Kolaborasi RSI dan USU Dorong Penguatan Kelembagaan Petani Sawit

6 hours ago 4

loading...

Ketum RSI Kacuk Sumarto saat Diskusi Uji Publik bertajuk Kemitraan Petani-Perusahaan Dalam Membangun Petani Yang Handal dan Kompetitif, Melalui Intensifikasi Lahan dan Industrialisasi di USU, Medan, Selasa (15/9/2026). Foto/Dok. SindoNews

MEDAN - Penguatan kemitraan antara perusahaan dan petani kelapa sawit sebagai kunci utama membangun sumber daya manusia pertanian yang handal dan kompetitif. Hal tersebut mengemuka dalam acara Diskusi Uji Publik bertajuk “Kemitraan Petani-Perusahaan Dalam Membangun Petani Yang Handal dan Kompetitif, Melalui Intensifikasi Lahan dan Industrialisasi” di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Selasa (15/9/2026).

Dalam pemaparannya, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) , Kacuk Sumarto menyoroti keberadaan beleid atau regulasi terkait petani sawit yang saat ini dinilai masih serba lemah di berbagai aspek mendasar. Kendala utama yang dihadapi petani meliputi masalah legalitas seperti izin usaha dan status lahan, kelembagaan yang belum kokoh, dan keterbatasan visi dan misi bisnis. Baca juga: Naik Kelas, Petani Sawit Tak Cukup Andalkan Pengalaman

Selanjutnya status daya dukung lahan yang mayoritas milik negara, hingga akses finansial serta dana revitalisasi yang minim. “Kondisi mendasar ini menuntut adanya langkah strategis mendasar agar keberadaan petani swadaya dapat terangkat posisinya secara rasional dan berkelanjutan,” kata Kacuk.

Guna mengatasi hambatan tersebut, RSI merumuskan tahapan integratif dalam membangun perjuangan kemitraan, yang dimulai dari tahap persiapan. Pada fase ini, pembenahan legalitas berupa penyelesaian status lahan, izin usaha, dan alas hak menjadi prioritas utama.

“Langkah ini harus beriringan dengan konsolidasi kelembagaan petani bersama pemerintah daerah dan dinas koperasi, penyiapan master plan serta roadmap bisnis, formulasi pola kemitraan yang adil, pembangunan struktur organisasi, kesiapan pendanaan, studi antropologi sosial, hingga penyiapan core energy berbasis komunitas,” ujarnya.

Setelah pondasi awal terbentuk, strategi dilanjutkan ke tahap Pembangunan kelembagaan dan pola bisnis kemitraan penuh. Pada fase ini, aspek peningkatan kapasitas (capacity building) difokuskan pada penguatan soft skill, hard skill, serta personality skill para petani.

Selain penyiapan kebun baru dan sarana prasarana, penguatan diarahkan pada penyiapan usaha integratif berbasis ekonomi sirkular dan pembenahan administrasi dan sistem monitoring-evaluasi (monev). Kemudian penyerapan seluruh hasil panen, digitalisasi tata kelola, serta penerapan sertifikasi keberlanjutan.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |