Siswi SMA di NTT Dibanting Guru, Komisi X DPR Dorong Sanksi Tegas

3 hours ago 4

Jakarta -

Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian menyoroti insiden siswi berinisial SMN (16) di salah satu SMA negeri di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), dibanting oleh gurunya, Vince Aplugi, hingga pingsan. Lalu mengatakan peristiwa tersebut menunjukkan masih belum optimalnya penguatan karakter hingga pengawasan terhadap pendidik.

"Kasus kekerasan dalam proses belajar mengajar di sekolah, di mana pun terjadi, termasuk di NTT, tentu sangat memprihatinkan. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa penguatan karakter, kompetensi pedagogik, serta pengawasan terhadap pendidik masih belum optimal," kata Lalu kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).

Lalu mengingatkan jika Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah memiliki pedoman melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Dia mendorong agar regulasi tersebut dilaksanakan secara konsisten dan sungguh-sungguh di seluruh satuan pendidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selain itu, kami mendorong penegakan sanksi yang tegas, pendampingan bagi korban, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan guru agar peristiwa serupa tidak terus berulang," ujarnya.

Menurut dia, proses belajar mengajar harus dilalukan dengan cara yang beradab. Dia mengatakan hal itu merupakan fondasi utama pendidikan.

"Pada prinsipnya, mengajar dengan cara yang baik dan beradab adalah fondasi utama pendidikan. Guru yang mampu membangun komunikasi yang sehat dengan peserta didik akan menciptakan rasa aman dalam proses belajar, serta menerapkan pendekatan disiplin positif, bukan kekerasan," tuturnya.

"Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan mendidik, bukan tempat terjadinya kekerasan," imbuh dia.

Sebelumnya, siswi berinisial SMN (16) di salah satu SMA negeri di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), dibanting oleh gurunya, Vince Aplugi, hingga pingsan. Polisi menyebut korban dibanting karena tak bisa menggambar neuron atau sel saraf.

"Terlapor menganiaya korban dengan menggunakan botol yang berisikan air mineral serta menarik rambut dan membanting korban di kursi hingga pingsan dan merasa sakit di bagian kepala dan merasa pusing," ujar Kasat Reskrim Polres Belu AKP Rachmat Hidayat, dilansir detikBali, Rabu (25/2).

Insiden itu terjadi pada Selasa (24/2), sekitar pukul 12.00 Wita, saat korban sedang mengikuti ujian mata pelajaran biologi di dalam kelas. Dalam ujian itu, ada soal yang jawabannya harus menggambar sel saraf, namun korban bersama teman-temannya tak bisa menggambar.

(amw/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |