Mensos Sebut 31 Ribu Warga Mengungsi Imbas Gempa M 7 di NTT

6 days ago 14

Jakarta -

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengatakan lebih dari 31 ribu orang mengungsi imbas bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi pada 15 Agustus lalu. Makanan cepat saji, perlengkapan pengungsian, hingga pakaian untuk anak-anak menjadi kebutuhan utama saat ini.

"Per hari ini telah disampaikan sebelumnya ada 70 orang meninggal dunia, 665 orang luka-luka. Sekarang masih dalam proses asesmen karena ada yang luka berat, ada yang luka sedang, dan ada yang luka ringan. Ada 31 ribu lebih orang yang mengungsi dan ada 16 ribu KK terdampak," kata Gus Ipul, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saifullah menyebut sebanyak sembilan kota dan kabupaten di tiga provinsi terdampak gempa bermagnitudo 7,7 di NTT. Bantuan terus disalurkan ke sejumlah titik untuk menangani korban terdampak bencana.

"Sebagaimana diketahui bahwa dampak gempa pada tanggal 15 Agustus itu ada 3 provinsi terdampak, 9 kabupaten terdampak, dan 1 kota terdampak. (Rinciannya) 6 (wilayah) berada di NTT, 2 berada di Provinsi Sulawesi Selatan, dan 1 di Provinsi Nusa Tenggara Barat," kata Saifullah.

"Tentu semua kementerian dan lembaga, termasuk TNI-Polri, telah bekerja sama dengan pemerintah daerah, sekaligus juga mendapatkan arahan langsung dari Bapak Presiden, yang pertama-tama tentu melakukan evakuasi, kemudian memberikan dukungan logistik, termasuk yang dibuat, diselenggarakan oleh Kementerian Sosial," imbuhnya.

Wakil Mensos Agus Jabo mengatakan pakaian hingga perlengkapan bayi menjadi kebutuhan penting bagi para pengungsi. Hal ini diungkap usai mengunjungi langsung salah satu lokasi terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, NTT.

"Jadi yang dibutuhkan di sana sekarang ini adalah kebutuhan-kebutuhan tanggap darurat, ya. Terutama permakanan, kemudian perlengkapan pengungsian, ada tenda, kemudian pakaian, selimut, termasuk pakaian ibu-ibu, pakaian anak-anak," kata Agus Jabo.

"Termasuk kemudian memastikan bahwa jalur, jalan-jalan yang ada di titik-titik bencana itu dipastikan kemudian berfungsi kembali, karena tanah longsor, banyak batu, gitu. Kemudian itu juga segera ditindaklanjuti oleh Kementerian PU. Kemudian jaringan listrik, jaringan sinyal," lanjutnya.

Agus Jabo mengatakan perbaikan jalur diperlukan untuk memobilisasi bantuan dan relawan untuk menjangkau pengungsi mandiri dan berada di lokasi terisolasi.

"Kenapa dibutuhkan mobilisasi relawan yang banyak, baik itu dari TNI-Polri, dari tim SAR, dari Tagana, ataupun tim-tim yang lain? Karena ada tiga titik pengungsi," kata Agus.

"Yang pertama adalah pengungsi yang terkonsentrasi di selter-selter, kemudian pengungsi mandiri, yang ketiga ini yang masih terus diidentifikasi korban-korban di daerah-daerah yang terisolir. Mudah-mudahan segera teridentifikasi," imbuhnya.

(sol/azh)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |