Inspektur Jenderal Pentagon Akhirnya Akui AS Kekurangan Amunisi akibat Perang Iran

5 hours ago 3

loading...

Marinir AS yang ditugaskan ke Unit Ekspedisi Marinir ke-11 melakukan latihan tembak malam hari di atas kapal USS Boxer. Foto/X @CENTCOM

WASHINGTON - Inspektur Jenderal Departemen Perang (Pentagon) akhirnya mengakui bahwa Amerika Serikat (AS) kekurangan amunisi sebagai imbas dari perang melawan Iran. Pengakuan ini muncul dalam laporan pertamanya mengenai perang tersebut pada hari Senin.

Laporan tersebut menyebut konflik telah menyebabkan kekurangan amunisi AS serta munculnya “bottleneck” atau hambatan dalam rantai pasokan ketika pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya mengisi kembali persediaan persenjataan.

Baca Juga: Pertama Kali Dibuka, Rekaman Video Tunjukkan Kehadiran Pasukan Darat AS di Iran

“Untuk mengatasi berbagai kendala ini, Pentagon bekerja untuk menyederhanakan proses pengadaan dan memperpendek waktu produksi, serta menimbun bahan-bahan penting, komponen, dan jenis amunisi tertentu agar dapat merespons secara cepat ketika terjadi keadaan darurat," bunyi laporan tersebut, yang dilansir NBC News, Selasa (15/9/2026).

Menteri Perang Pete Hegseth sebelumnya membantah laporan yang menyebut AS mulai kehabisan amunisi.

Presiden Donald Trump juga mengatakan pada Senin melalui Truth Social, "AS memproduksi lebih banyak senjata Eksotis dan Elite dibandingkan kapan pun dalam sejarah kami. Senjata-senjata tersebut dikirim setiap hari kepada pasukan kami di Timur Tengah dan wilayah lainnya.”

Dua pekan sebelumnya, Trump mengatakan: "AS memiliki amunisi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas” dan mengecam laporan mengenai kekurangan amunisi.

Laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang disusun atas mandat Kongres tersebut mencakup periode sejak dimulainya perang pada 28 Februari hingga 30 Juni. Ini merupakan salah satu laporan publik pertama dari lembaga pemerintah AS yang memerinci biaya, cakupan dan skala konflik yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran, termasuk dampaknya terhadap militer AS, Departemen Luar Negeri dan sejumlah lembaga lainnya.

Laporan tersebut muncul setelah adanya pemberitaan mengenai merosotnya moral pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah, menipisnya persediaan sejumlah amunisi penting, serta kerusakan besar terhadap aset militer dan intelijen Amerika di kawasan tersebut.

Iran Serang Pusat Logistik Angkatan Laut AS

Salah satu temuan penting laporan itu adalah konfirmasi pemerintah AS untuk pertama kalinya bahwa Iran menargetkan pusat logistik utama Angkatan Laut AS di kawasan Timur Tengah, yang berada di Bahrain, menggunakan drone dan rudal balistik.

Pentagon belum segera memberikan tanggapan ketika dimintai komentar mengenai laporan tersebut.

Laporan itu tidak membahas dugaan serangan AS terhadap sebuah sekolah dasar (SD) di Iran pada jam-jam awal perang. Militer AS hingga kini belum merilis hasil investigasi internal mengenai pengeboman tersebut. NBC News melaporkan pada Juni bahwa penyelidikan itu sedang dalam tahap finalisasi.

Laporan Inspektur Jenderal Pentagon merinci kerusakan terhadap peralatan militer, pesawat dan berbagai perlengkapan lainnya selama empat bulan pertama perang, termasuk kehancuran sedikitnya 30 drone besar milik AS.

Perang melawan Iran dilaporkan telah menelan biaya sekitar USD33,4 miliar.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |