Satwa Liar Jadi Korban Karhutla

4 hours ago 4

Jakarta -

Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak hanya mengancam keselamatan manusia. Satwa liar yang berada di sekitar kawasan terbakar juga ikut terdesak dan kehilangan habitatnya.

Dalam sekitar dua bulan terakhir, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit menerima sejumlah laporan terkait kemunculan satwa liar di kawasan terdampak karhutla. Dari penanganan tersebut, sedikitnya lima orang utan diselamatkan termasuk induk dan anak, serta seekor tenggiling.

Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya menerima lima laporan terkait kemunculan orang utan di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Cempaga, Mentaya Hilir Utara, dan Mentawa Baru Ketapang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekitar dua bulan ini kami mendapat lima laporan. Saat kami mendapat laporan dan ke lokasi, namun saat itu tidak ditemukan orang utan yang dimaksud," ujar Muriansyah, Kamis (3/9/2026).

Salah satu penyelamatan berlangsung di Desa Bangkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Tim BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun bersama Orangutan Foundation International (OFI) mengevakuasi dua individu orang utan, yakni induk dan anak.

"Keduanya ditemukan berada di atas pohon setelah lahan gambut di sekitarnya terbakar. Kondisi tersebut membuat orang utan terjebak di tengah habitat yang telah mengalami gangguan akibat kobaran api," katanya.

Selain orang utan, seekor tenggiling juga diselamatkan. Satwa dilindungi tersebut ditemukan warga di kawasan Bumi Raya 1 dan kemudian diserahkan kepada BKSDA melalui komunitas Reptil Sampit sekitar sepekan lalu.

"Seminggu kemarin kami mendapat penyerahan satu ekor tenggiling dari komunitas Reptil Sampit yang saat itu berhasil menyelamatkan satu ekor trenggiling di Bumi Raya 1," katanya.

11 Orang Utan Dievakuasi

Di Kabupaten Kutai Kartenegara, Kalimantan Timur, sebanyak 11 orang utan dievakuasi dari sekolah hutan Jejak Pulang di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja. Semua orang utan dievakuasi setelah status darurat diaktifkan saat api karhutla mulai merambat mendekati sekolah hutan.

Head of Orangutan Care Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, mengatakan sekolah hutan menjadi tempat rehabilitasi orang utan yatim piatu sebelum nantinya kembali ke habitat. Sekolah hutan tersebut berada di dalam KHDTK seluas sekitar 3.517,53 hektare.

"Jejak Pulang fokus pada rehabilitasi orang utan yatim piatu. Pusat rehabilitasi kami berada di kawasan hutan KHDTK. Luas KHDTK sekitar 3.5 hektare, sedangkan area yang digunakan sebagai sekolah hutan sekitar 130 hektare," ujar Siti, dilansir detikKalimantan, Kamis (3/9/2026).

Siti mengatakan ancaman kebakaran membuat tim Departemen Orang Utan langsung mengaktifkan status darurat. Seluruh penjaga orang utan kemudian diperintahkan membawa satwa yang berada di sekolah hutan menuju lokasi aman.

Hal senada juga dikatakan Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto. Ari menyebut keputusan mengevakuasi 11 orang utan diambil setelah melihat ancaman karhutla di sekitar pusat rehabilitasi. Ia menuturkan, evakuasi menjadi pilihan paling tepat saat kondisi kebakaran mengancam kawasan.

"(Betul) dievakuasi. Berdasarkan hasil kesepakatan bersama, langkah itu merupakan pilihan yang menurut saya paling tepat, menyangkut kesejahteraan satwa, keselamatan satwa dan lain sebagainya. Terutama juga terkait dengan perkembangan rehabilitasi yang sudah berlangsung," jelasnya.

Orang Utan Sempurna Mati Usai Ditemukan Sesak Napas

Sementara itu, seekor orang utan jantan dewasa bernama Sempurna mati setelah ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Satwa tersebut diduga terdampak paparan asap karhutla.

Sempurna ditemukan warga di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.

Kepala Balai KSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane menyampaikan duka cita atas kematian Sempurna. Dia juga mengapresiasi warga yang telah melaporkan keberadaan orangutan tersebut sehingga dapat segera ditangani.

"Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa," kata Murlan dalam keterangan yang diterima detikKalimantan, Kamis (3/9/2026).

Saat ditemukan, orang utan tersebut berada di dalam parit kering di area perkebunan kelapa sawit milik warga. Kondisinya sangat lemah hingga tidak mampu berdiri dan hanya dapat bergerak secara terbatas.

"Sempurna juga mengalami kesulitan bernapas," ucap Murlan.

Masyarakat kemudian melaporkan temuan tersebut kepada petugas. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) langsung melakukan evakuasi.

Tim memberikan pertolongan pertama berupa terapi oksigen dan cairan melalui intravena sebelum membawa Sempurna ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB.

Namun, kondisi Sempurna terus memburuk. Sekitar pukul 14.00 WIB, napas Sempurna semakin dangkal. Saturasi oksigennya juga tidak terdeteksi. Tim kemudian melakukan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

"Upaya penyelamatan tersebut tidak berhasil. Sempurna dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB," ujar Murlan.

Saksikan informasi selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Jumat (4/9/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"

(vrs/vrs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |