Mensos Ungkap Warisan Sutan Takdir Alisjahbana untuk Bahasa Indonesia

9 hours ago 7

Jakarta -

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menghadiri Seminar Pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai Pahlawan Nasional di Auditorium Universitas Nasional, Jakarta Selatan. Seminar tersebut menjadi salah satu tahapan dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi tokoh yang dikenal memiliki peran besar dalam modernisasi bahasa Indonesia.

Dalam sambutannya, Gus Ipul mengatakan salah satu warisan terbesar Sutan Takdir Alisjahbana adalah perjuangannya mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern. Bahasa yang kini digunakan di berbagai bidang tersebut, menurutnya, lahir melalui perjuangan panjang, termasuk buah pikir STA.

"Ada yang berjuang merebut kemerdekaan, ada pula yang mengisi kemerdekaan dengan bahasa pendidikan dan kebudayaan. Keduanya sama-sama penting, sebab setelah sebuah bangsa merdeka, masih ada pertanyaan besar. Bangsa seperti apa yang ingin kita bangun, dan bagaimana rakyat dari berbagai daerah dapat hidup sebagai satu bangsa," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, STA tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, ahli bahasa, pemikir kebudayaan, pendidik, dan pendiri lembaga pendidikan. Lebih dari itu, sosok tersebut dinilai turut membangun cara bangsa Indonesia berpikir melalui pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmu pengetahuan.

"Ia ikut membangun cara bangsa Indonesia berpikir. Ia tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia untuk menulis, tetapi ikut mempersiapkannya agar mampu menjadi bahasa persatuan, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmu pengetahuan," jelasnya.

STA juga dikenal melalui penulisan tata bahasa Indonesia pertama pada era pendudukan Jepang, menjadi pelopor Angkatan Pujangga Baru melalui karya sastra dan polemik kebudayaan, serta mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK).

Usai seminar, Gus Ipul berharap proses pengusulan dapat berjalan lancar sehingga STA dapat ditetapkan Presiden Prabowo Subianto sebagai Pahlawan Nasional tahun ini.

"Ini ada hal yang baru yang memang ini dibuka kesempatan oleh Bapak Presiden Prabowo untuk kita bisa mengusulkan tokoh-tokoh yang mungkin selama ini belum menjadi perhatian bersama kita, seperti STA, Sutan Takdir Alisjahbana," ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional sekaligus Ketua Panitia Seminar, Nana Yuliana menilai pemikiran STA masih relevan untuk melihat kembali arah budaya Indonesia di tengah persaingan global menuju Indonesia Emas 2045 yang menekankan pembangunan manusia berkarakter.

"Dengan jasa dan pemikiran beliau yang begitu banyak, Universitas Nasional dengan dukungan Bapak/Ibu semuanya, akan mengajukan STA sebagai calon penerima gelar pahlawan pada tahun 2026 ini," pungkasnya.

Seminar yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional itu diikuti sekitar 350 peserta. Turut hadir Mantan Menteri Tenaga Kerja 1999-2000 Prof. Bomer Pasaribu, Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2014-2016 Prof. Yuddy Chrisnandi, Rektor Universitas Nasional El Amry Bermawi Putera, Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, keluarga besar Sutan Takdir Alisjahbana, para wakil rektor Universitas Nasional, para pembicara seminar, serta sejumlah pejabat terkait.

(prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |