Bogor -
Branding di era digital tidak hanya dibangun melalui identitas visual, tetapi juga lewat pengelolaan konten yang konsisten di media sosial. Sebab, kemampuan memproduksi konten yang relevan dan mudah dipahami menjadi bagian penting dalam mendukung komunikasi publik.
Melalui sesi BrandLab dalam workshop The Classroom KLH, peserta Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendapatkan pembekalan mengenai strategi pengelolaan media sosial. Materi tersebut disampaikan oleh Head of Brand Communication detikcom, Karel Anderson.
Dalam sesi BrandLab, Karel membahas peran branding dalam mendukung komunikasi publik serta pentingnya membangun identitas yang konsisten di berbagai kanal digital. Ia mengatakan keberhasilan branding tidak hanya diukur dari banyaknya konten yang dipublikasikan, tetapi juga dari kemampuan sebuah institusi membangun keterhubungan dengan audiens melalui pesan yang relevan dan mudah dipahami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tugas humas dan social media bukan membuat publik melihat konten kita. Tugas kita adalah membuat mereka merasa bahwa isu yang kita bawa adalah isu mereka juga," ujar Karel di Wisma PGN Megamendung, Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026).
Karel menjelaskan bahwa pengelolaan media sosial tidak semata-mata bertujuan mengejar viralitas. Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana sebuah konten mampu menyampaikan pesan utama secara efektif sehingga memberikan dampak dan relevansi bagi audiens. Ia pun mengajak peserta memahami berbagai kesalahan yang kerap terjadi dalam pengelolaan branding di media sosial.
"Ya karena urusan sosial media itu banyak yang punya pemikir hanya untuk demi viral, demi viral, demi viral. Tapi sebenarnya sosial media bukan hanya diperuntukkan untuk demi menuju tujuan viral, tapi bagaimana bisa menyampaikan hal vital dari esensi postingan kita sendiri. Itu yang lebih penting dari kenapa akhirnya kita nge-branding di sosial media itu penting," ujarnya.
Lebih lanjut, Karel berharap materi yang diberikan dapat membantu peserta mengevaluasi sekaligus memperkuat strategi branding di media sosial. Ia menilai pemahaman terhadap berbagai tantangan dalam pengelolaan konten dapat menjadi bekal untuk menghasilkan komunikasi yang lebih efektif dan berdampak.
"Harapannya temen-temen humas KLH juga akhirnya lebih tahu lagi apa yang harus bisa diperbaikin, apa yang bisa diimplementasikan untuk perusahaan branding, terutama branding di sosial media. Dan akhirnya setelah kita mengaku dosa, kita akhirnya dengan sadar apakah dosa kita, akhirnya kita bisa mendeliver sesuatu yang menjadi fantastis dan akhirnya konten-konten dari kementerian dan yang dikelola oleh humas KLH menjadi posting yang wow dan juga impact-nya juga yang wow," katanya.
Tantangan Menyampaikan Isu Lingkungan kepada Publik
The Classroom KLH. Foto: dok. Rahmat Khairurizqi/detikcom
Pentingnya penyusunan pesan yang tepat juga menjadi perhatian KLH/BPLH dalam menyampaikan berbagai informasi terkait lingkungan hidup kepada masyarakat.
Kepala Biro Humas KLH/BPLH, Yulia Suryanti mengatakan bahwa penyampaian informasi terkait isu lingkungan harus dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
"Kita melihat isu lingkungan ini kadang-kadang kan memang harus disampaikan secara tepat, valid, dan juga tidak mislead. Jadi karena itulah komunikasi itu harus kita rancang untuk dapat diterima oleh publik, memang valid dan intinya tidak menjadi miskomunikasi. Sehingga masyarakat juga paham isu lingkungan hidup itu seperti apa dan juga dapat membantu KLH untuk menjaga lingkungan hidup, jadi itu sebetulnya inti utamanya," kata Yulia.
Ia menyoroti adanya perbedaan tingkat pemahaman masyarakat terhadap isu lingkungan hidup yang menjadi tantangan dalam penyampaian informasi.
"Tantangannya sebenarnya kalau dibilang berbeda level pemahaman, ya, tentang lingkungan hidup. Ada yang memang paham sekali, yang selalu mengikuti, misalnya seperti LSM lingkungan. Tapi mungkin juga ada masyarakat awam di mana mereka juga tidak terbiasa dengan isu-isu lingkungan," ujarnya.
