Jakarta -
Tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, kini akan ditangani dengan cara berbeda. Pemerintah mulai membangun fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan mengolah sampah menjadi energi listrik.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan, (Zulhas) mengatakan pengolahan sampah menjadi energi listrik menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menangani persoalan sampah di sejumlah daerah.
Adapun Bantargebang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kondisi timbunan sampahnya. Zulhas menyebut sejumlah daerah saat ini sudah masuk kategori darurat sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengelolaan sampah menjadi energi listrik ini. Nah, tapi itu semua baru yang darurat ini. Seperti Bantargebang ini, Kota Bekasi ini darurat. Di Tangerang itu juga darurat, Bali juga darurat. Tumpukannya sudah sampai 60 meter tingginya," kata Zulhas beberapa waktu lalu.
Pembangunan PSEL Kota Bekasi di Bantargebang memiliki nilai investasi sekitar Rp 3 triliun. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 70% timbunan sampah terolah di Kota Bekasi. Proyek ini ditargetkan rampung pada akhir 2027 atau awal 2028, sebelum mulai beroperasi pada pertengahan 2028.
Proyek ini juga melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dari sisi energi, PSEL Bekasi ditargetkan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan sekitar 55 ribu rumah di Kota Bekasi.
Namun, teknologi pengolahan saja dinilai belum cukup. Pegiat dan pemerhati lingkungan, Sony Teguh Trilaksono mengatakan keberhasilan PSEL juga membutuhkan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
"Yang bisa dikelola dengan energi itu adalah sampah yang berkaitan dengan anorganik. Yaitu sampah yang berkalori tinggi. Nah, sekarang yang dilakukan PSEL adalah mencoba untuk melakukan solusi yang dilakukan negara-negara lain untuk pengolahan sampah anorganik," ujar Sony.
Ia menilai, pembangunan PSEL merupakan salah satu program yang baik. Meski begitu, kebiasaan memilah sampah masih menjadi tantangan karena belum semua masyarakat terbiasa melakukannya.
"Saya kira ini salah satu program yang bagus, tapi kuncinya harus dikontrol. Karena bagaimanapun masyarakat belum terbiasa berbudaya untuk memilah sampah. Nah, tantangan kita yaitu bagaimana caranya kita semuanya memilah sampah dengan cara edukasi serutin mungkin. Kuncinya gitu, pemilahan sampah," lanjutnya.
Warga Bantargebang Sambut PSEL
Bagi warga yang tinggal di sekitar Bantargebang, kehadiran PSEL menjadi harapan baru untuk mengurangi persoalan tumpukan sampah yang selama ini mereka hadapi.
Sejumlah warga Ciketing Udik pun menyambut baik pembangunan fasilitas tersebut. Meski begitu, pengetahuan mereka mengenai pemanfaatan sampah menjadi energi listrik masih beragam.
Abdul Bashitt, warga Ciketing Udik, misalnya, mengaku baru mengetahui bahwa sampah dapur dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik.
"Sebelumnya belum, baru sekarang baru dengar," kata Abdul.
Sementara Aninian, seorang pedagang, sudah mengetahui informasi mengenai pengolahan sampah menjadi energi listrik.
"Itu udah tahu, saya udah tahu, udah dapat kabar," ujarnya.
Hal serupa disampaikan Menta Abdul Hakim. Warga Ciketing Udik itu mengatakan dirinya sudah sedikit banyak mengetahui pemanfaatan sampah menjadi energi.
"Oh sebenarnya sih sedikit banyaknya udah ngerti gitu, udah tahu ya," katanya.
Bagi Abdul, kehadiran PSEL dapat membantu mengatasi persoalan timbunan sampah di Bantargebang yang selama ini belum kunjung selesai.
"Untuk sekarang mah membantu banget. Karena ada pembangunan begini mah membantu untuk menyelesaikan masalah sampah yang ada, udah menjadi gunung dan juga sampai sekarang belum ada selesainya. Mungkin kalau ada yang begini mungkin selesai gitu," tuturnya.
Menta juga melihat PSEL sebagai salah satu upaya untuk mengurangi timbunan sampah di Bantargebang.
"Kalau menurut saya pribadi sangat membantu ya buat mengurangi tumpukan sampah, timbunan sampah yang ada di Bantargebang saat ini," ujarnya.
Bukan hanya soal mengurangi tumpukan sampah, kehadiran PSEL juga dilihat sebagai upaya untuk menjaga lingkungan. Allula Azraq, siswa SMP 31 Kota Bekasi, pun menyambut baik program tersebut.
"Menurut saya program ini baik Kak, karena bisa menjaga lingkungan tetap asri dan indah, Kak," katanya.
Warga Siap Pilah Sampah dari Rumah
Dukungan terhadap PSEL juga diikuti kesadaran bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan fasilitas pengolahan. Warga juga perlu mengambil bagian dengan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Sony bahwa pemilahan sampah menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan sampah. Edukasi yang dilakukan secara rutin dinilai penting agar kebiasaan tersebut bisa terbentuk di masyarakat.
Allula mengatakan dirinya siap berkomitmen mendukung program tersebut.
"Oh saya berkomitmen Kak untuk program ini," ujarnya.
Aninian juga menyatakan kesiapan yang sama.
"Ya kalau saya sih siap berkomitmen aja, saya sih," katanya.
Menurut Menta, masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah berdasarkan jenisnya.
"Harusnya sih komitmen buat memilah dan memilih organik dan non-organik," tuturnya.
Abdul pun menilai komitmen masyarakat menjadi bagian penting agar upaya pengelolaan sampah bisa berjalan.
"Harus komitmen. Sekarang kalau umpamanya enggak komitmen mah ya mau gimana, gitu," kata Abdul.
PSEL di Bantargebang pun diharapkan tidak hanya membantu mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan masyarakat. Bagi warga sekitar, memilah sampah dari rumah menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk ikut mendukung upaya tersebut.
(prf/ega)


















































