Jakarta -
Rangkaian kegiatan The Classroom Batch 2 masih berlanjut di hari ketiga pada 2 Juli 2026 di Wisma PGN Diklat Megamendung Bogor, Jawa Barat. Kali ini, para peserta yang terdiri dari tim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendalami keterampilan menulis berita yang relevan di era digital.
Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan menyampaikan melalui kegiatan ini, insan KLH/BPLH didorong untuk belajar dan membuka wawasan terhadap perkembangan komunikasi di luar institusi.
"Ada istilah jangan menjadi katak dalam tempurung. Artinya, kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang ada di rumah kita sendiri. Kita perlu terus belajar dan mencari tahu sejauh mana perkembangan yang terjadi di luar KLH/BPLH," ujar Romi kepada detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya, teman-teman detikcom sebagai representasi media digital sangat cukup strategis untuk memberikan gambaran bahwa kecepatan dalam proses penyampaian berita, penyampaian informasi, penyampaian pengelolaan informasi publik bisa menjadi hal yang sangat strategis," imbuhnya.
Asah Penulisan Jurnalistik di Era Digital
Foto: Inkana Putri/detikcom
The Classroom Batch 2 hari ketiga menghadirkan sesi NewsCraft+ bersama Redaktur Pelaksana detikFinance, Angga Aliya ZRF. Melalui materi bertajuk 'Jurnalistik di Era Click, Swipe & Scroll', Angga membagikan teknik dasar reportase hingga penulisan berita yang menarik di era digital saat ini.
Angga menyampaikan media massa terus mengalami evolusi dari masa ke masa seiring perkembangan teknologi dan perubahan perilaku audiens. Jika sebelumnya informasi didominasi oleh media cetak, kini lanskap komunikasi berkembang ke media online dan semakin meluas melalui media sosial.
"Kalau misalkan kita ambil dari awal 1900-an dan ke belakang, koran itu mendominasi. Kemudian, evolusi ini bergeser dengan hadirnya media online. Dan yang terbaru adalah media sosial," paparnya.
Evolusi ini juga mendorong perkembangan dalam penulisan berita dari yang awalnya editor-driven menjadi audience driven.
"Perubahan yang sangat terasa adalah dulu editor menentukan berita yang bagus. Jadi, mereka menentukan mana yang harus ditaruh halaman belakang, mana yang bisa naik. Editor sangat-sangat berkuasa. Namun sekarang, adalah audience-driven, yakni menulis apa yang diinginkan oleh pembaca," paparnya.
"Pasalnya, ada perubahan cara publik mencari informasi. Kini audiens tidak lagi mencari berita, namun disuguhi berita dari algoritma. Hal ini menjadikan bubble informasi terbentuk sesuai algoritma personal," jelasnya.
Menyikapi kondisi ini, Angga menekankan pentingnya kemampuan menulis berita yang mampu menarik perhatian audiens tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik. Dalam menulis berita, tim KLH/BPLH dapat berpegang pada unsur 5W+1H dan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Kemudian, berita harus mengutamakan informasi yang paling penting serta didukung oleh data dan fakta yang kuat.
Pada sesi ini, Angga juga membagikan tips dalam menghadapi krisis yang berpotensi mengancam kegiatan operasional atau bisnis perusahaan, serta merusak reputasi perusahaan/lembaga.
"Karena terkadang pada saat krisis, humas harus bisa bergerak cepat, apalagi di era digital. Jika kita lambat sedikit atau akurasinya terasa sedikit itu akan jadi masalah. Jadi, krisis ini penanganannya memang agak berbeda harus ada teknik dan-timing khususnya," katanya.
Di akhir sesi, para peserta juga ditantang untuk merombak berita dengan angle baru dan menarik, tentunya dengan menerapkan materi yang telah diberikan.
"Kami juga melakukan praktek. Jadi, teman-teman diminta merombak berita yang sudah ada, dirombak dengan angle baru yang kira-kira lebih bisa diterima oleh pembaca," ucapnya.
"Harapannya, teman-teman KLH/BPLH bisa lebih paham soal isu-isu yang memang diinginkan oleh masyarakat. Apa isu-isu yang memang menjadi perhatian media dan tentunya masyarakat. Dan mungkin materi yang diberikan bisa diimplementasikan supaya bisa menghasilkan sebuah karya yang lebih baik dan tepat sasaran," sambungnya.
Antusiasme Para Peserta
Foto: Inkana Putri/detikcom
Selama tiga hari pelaksanaan The Classroom Batch 2, antusiasme peserta terlihat dalam setiap sesi pelatihan yang diberikan. Salah satu peserta, Zeezilia Yusuf mengungkapkan kegiatan tersebut memberikan banyak pengetahuan baru, mulai dari pembuatan konten, penulisan berita, hingga strategi membangun branding.
"Selama tiga hari ini teman-teman dari batch 2 ini sangat antusias mengikuti acara The Classroom ini. Kita bisa belajar bikin konten, membuat berita, hingga bagaimana cara branding," katanya.
"Selama mendapatkan materi dari rekan-rekan detikcom, kita juga bisa mendapatkan informasi lebih jelas, kemudian mendapatkan insight-insight yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya," imbuhnya.
Senada, Danang Budi Santoso yang juga menjadi peserta terbaik The Classroom Batch 2 mengaku memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman baru selama mengikuti pelatihan.
Ia mengapresiasi kepada para narasumber yang telah membagikan ilmu serta pengalaman yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di era digital.
"Terima kasih kepada The Classroom by detikcom dan narasumber yang telat memberikan ilmu bermanfaat. Banyak sekali ilmu teori dan praktek yang bisa kami serap selama kegiatan berlangsung. Semoga bisa kami terapkan di kantor kami dan satuan kerja," pungkasnya.
Sebagai informasi, The Classroom Batch 2 merupakan kegiatan pengembangan kapasitas komunikasi yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama detikcom.
Kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai unit eselon II di KLH/BPLH yang membidangi pengendalian lingkungan hidup, pengelolaan ekosistem, perubahan iklim, persampahan, serta fungsi pendukung lainnya.
Sebelumnya, KLH/BPLH juga telah menggelar The Classroom Batch 1 pada 17-19 Juni 2026, yang diikuti 32 peserta dari unit Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal) yang berasal dari wilayah Sumatera, dan Kalimantan.
(akd/ega)















































