Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto mengatakan perkembangan program ketahanan pangan di Pulau Nusakambangan merupakan 'cambuk' untuk kementerian dan lembaga lainnya, terutama yang memang memiliki tugas pokon dan fungsi di sektor pangan. Cambuk yang dimaksud adalah motivasi untuk sama-sama berupaya mewujudkan ketahanan pangan.
"Bayangin, Nusakambangan aja bisa kayak begini. Gimana tempat lain? Sebenarnya semua ini kemauan kita. Kita mau nggak sih untuk memproduksi bahan-bahan pangan ini?" kata Titiek usai berkeliling Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) pada Sabtu (20/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titiek sebelumnya memuji kinerja Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dan jajarannya yang melakukan transformasi pada Pulau Nusakambangan, yang semula lekat dengan stigma seram, menjadi pusat pelatihan kerja usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan ketahanan pangan baik sektor pertanian, peternakan hingga perikanan. Dia menyampaikan Indonesia telah dikaruniai tanah subur oleh Yang Maha Kuasa, namun perlu kemauan dan niat untuk mengolah karunia tersebut sehingga dapat memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa.
"Kalau orangnya, pejabatnya males, ya cukup begitu duduk (menjabat) gitu-gitu aja ya. Nggak terjadilah ini, yang kayak begini ini. Tapi kita harus punya kemauan bagaimana yang sudah dikaruniai Tuhan, tanah yang begitu subur, kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya," tutur dia.
"Kembali kepada manusianya, bagaimana kita mengolah bumi dan laut ini untuk bermanfaat bagi semuanya," sambung Titiek.
Oleh sebab itu Titiek berharap program ketahanan pangan di Nusakambangan, yang ia nilai cukup berhasil, dapat menginspirasi pimpinan kementerian lembaga lainnya. Titiek berharap Menteri Agus juga mengundang rekan-rekan menteri di kabinet ke Nusakambangan, agar para menteri memiliki kreativitas berkontribusi mewujudkan ketahanan pangan.
"Harapannya ini nggak di sini aja, tempat-tempat lain juga bisa. Kalau bisa Pak Menteri undang teman-temannya dari kabinet yang lainnya, supaya lihat di sini, supaya mereka ada ide untuk bisa dikembangkan di kementeriannya masing-masing," kata Titiek.
Titiek mengatakan tiap kementerian memiliki aset lahan. Dia berharap lahan-lahan milik kementerian yang kini berstatus lahan tidur dapat dibuat produktif, terutama terkait pangan.
"Pasti setiap kementerian punya tanah yang luas-luas di daerah-daerah lain, bisa diduplikasi," ucap Titiek.
Titiek menyampaikan upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan tak terbatas hanya pada kementerian atau lembaga yang bertugas mengurusi pangan. Sepanjang ada niat dan kemauan membangun negeri, lanjut Titiek, siapapun dapat berkontribusi.
"Sebenarnya urusannya apa imigrasi dan pemasyarakatan sama ketahanan pangan? Tapi kan karena punya niat untuk ikut bangun negeri ini, untuk mensukseskan program Pak Presiden, jadi beliau, kementeriannya ini melakukan hal-hal yang bermanfaat ini," ujar Titiek.
"Jadi, cambuk juga buat kementerian yang terkait dengan ketahanan pangan supaya lebih giat lagi untuk kita mencapai apa yang diinginkan oleh Pak Presiden dan kita semua," pungkas dia.
Foto: Titik Soeharto (kiri) menyambangi Nusakambangan. Foto: Audrey Santoso/detikcom
Nusakambangan Kini
Transformasi Nusakambangan merupakan ide yang dicanangkan Menteri Agus setelah dirinya dilantik Prabowo. Di masa transisi Ditjenpas dari Kementerian Hukum dan HAM ke Kemenimipas, Menteri Agus menerima laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang banyak aset milik Kemenimipas yang berstatus lahan tidur atau idle.
Oleh sebab itu, Menteri Agus berupaya menghidupkan kembali lahan tidur dengan membangun balai latihan kerja (BLK), agar para napi memiliki kegiatan pengembangan diri. Tujuannya, keterampilan yang didapat di BLK menjadi bekal saat mereka bebas dari penjara, dan tak kembali melakukan kejahatan.
Prasarana pelatihan dan pengembangan keterampilan untuk napi yang telah berdiri di Nusakambangan di antaranya workshop batako dan paving block berbahan dasar material fly ash bottom ash (FABA), BLK konveksi; BLK pengolahan pupuk organik; budidaya ikan Sidat; pengolahan sampah.
Budidaya ikan Nila, Lele dan Bawal; tambak udang Vaname; peternakan sapi, domba dan unggas; BLK pelintingan rokok: BLK produksi Mocaf hingga budidaya anggrek pun turut dikembangkan di sini.
Simak juga Video 'Kapolri Jelaskan Alasan Polri Dukung Ketahanan Pangan':
(aud/isa)


















































