Nikahi Gadis Desa, 2 WNA Puji Cepatnya Layanan KUA Sedan

5 hours ago 5

Jakarta -

Warga negara Australia Eamonn Liam Gunning menyampaikan kesan positif saat mengurus proses pernikahan di KUA Sedan pada Agustus 2026. Pria asal Negeri Kangguru tersebut resmi menikahi Maudya Anindia Natasya, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Sedan.

Eamonn mengaku sempat khawatir proses administrasi pernikahan akan membutuhkan waktu lama karena masa cuti kerjanya di Indonesia terbatas. Namun, kekhawatiran tersebut terjawab setelah mendapatkan pelayanan dari KUA Sedan.

"Saya mempunyai waktu cuti yang terbatas. Awalnya saya khawatir prosesnya akan lama, tetapi ternyata pelayanan KUA sangat cepat. Dalam satu hari, semua proses yang kami perlukan sudah selesai," ungkap Eamonn dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maudya juga mengapresiasi pelayanan KUA Sedan yang menurutnya tetap memberikan kemudahan meskipun dirinya menikah dengan warga negara asing. Kemudahan serta kejelasan informasi tersebut dirasakannya secara langsung selama mengurus seluruh tahapan administrasi.

"Pelayanannya sangat membantu dan tidak dipersulit. Kami mendapatkan arahan dengan jelas sehingga prosesnya bisa berjalan dengan lancar," tutur Maudya.

Selain itu, kesan positif juga dirasakan Lu Wei, pria WNA asal Tiongkok, Min Amrina Rosada yang menikahi gadis asal Desa Sambong, Kecamatan Sedan pada Selasa (8/9) di KUA Sedan. Sebelum menikah, Lu Wei dan Amrina mengikuti Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri yang diselenggarakan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sedan.

Keikutsertaan Lu Wei dalam kegiatan Bimwin menjadi perhatian tersendiri akibat keterbatasan bahasa. Warga negara Tiongkok tersebut tetap antusias menyimak materi lewat bantuan aplikasi penerjemah sebagai bekal penting menghadapi pernikahan beda budaya.

"Saya merasa belajar sebelum menikah itu penting. Karena kami berbeda budaya, saya ingin belajar lebih jauh tentang bagaimana membangun keluarga, berkomunikasi, dan saling memahami. Terimakasih telah mangatur sejumlah staf untuk memperkenalkan bimbingan perkawinan ini. Materinya sangat berguna bagi saya tentang cara mengatur keuangan, psikologi keluarga dan banyak lagi" ungkap Lu Wei.

Lu Wei juga mengaku senang bisa menyukseskan program Ekoteologi Kemenag. Usai akad nikah yang diadakan di rumah Amrina, Lu Wei ikut menanam bibit pohon di halaman rumah.

"Assalamualaikum, bismillah kami tanam bibit pohon ini, semoga bermanfaat," kata Lu Wei disambung Amrina.

Aksi Lu Wei tersebut dilakukan guna menyukseskan program Ekoteologi Sehati (Sedan Hijau Bersama Calon Pengantin). KUA kecamatan Sedan memang mengimbau kepada catin agar menanam bibit pohon di hari pernikahan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan alam.

Kepala KUA Kecamatan Sedan, Muhamad Mukhlisin, menilai program SEHATI makin menarik lantaran pasangan pengantin warga negara asing turut menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Pihaknya berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan baik yang menyatukan rasa cinta kepada pasangan dan alam.

"SEHATI menjadi hal yang menarik karena pasangan WNA juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Kami ingin SEHATI tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial bagi calon pengantin, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan baik dalam membangun kehidupan berkeluarga. Hal ini menunjukkan bahwa cinta kepada pasangan dan kepedulian kepada lingkungan bisa berjalan bersama," ungkap Mukhlisin.

Program Ekoteologi kini digencarkan oleh 14 KUA yang tersebar di wilayah Kabupaten Rembang. Seluruh calon pengantin terdaftar diimbau menanam bibit pohon, bahkan sebagian di antaranya menjadikan tanaman tersebut sebagai mahar pernikahan.

Kasi Bimas Islam Kemenag Rembang, Sarip mengatakan, dari program ini, sebanyak 386 bibit pohon telah ditanam oleh catin di 14 Kecamatan. Jumlah ini terhitung sejak semester 2 hingga 30 Agustus 2026.

"Program ini akan terus kami gencarkan kepada catin. Alhamdulillah mereka menyambut dengan antusias. Mereka buat videonya dan mereka upload di medsos masing-masing. Ini menjadi edukasi yang sangat bagus kepada masyarakat luas, termasuk kepada generasi Z," papar Sarip.

Pelayanan bagi pasangan Lu Wei-Min Amrina Rosada dan Eamonn Liam Gunning-Maudya Anindia Natasya menjadi bukti nyata transformasi lembaga tersebut. Hal ini menegaskan bahwa KUA tidak hanya hadir mengurus administrasi pernikahan semata.

"Kami juga hadir untuk memberikan edukasi, pendampingan, dan pelayanan yang adaptif terhadap keberagaman masyarakat," pungkas Mukhlisin.

(akd/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |