalah bagian dari proses, bukan tujuan.

Dengan pemahaman menang sebagai tujuan, tambah dia, segala cara dihalalkan untuk menjadi juara. "Mampukah kita melakukan transformasi mendasar bahwa menang itu bagian dari proses," ujar Suryopratomo.

Menurut Suryopratomo, butuh peta jalan pengembangan sepak bola yang transparan, berkelanjutan, didukung pemerintah dan semua pihak untuk melahirkan tim nasional yang tangguh.

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali berpendapat bahwa Indonesia bisa tampil dalam ajang Piala Dunia, karena pada tahun 1930-an dengan nama Hindia Belanda, Indonesia pernah bertanding di ajang sepak bola dunia itu.

Dalam perjalanannya, tambah Akmal, kemampuan sepak bola Timnas Indonesia semakin lemah jika dibandingkan dengan timnas negara-negara tetangga. Menurut Akmal, hal itu disebabkan ekosistem sepak bola nasional Indonesia tidak dibangun dengan baik.

Ia mengungkapkan sejumlah praktik negatif seperti pengaturan skor, perjudian, penipuan umur, dan pemain titipan, mewarnai dinamika sepak bola di Tanah Air.

"Tim nasional sepak bola yang kuat selalu hadir dari pembinaan yang berkelanjutan dan kompetisi yang sehat," ujar Akmal.

Wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat bahwa Menteri Olah Raga masih merangkap menjadi Ketua Umum PSSI. Selama itu terjadi target-target pembangunan sepakbola yang ditetapkan nol besar dan menjadi omong kosong belaka.

Menurutnya, regulator dan operator selama ini dalam kondisi tumpang tindih. Ia pun mendorong pembenahan birokrasi.

Selain itu, Saur menegaskan tidak ada kekuatan olahraga yang terbentuk dari pembinaan lewat jalan pintas. Apalagi, tambah dia, disertai dengan mental menerabas.

"Itulah yang terjadi pada praktik naturalisasi dan diiringi dengan proses perpindahan kewarganegaraan," ujar Saur.

Menurut Saur, tumpang tindih antara regulator dan operator, serta jalan pintas dalam pembinaan meracuni ekosistem pengembangan sepak bola nasional Indonesia.

(prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |