Usaha Turunan, Bakso Malang Ini Bertahan 20 Tahun hingga Punya 6 Gerobak

8 hours ago 6
Jakarta -

Sejak setahun terakhir, Raditya Prasetyo mulai ikut membantu usaha bakso Malang warisan dari almarhum ayahnya. Setiap hari ia membawa gerobak dagangan dan berjualan kawasan Kompleks Brimob Kalibata, Jakarta Selatan. Usaha tersebut merupakan hasil perjalanan panjang keluarganya yang telah dirintis sejak lebih dari 20 tahun lalu, dari satu gerobak kecil hingga kini berkembang memiliki enam gerobak.

Di lokasi ia berjualan, Radit bercerita usaha bakso Malang itu awalnya dirintis oleh sang ayah setelah merantau dari Jombang, Jawa Timur. Radit mengenang ayahnya itu sosok pekerja keras.

"Bapak ini latar belakangnya emang pekerja keras banget, di kampung apa aja dikerjain," kata Radit saat ditemui detikcom, Selasa (30/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum membuka usaha sendiri, ayah Radit sempat bekerja ikut orang berjualan di Jakarta. Namun kemudian ayahnya itu ingin membuka usaha usaha bakso Malang bersama keluarga.

"Modal itu kalau dengar-dengar dari ibu cerita, Rp 1,5 juta," kata Radit.

Pada awal merintis, modal yang digunakan pun tidak besar. Sang ayah mulanya berjualan menggunakan gerobak kecil, sebelum perlahan mengembangkan usaha hingga mempunyai sejumlah gerobak.

Usaha bakso Malang itu dinamai dengan Bakwan Bejo Malang dan mulai berkembang sekitar tahun 2004. Ayah Radit bahkan beberapa kali mengajak saudara dari kampung untuk ikut berjualan di Jakarta.

"Setiap tahun itu pulang, ngajakin lah saudara-saudaranya siapa yang mau ikut dagang ke Jakarta gitu. Nambah dua, nambah lagi dua gitu," ujar pria berusia 22 tahun tersebut.

Pada masa puncaknya, usaha tersebut bahkan sempat memiliki 20 gerobak yang beroperasi di sejumlah wilayah Jakarta. Namun seiring waktu jumlah gerobak mengalami perubahan. Saat ini, usaha keluarga Radit memiliki enam gerobak.

Usaha Bakso di JakselUsaha Bakso di Jaksel yang Dikelola Radit Foto: Kanavino/detikcom

Gerobak-gerobak tersebut berkeliling dengan jalur masing-masing, mulai dari kawasan Siaga Raya, Samali, hingga Buncit Indah Jakarta Selatan.

Radit sendiri biasanya berjualan di lapangan Kompleks Brimob dari pukul 10.00 sampai 16.00 sore. Setiap hari, pendapatan usaha tersebut tidak selalu sama, tergantung kondisi di lapangan.

Setiap pegawai biasanya membawa satu gerobak untuk berkeliling dengan sistem bagi hasil. Setiap hari, mereka harus menyetorkan uang ke ibu Radit, sementara keuntungan dari penjualan tersebut dibagi sesuai porsi masing-masing.

"Ter-tergantung ini juga sih habisnya berapa, kalau di ibu itu dihitung habisnya berapa," ujar dia.

Radit mengaku tidak tahu secara pasti total penghasilan yang diterima dari usaha bakso itu dalam setiap bulannya sebab sering berbeda-beda. Namun ia memperkirakan keluarganya mendapatkan uang lebih dari Rp 10 juta per bulan dari semua gerobak tersebut.

Adapun proses pembuatan bakso masih dilakukan sendiri oleh Radit bersama ibunya. Radit juga ikut membantu membeli langsung bahan hingga mencetak adonan bakso.

Radit biasanya memanfaatkan waktu akhir pekan untuk menyiapkan stok bakso. Sementara pada hari biasa, ia fokus berjualan di lapangan Kompleks Brimob.

"Kebetulan kalau nyetak, diambilnya hari libur. Kalau aku kan Sabtu-Minggu itu libur. Nah, Sabtu-Minggu itu digunain buat nyetak bakso, buat nyetok," ujar Radit.

Selain membuat bakso, ia bersama ibunya juga memproduksi sendiri beberapa bahan pelengkap seperti kerupuk. Sementara, karyawan membantu menyiapkan isian aci untuk kerupuk dan siomay sebelum berjualan.

Dampak KUR BRI

Dalan perjalanan usaha itu, keluarga Radit menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya ketika pandemi COVID-19 yang membuat pendapatan usaha menurun.

Untuk membantu mengembangkan kembali usaha, keluarga Radit kemudian memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2024 dengan pinjaman sebesar Rp 40 juta. Dana tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan usaha agar tetap berjalan stabil.

"Alhamdulillah sekarang semenjak dapat pinjaman KUR, udah lumayan," ujar Radit.

Berkat usaha yang dijalankan selama puluhan tahun, keluarga Radit juga merasakan perubahan dalam kehidupan. Dari yang sebelumnya masih mengontrak rumah di Jakarta, kini keluarga Radit sudah mempunyai rumah sendiri.

"Alhamdulillah dulu Bapak pertama ngerintis itu masih ngontrak. Sekarang udah punya rumah sendiri," imbuh dia.

Selain itu, pendapatan dari usaha tersebut juga bisa membantu dalam biaya pendidikan Radit dan kakaknya. Ia bersyukur usaha bakso Malang itu bisa bertahan sampai sekarang.
"Bisa nyekolahin anaknya di Jakarta juga dari kecil sampai lulus SMA," imbuhnya.

Komitmen BRI Dukung UMKM

Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif perkembangan usaha para pelaku UMKM di wilayahnya. Ia menegaskan BRI selalu berkomitmen dalam memajukan UMKM di Indonesia.

"Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujar Arbi saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Ia juga menyampaikan bahwa BRI akan terus mempermudah transaksi keuangan bagi para pelaku UMKM melalui berbagai layanan perbankan.

Ia berharap BRI bisa terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. Selain itu, warga yang mendapatkan pinjaman modal tersebut diharapkan terus bisa meningkatkan usahanya untuk naik kelas.

"Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," ujar Arbi.

(knv/knv)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |