Jakarta -
Studi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap sumber polusi udara di wilayah Jabodetabek tidak berasal dari satu sektor maupun satu daerah. Berdasarkan hasil kajian, sektor industri dan transportasi menjadi kontributor utama terhadap polusi udara.
ViriyaENB menggandeng ITB guna memetakan sumber pencemaran udara sekaligus mengidentifikasi sektor yang berkontribusi terhadap tingginya polusi di Jabodetabek.
Guru Besar Teknik Lingkungan ITB, Prof. Ir. Puji Lestari, mengatakan studi tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi sumber pencemaran udara melalui dua pendekatan, yaitu inventarisasi emisi dan source apportionment.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah melakukan pemantauan selama satu tahun, yaitu pada tahun 2025. Termasuk yang terbaru karena dilakukan dari Februari sampai Desember 2025. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, kita bisa mengidentifikasi sumbernya apa dan berapa persen kontribusinya melalui source apportionment," ujar Prof. Puji di The Westin Jakarta, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Selama periode pemantauan, analisis sampel PM2.5 yang dikumpulkan di Jakarta Barat menunjukkan rata-rata konsentrasi PM 2.5 sebesar 34,1 μg/m³. Nilai ini jauh melebihi baku mutu PM 2.5 tahunan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (sebesar 15 μg/m3) dan US-EPA (9 μg/m3), atau sekitar 6,8 kali nilai pedoman tahunan World Health Organization (sebesar 5 μg/m3).
Sektor transportasi menjadi sumber dominan di Jakarta dan sejumlah kota penyangga. Sektor industri menjadi sumber dominan di Kabupaten Bogor dan Kota Tangerang. Sementara itu, pembangkit listrik menjadi sumber dominan di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.
Di sektor transportasi di Jakarta, sumber emisi juga berbeda menurut jenis kendaraan, dengan kendaraan berbahan bakar diesel menyumbang emisi PM2.5 tertinggi. Truk berkontribusi terhadap 34,96% emisi PM2.5, disusul oleh mobil penumpang diesel sebesar 21,21%. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian polusi udara dari sektor transportasi perlu diarahkan pada sumber dan polutan yang paling relevan, bukan hanya pada jumlah kendaraan.
Pengendalian kendaraan diesel dan armada berat perlu diperkuat, bersamaan dengan percepatan kendaraan yang lebih bersih serta transportasi publik yang lebih baik dan rendah emisi.
"Jadi, kalau di Jabodetabek, sektor industri merupakan penyumbang pertama, kemudian transportasi, baru pembangkit. Ini berbeda dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, sektor transportasi merupakan yang paling besar, kemudian industri, dan baru pembangkit. Jadi, terdapat perbedaan antara profil sumber di Jabodetabek secara keseluruhan dengan Jakarta," ujar Prof. Puji.
Southeast Asia Director ITDP, Gonggomtua Sitanggang, menambahkan pengendalian emisi dari sektor transportasi perlu dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari memperkuat transportasi publik hingga mendorong masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Menurutnya, penguatan transportasi publik di Jabodetabek tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur. Integrasi juga perlu mencakup layanan, tarif, operator, hingga kelembagaan karena mobilitas masyarakat dan polusi udara tidak mengenal batas administrasi.
"Polusi tidak mengenal batas administrasi, transportasi juga tidak mengenal batas administrasi. Maka dari itu, diperlukan integrasi kelembagaan untuk transportasi juga," kata Gonggomtua.
Oleh karena itu, pemerintah harus bisa meningkatkan kenyamanan layanan agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
Simak Video 'Bukan Cuma ISPA, Polusi Udara Bisa Picu Risiko Stroke-Kematian Dini':
(ega/ega)

















