"Misalnya tadi, istilah gas rumah kaca. Tidak semua orang tahu gas rumah kaca itu apa, tapi semua orang sebenarnya terkena, terkena isu tersebut, terkena dampaknya," sambungnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat KLH perlu menyusun komunikasi yang lebih sederhana agar mudah dipahami masyarakat tanpa mengurangi akurasi informasi.
"Jadi hal-hal seperti itu yang menjadi tantangan kami, sehingga komunikasi yang perlu disampaikan oleh KLH juga harus tepat, tepat sasaran, dan juga tepat istilahnya, sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat. Mungkin itu tantangannya," jelas Yulia.
"Karena kadang kita juga terlalu teknis. Nah, masyarakat kan nggak perlu yang teknis-teknis ya, yang perlu adalah bagaimana sih kondisi lingkungan kita, bagaimana masyarakat juga bisa berperan, nah di situ tantangannya," lanjutnya.
Ia berharap peserta dapat mengolah informasi teknis menjadi narasi yang lebih sederhana tanpa menghilangkan substansi.
"Nah, ini kami harapkan peserta di sini juga dapat belajar bagaimana sih menyampaikan isu yang menurut masyarakat terlalu ribet, terlalu complicated, menjadi bahasa atau narasi yang sederhana, yang mudah dipahami tapi tentu saja tidak mislead, tidak miss komunikasi," kata Yulia.
Peserta Dapat Perspektif Baru dari The Classroom KLH
The Classroom KLH. Foto: dok. Gilang Faturahman/detikcom
Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat citra institusi dan menjalin hubungan dengan publik. Sejumlah peserta mengaku memperoleh perspektif baru yang dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari, khususnya dalam pengelolaan konten dan komunikasi publik.
Kelompok 1 berhasil keluar sebagai juara pertama dalam rangkaian kegiatan The Classroom KLH. Perwakilan kelompok sekaligus peserta terbaik, Rury, mengaku tidak menyangka berhasil meraih penghargaan tersebut. Menurutnya, keaktifan selama diskusi dan seluruh rangkaian kegiatan menjadi salah satu faktor yang membantu kelompoknya tampil maksimal.
"Kemudian ya aktif aja selama diskusi, selama kegiatan yang dilakukan oleh kelas seluruh mendetik. Kita berusaha lebih aktif, sehingga sampai sekarang," ujarnya.
Peserta lainnya, Ratu Salma Al Khairiyah, menilai materi yang disampaikan selama pelatihan sangat relevan dengan tugasnya dalam memproduksi konten. Ia mengaku mendapatkan banyak masukan, mulai dari proses perencanaan, pengambilan gambar, hingga penyuntingan konten.
"Jadi sebenarnya ketiga materi itu relevan banget. Mungkin yang masih baru banget tuh, mungkin yang materi pertama kali ya, karena kami nggak bikin press release. Cuma untuk materi kedua dan ketiga itu relevan banget, apalagi untuk saya pribadi emang dari proses awal tag konten, dari konsep, record, sampai editing, itu emang dari saya juga," katanya.
Sementara itu, peserta lainnya, Aulia Rahman, mengaku materi mengenai videografi dan penyuntingan video menjadi bagian yang paling bermanfaat untuk mendukung program edukasi yang sedang dijalankan di instansinya.
"Kalau untuk sekarang sih yang paling terawal itu yang bagian editing video ya, dan pengambilan video. Karena kebetulan sekarang di kantor tuh ada program KIE untuk komunikasi, informasi, dan edukasi ke masyarakat terkait bagaimana mengolah sampah," katanya.
Menurut Aulia, materi serupa perlu terus dikembangkan dengan pembahasan yang lebih teknis agar dapat semakin membantu peserta dalam menjalankan tugas komunikasi publik di lingkungan kerja masing-masing.
Sebagai informasi, Kelompok 1 berhasil meraih juara pertama dan memperoleh hadiah sebesar Rp2 juta. Sementara itu, Kelompok 4 keluar sebagai juara kedua dengan hadiah Rp1,5 juta, sedangkan Kelompok 2 meraih juara ketiga dan mendapatkan hadiah Rp1 juta.
The Classroom KLH sendiri merupakan program pelatihan yang diselenggarakan KLH/BPLH bersama detikcom guna memperkuat kapasitas komunikasi publik peserta melalui materi jurnalistik, produksi konten kreatif, hingga strategi branding dan pengelolaan media sosial di era digital.
(prf/ega)


















































