Pantau 3 Pekan Terakhir, Satgas Saber Pastikan Harga Pangan Stabil-Stok Aman

6 hours ago 1
Jakarta -

Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Pangan Nasional terus melakukan pengawasan ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok. Langkah itu guna memastikan ketersediaan pangan aman menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tahun 2026, mulai dari Imlek, Ramadan, Nyepi, hingga Idul Fitri.

Dalam kurun waktu tiga pekan terakhir, terhitung sejak 5 Februari - 25 Februari 2026, Satgas Saber Pangan Pusat mencatat telah melakukan 28.270 kegiatan pemantauan secara intensif di seluruh Indonesia. Langkah masif ini diklaim berhasil menjaga stabilitas pasokan dan harga di tengah masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemantauan yang masif dan tindak lanjut di lapangan terbukti mampu menekan harga beberapa komoditas pangan utama," kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Bapanas RI, I Gusti Ketut Astawa melalui keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).

Berdasarkan data Posko Pusat Satgas Saber Pangan, intensitas pengawasan terus menunjukkan tren peningkatan setiap minggunya. Pada minggu ketiga (19-25 Februari 2026), tercatat ada 9.644 laporan kegiatan, naik 1,62 persen dibanding minggu kedua yang mencapai 9.490 laporan, dan minggu pertama sebanyak 9.138 laporan.

Rata-rata kegiatan pemantauan harian pada minggu ketiga mencapai 1.378 laporan per haru, juga mengalami kenaikan dibanding minggu sebelumnya. Secara geografis, lima provinsi dengan aktivitas pemantauan tertinggi adalah Jawa Barat (3.578 laporan), disusul Kalimantan Selatan (2.388), Riau (2.224), Jawa Tengah (2.081), dan DKI Jakarta (1.622).

Fokus pemantauan didominasi pada tingkat pedagang atau pengecer dengan 18.864 titik, diikuti ritel modern 4.413 titik, serta grosir 2.804 titik. Sisanya menyasar distributor, produsen, dan agen.

Ketut mengungkapkan kehadiran petugas di lapangan berdampak langsung pada penurunan harga sejumlah komoditas strategis. "Seperti beras premium dan medium di Zona I dan II, cabai merah keriting, telur ayam ras, bawang putih, serta daging ayam ras," rincinya.

Selain komoditas tersebut, penurunan harga juga terjadi pada daging sapi segar, cabai merah besar, dan minyak goreng merek Minyakita. Meski demikian, Ketut mengakui masih ada disparitas harga di wilayah Indonesia Timur dan Daerah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terpencil/Terluar, Perbatasan). Di mana beberapa komoditas seperti beras premium Zona III, bawang merah, dan gula konsumsi masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP), namun trennya mulai menurun.

Satgas juga menemukan Minyakita sebagai komoditas yang paling banyak dilaporkan masyarakat melalui hotline pengaduan dan adanya factor cuaca yang mempengaruhi hasil produksi cabai di wilayah sentra produksi.

Guna menangani temuan tersebut, satgas melalui Bapanas telah melakukan upaya stabilisasi pasokan dan harga cabai rawit merah dengan menyalurkan cabai dari wilayah sentra produksi ke Pasar Induk Kramat Jati. Sementara untuk Minyakita, Satgas turun langsung mengecek rantai pasok dari produsen hingga pengecer guna memastikan harga sesuai HET Rp 15.700.

"Kami akan mendorong Perum Bulog dan BUMN Pangan yang mendapat distribusi 35 persen DMO (Domestic Market Obligation) untuk segera mengintervensi wilayah-wilayah yang harganya masih di atas HET," tuturnya.

Di sisi penegakan hukum, Kabareskrim Polri Komjen Syahardiantono menegaskan komitmennya dalam menindak tegas pelanggaran pidana pangan.

Selama tiga pekan operasi, Satgas telah menerbitkan 350 surat teguran. Kemudian melakukan koordinasi pengisian stok kosong sebanyak 898 kali, serta memberikan rekomendasi pencabutan izin usaha dan izin edar produk yang melanggar aturan.

"Apabila ditemukan indikasi pelanggaran seperti penimbunan, manipulasi distribusi, atau praktik curang lainnya, Satgas tidak akan segan-segan menindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegas Syahardiantono.

Lihat juga Video: Bareskrim Sita 201 Ton Beras Oplosan

(ond/isa)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |